
NI Ketut Suarni, S.Pd., MM., Kepala Sekolah Berprestasi, Figur Ibu Motivator Inspiratif
Penulis I Komang Pasek Antara
AMLAPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Memperlakukan anak seperti sahabat, merangkul, mendengarkan, memotivasi saat alami kesulitan. Itulah gambaran kepedulian dan kepekaan hati nurani kasih sayang yang inspiratif sosok seorang ibu guru Ni Ketut Suarni, SPd., MM., kepada anak didiknya sendiri di sekolah seperti memperlakukan buah hati biologisnya. Momentum Hari Ibu, tanggal 22 Desember memberikan vibrasi postif bagi kaum ibu lainya.
Figur Seorang Ibu
Berpredikat kepala sekolah berprestasi tingkat Kabupaten Karangasem tahun 2017 lalu masih melekat mengharuskan Ni Ketut Suarni tak pernah surut terus mendayung harapan membawa masa depan anak didiknya.
80 ℅ Anak Didik Keluarga Kurang Mampu
Seorang pendidik dan tugas tambahannya sebagai Kepala SDN 3 Karangasem, Jalan Ponegoro Amlapura, Kelurahan Karangasem ini, Suarni, Kelahiran Desa Pesangkan, Kecamatan Selat, Karangasem ini, konsen dengan sentuhan naluri keibuan selalu memperhatikan anak didiknya yang di dera rmasalah akademis, kebutuhan khusus maupun ekonomi keluarga. Kata dia, 80℅ anak didiknya berjumlah 77 orang keluarga ekonomi kurang mampu.
Gerakan sosial nyata alumnus S-1 IKIP PGRI Denpasar tahun 2008 dan S-2 STIE Mahardika Surabaya tahun 2010 itu, dilakukan bersama rekan guru lainnya blusukan langsung kunjungan berkala ke rumah-rumah tempat tinggal si anak dan bertemu orang tua atau keluarga.

Teteskan Air Mata Pilu Dengarkan Cerita Anak
Seperti penuturan Suarni, sangat miris dengar cerita kondisi keluarga anak didiknya. Terkadang tangis air matanya meneted memeluk dengar cerita pengakuan sang anak sangat memilukan hati. Beberapa rekaman video potongan wawancara langsung kepada anak didiknya dan kerap diposting di media sosial akun Ketut Suarni. Dari postingan itu sudah ada pihak yang peduli bersimpati ulurkan tangan membantu anak yang membutuhkan.
Ancaman Kurang Mengenakan untuk Selamatkan Anak
Beraneka masalah ditemuinya dari anak kebutuhan khusus, anak malas sekolah, ekonomi kurang mampu, rumah tidak layak huni, kedua orang tua pisah cerai dan tinggal dengan orang lain, anak telantar, kurang perhatian orang tua terhadap pendidikan anak, bahkan sampai ancaman kurang mengenakan dari orang tua anak didiknya pernah dirasakan kepadanya ketika harus berjuang selamatkan anak.
Namun figur Suarni telah 39 tahun mengabdi sebagai guru dan kerap berpindah-pindah tugas dari sekolah ke sekolah lain banyak merasakan asam garam menjadikan dirinya kuat menghadapi tuntutan dan tantangan menjadi guru sekaligus ibu dari anak didik. Mantan atlet voli putri Kabupaten Karangasem pada ajang Pekan Olahraga Provinsi Bali, dan aktiv pada beberapa organisasi sosial ini, tidak pernah surut membina anak seperti perjuangannya bertanding di lapangan voli melawan rivalnya.
Strategi yang dilakukannya untuk memyelamatkan anak didik yang tertimpa berbagai kasus agar terus bersekolah sesuai haknya, Suarni bersinergi melibatkan pihak lain diantaranya keamanan Babinkamtibmas, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), dan Kepala Lingkungan. Hal hasil katanya Suarni berhasil. Diantaranya orang tua anak yang mengancam kriminal dirinya dan rekan-rekan guru pengajar lainnya meminta maaf dan tanda tangani surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan. “Sekarang anak itu rajin sekolah, rajin bantu orang tua di rumah, badannya bersih mandi dan sikat gigi, dan bisa membaca dengan lancar karena dibuatkan kelas khusus, bahkan orang tuanya sudah semakin berlaku sopan, ” ujar Suarni.

Terbitkan 3 Buah Buku
Dari pengalaman getir dilalui hampir 4 dasawarsa sebagai guru, Suarni melahirkan guratan pena dan olah pikir kedalam 3 buah buku. Buku judul “Menantang Fajar di Pantai Seraya” terbit Januari 2018 mengisahkan catatan perjalanan pengalaman pribadinya ketika kena mutasi pindah tugas di Sekolah Dasar sebuah desa di Desa Seraya paling ujung timur pulau Bali dikenal tanah kering bebatuan. Katanya Suarni, “bagi sebagian orang pindah ke desa kering adalah buangan, justru dari tanah kering bebatuan itu, saya dapat pengalaman berharga mengunjungi bebrapa derah lain di Indonesia ikut pendidikan dan latihan program dari pemerintah.
Buku lainnya ditulis terbit Pebruari 2019 judul “Menuju Guru Profesional”. Keibukannya sebagai kepala sekolah dan organisasi lainnya, dia tuangkan dalam bentuk sastra buku kumpulan puisi terbit Nopember 2018. Tutur Suarni, lucu, “ada anak didi sering tidak sekolah, ditengok pagi hari ke rumahnya, didapatkan anak masih tidur pulas di kamar kemudian dibangunkan dari tidur. Kata orang tuanya, anak main HP (hand phoen) semalam suntuk”.
Harapan Suarni dari postingan-postingan di media sosial rekaman video petikan wawancara langsung kepada anak yang menjadi perhatian khusus, agar para guru atau psikolog yang pernah mempunyai anak didik berkebutuhan khusus autis memberikan masukan saran cara menangani anak itu.
Postingan video murid keluarga kurang mampu, dirinya mengharapkan perhatian khusus dari orang tuanya pada anak-anak mereka, paling tidak menanyakan keadaannya, sudah makan apa belum, sudah belajar apa belum, bagaimana kondisinya di sekolah. Contoh anak didiknya Ni Ketut Ayu Pratiwi Pebriyanti, siswi kelas II sempat viral di media sosial, bangun pukul 05.00 pagi sebelum berangkat ke sekolah menjajakan jualan sate keliling di Pasar Amlapura.
Akunya Suarni, tidak menutupi keberadaan anak didiknya di sekolah, masih banyak membutuhkan kepedulian uluran tangan berbagai aspek dari pihak lain. Juga dirinya akan berusaha mohon bantuan kepada Yayasan Yasa Kerti Amlapura tinggal di asrama bersama anak didik lainnya bila ada anak keluarga ekonomi kurang mampu.
Memupuk Toleransi Umat Beragama
Yang tak kalah membanggakan bagi diri Suarni, jelang purna tugas genap usianya 60 tahun hitungan mingguan lagi 5 Januari 2026 mendatang, ibu dari 2 orang anak dan 3 cucu, suami I Made Mendra, SH, terus memupuk toleransi antarumat beragama anak didik dan guru di sekolahnya sagat tinggi. Tampak ketika ada perayaan keagamaan agama Hindu dan Islam saling meberikan bingkisan panganan. Juga bila ada teman-temannya sakit dirawat di rumah sakit saling jenguk. @@@ CMN.









Facebook Comments