
97 Tahun Banjar Adat Wiryasari Amlapura Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, KEMBANGKAN SEKEHE SENI KECAK-JANGER TUMPANG, TAMBUR, GENDER, DAN REJANG SARI
Penulis, I Komang Pasek Antara
KARANGASEM (CAHAYAMASNEWS.COM)=Hari Selasa, 28 Oktober 2025 kemarin menjadikan kenangan tonggak sejarah monumental bagi sebuah komunitas adat di Bali yaitu Banjar Adat Wiryasari (BWS) Amlapura. Betapa tidak, BWS yang balai banjarnya ada di Jalan Gajahmada Amlapura, Lingkungan Kodok Darsana, Kelurahan Karangasem, bersebelahan dengan Pura Puseh Desa Adat Karangasem, lahir tanggal 28 Oktober 1928 lalu kini telah berusia 97 tahun bersamaan dengan perjalanan kelahiran dan bangkitnya pemuda Indonesia yaitu Hari Sumpah Pemuda.
Memperingati hari bersejarah, BWS yang tiga tahun lagi akan genap berusia 100 tahun (seabad) menyambut dengan kegiatan sangat sederhana meliputi persembahyangan bersama krama banjar di Pura Patokan banjar setempat bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Selasa (28/10/2025) sore dipimpin Jero Mangku Komang Pasek Antara. Juga dilanjutkan dengan tiup lilin dan potong kue HUT Banjar oleh Keliang I Made Arnawa, diiringi lagu kenangan para lelangit leluhur banjar gending janger menggantikan lagu nasional HUT, dinyanyikan secara koor oleh krama banjar yang hadir saat itu.

Krama BWS saat ini berjumlah 96 KK, sangat mensakralkan angka 28 sebagai simbol yang dihormati oleh krama banjar, karena bilangan angka 28 bertepatan dengan tanggal dan tahun kelahiran banjar. Karena itu, waktu pesangkepan rutin setiap bulan tidak menggunakan hari-hari tertentu seperti umumnya banjar-banjar lainnya di Bali, melainkan berpedoman pada angka 28 sehingga pesangkepan banjar sejak awal terbentuk 28 Oktober 1928 tetap dilaksanakan setiap tanggal 28.
Dihadapan para krama banjar, I Made Arnawa, purnawirawan Polri yang juga di Desa Adat Karangasem dipercaya menjabat Keliang Baga Pelemahan, mengharapkan, momen HUT banjar tgl 28 Oktober 2025 adalah kebangkitan seni budaya banjar, semua sorpa (anggota banjar) sebagai generasi penerus mencintai seni budaya, karena lewat seni menemukan keheningan dan kesadaran jiwa.
BWS era zaman kerajaan penjajahan Belanda dulu sangat dikenal akan sekehe seni budayanya, karena memeliki sekehe “Kecak–Janger Tumpang” sangat kesohor di Bali pada masanya sampai pernah tampil di Kota Makasar, Sulawesi Selatan tahun 1937 sebelum kemerdekaan atas pasilitasi Raja Karangasem saat itu.
Penjelasan I Made Arnawa dari orang tuanya I Komang Kenden (alm) yang saat itu ikut sebagai penari kecak ke Makasar, semua penari diangkut dangan kapal laut Belanda menyebrangi samudera luas. Sungguh tidak terbayangkan betapa klasiknya perjalanan artis-artis kecak-janger menyebrangi laut lepas hingga berhari-hari di laut.
“Lelangit Banjar memang luar biasa tangguh. Dan untuk mengenang serta menghormati kebesaran dan jasa-jasa para lelangit, maka setiap HUT banjar gending kecak-janger selalu setia mengumandangkan menghiasi acara”, tambah Arnawa.

Sayang kini “Kecak–Janger Tumpang” itu telah punah ditelan bumi, tidak ada lagi generasi yang mau melanjutkan. Pernah kurun waktu tahun 1970-an seni tersebut diaktifkan kembali melalui anak-anak siswa SDN 6 Karangasem, Kelurahan Karangasem, Jalan Ngurah Rai Amlapura, dan muda-mudi BWS tahun 1991 di bawah pelatih yang juga pelaku kecak tampil di Makasar, I Komang Osek (alm).
Meski kini “Kecak-Janger Tumpang tidak aktif lagi, BWS dibawah binaan keliang I Made Arnawa sejak beberapa tahun lalu telah mengembangkan seni budaya Bali membentuk sekehe Tambur, Gender Dasa, dan Rejang Sari. Terakhir Tambur dan Rejang Sari pentas ngayah di Pura Desa Adat Karangasem pada upacara yang digelar 10 tahun sekali Usaba Kampuh pada Purnama Kapat (6/10/2025) lalu. Khusus “Kecak-Janger Tumpang” menurut Arnawa kedepan akan dibentuk dibangkitkan kembali mencari peserta dari anggota banjar.
“Pembentukan seni budaya ini bukanlah untuk komersil namun untuk ngayah melengkapi wewalen tatkala ada upacara Dewa Yadnya di banjar atau kahyangan Desa Adat Karangasem”, tutup Arnawa. @@@ CMN.









Facebook Comments