
“AURA KASIH”
“SIWA RATRI: RENUNGAN MEMAKNAI DRAMA PANGGUNG ASURA”
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu, 17 Januari 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Tampil dan memanggung memang identitas dunia pendramaan. Suara keras beretorika serta ekspresi penjiwaan atraksi menjadi suatu kebutuhan tersendiri. Tetapi yang namanya drama adalah refleksi kehidupan yang bernarasi filosofis edukatif baik dan buruk dalam dinamika kehidupan sepanjang waktu. Drama yang sesungguhnya merupakan upaya merefleksikan perjalanan hidup dalam kehidupan yang bernilai edukatif. Pesan politik kekuasaan penjajah secara tersembunyi, dikonstruksi menjadi narasi pembodohan yang seolah-olah benar. Benar bagi penjajah penderitaan bagi rakyat.
Konstrusi perjodohan antara keluarga misanan, politik genetika menciptakan generasi mbalelo, syarat kehidupan sosial yang menghimpit, politik pecah belah dan lainnya. Membuka ragam rahasia dan merahasiakan dalam suasana etis dan normatif. Akibat dari semua itu, drama bermakna sebagai tontonan yang bernilai estetik, menjadi “tuntunan” yang bernilai moral, refleksi sikap kritis, etika dan sopan santun. Melalui drama itu, masyarakat memperoleh tuntunan yang menghibur, walaupun juga tak sadar tersugesti nilai pembodohan. Lalu esok hari saat bekerja keseharian bersama-sama, dibicarakan sebagai apresiasi yang mengantarkan nilai-nilai yang mereka resapi.
Saat ini drama panggung tak lagi ditonton bersama-sama, tetapi telah lebur mendramatisasi. Mana drama panggung, mana kehidupan yang sesungguhnya, kabur tak berbatas. Apa yang mengaburkan?, jawabannya kembali kepada persepsi masing-masing, dalam ranah hak asasi. Apabila dimaknai dari sudut pandang “kebenaran”, nampaknya jelas terlihat yaitu, lemahnya keyakinan yang mengkondisikan kejujuran dalam arti luas. Mengakibatkan dramatisasi menjadi semarak. Memasuki dan menguasai mentalitas, lalu berpikir dan berprilaku liar tak tentu arah.
Saat ini drama dapat juga berperan sebagai kritik sosial, tak lagi ditonton dipanggung formal, tetapi larut dalam kehidupan sosial. Amat sulit membedakan mana narasi ilusif mana kebenaran. Kecerdasan memainkan atau menutupi kepalsuan dan kemunafikan, menjadi keunggulan logis yang dilogiskan. Kecerdasan kreatif membungkus, mengelabui, merefleksikan berpengetahuan tingkat tinggi berteknologi canggih. Hingga kebenaran semakin kabur terkondisi ruang ilusif bayang-bayang, menjadi janji-janji propokatif yang terus menjalar. Membesar lalu menggunung menjadi keangkuhan yang menutupi vibrasi suci kebenaran. Demikian pula Gunung Windya yang terus meninggi, lalu dinasehati oleh Rsi Agastya agar tak meninggikan dirinya lagi, agar tak menghalangi putaran sinar matahari. Lalu dia menunduk menghormat kepada Rsi Agastya, menunggu hingga kembali lagi ke bagian Utara dunia. Tetapi Rsi Agastya tak kembali, hingga saat ini, hingga Guning Windya tetap menunduk. Pesan moral ini patut direnungi dan dimaknai hingga Kuasa Suci-Nya melebur ego itu kembali pada keselarasan harmoni.
Panggung drama para asura penjajah, selalu bersaing merebut pengaruh atau menabur awan gelap meresapi jiwa-jiwa manusia. Ekspresi panggungnya adalah perdebatan demi perdebatan. Teknologi canggih mewahanai, lalu menyebar nilai, los edukasi kesantunan publik. Berkedok kebebasan ekspresi, berlindung pada hak asasi, bertopeng demokrasi.
Persoalan besar inilah yang berdinamika diantara hak kebajikan dan hak penghancuran moralitas pembiadaban, ditengah-tengah peradaban panjang penyempurnaan harkat martabat manusia secara luas. Memahami posisi dan aksi kebajikan dharma di ruang masing-masing merupakan hak asasi yang memberi kepada dunia. Persoalan esensial nan vital inilah, sedang menerobos bangkit dan bergerak, untuk menembus mencapai pencerahan yang dibutuhkan insan-insan duniawi. Itu artinya kesadaran menembus ketidak sadaran menemukan kehidupan yang sejati, menjadi “drama” yang berenergi “dharma” menyempurnakan kehidupan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments