February 6, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“CAMPUHAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Minggu, 25 Januari 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=“Campuhan” merupakan pertemuan dan pertautan dari dua unsur sifat-sifat yang berbeda, yang  berlawanan, menjadi keselarasan harmoni, menuju tujuan yang sama. Bagaikan pertemuan dua alur sungai atau lebih, lebur menjadi satu kesatuan. Bersatu padu menyelaras, berjalan terus dan berhenti menggenangi sawah, selokan, kolam, umbul dan seterusnya, sambil melayani ciptan-Nya. Lalu menuju lautan samudra luas, “dilebur” hingga berubah dari air tawar menjadi rasa asin yang sama. Saat itu pula terjadi proses “Campuhan” atau pertemuan, memperoleh peleburan menjadi penyamaan rasa. Lalu bersama-sama memelihara kehidupan di samudra luas.

Semua bentuk kekotoran duniawi yang meresapi air, hingga berubah menjadi bersih dan hening. Seperti itu “kuasa penyempurna lautan samudra luas”. Kebenaran sifat-sifat lautan samudra luas ini, bagi spiritual Hindu dimaknai sebagai sifat peleburan tertinggi yaitu; penyucian dari sifat kuasa-Nya Yang Maha Suci yang membumi mengejawantah.

Memaknai sistem kerja alam semesta, untuk mencapai kebenaran yang berguna inilah “perjuangan”, di dunia material (Karma Kanda) dan perjuangan di dunia spiritual (karma  Jnana) sepanjang ayat. Jiwa-jiwa yang tersentuh sifat-sifat penyempurna adalah jiwa-jiwa berpengetahuan Ilahi, menyelaras harmoni yang mendamaikan. Sangat berbeda dengan jiwa-jiwa yang mengukuhkan kecerdasan diri sendiri, lalu  merendahkan, menyalahkan dan menghina orang lain. Amat sulit menyelaras, ingin diikuti saja, walaupun telah menunjukkan suatu kebenaran ajaran, tetapi belum merasakan kebenarannya. Akibatnya tak bervibrasi suci meneduhkan. Karena yang dikatakan bukan pengalaman spiritualnya tetapi pengalaman orang-orang suci yang mengalami, lalu diusung oleh persepsi-persepsinya saja. Akhirnya banyak pendapat tak mendapatkan rasa kebenaran yang sesungguhnya yang menyentuh kalbu mendamaikan itu.

Waspadalah gelora persepsi cerdas yang tak berjiwa Ilahi itu, sedang menguasai panggung, bagaikan awan, memainkan perannya menutupi sinar matahari. Walaupun sesaat bisa menang, karena didukung kekuasaan politik tertentu, tak akan pernah berumur panjang. Membebaskan diri dari ikatan keangkuhan hawa napsu dan ego yang sedang memuncak di jaman Kaliyuga ini, adalah upaya sadar mengenal dan memaknai hidup, bercermin dari sifat-sifat lautan samudra luas itu sendiri. Bukan hanya berebut membuat hotel, villa, dan tempat-tempat hiburan hanya untuk kenimatan duniawi sesaat, hingga sadar tak sadar mengotori lautan dengan limbah-limbah material, dan limbah-limbah hawa napsu yang berkembang terus. Menjadi beban sosial dan spiritual yang terus menerus meluber.

Kesadaran memahami dan memaknai serta berupaya terus menerus, menembus esensi dinamika semesta ini, merupakan “proses penyempurna”. Itu artinya kehidupan ini dimaknai sebagai proses penyempurnaan mencapai, kebenaran, kebijaksanaan dan pembebasan abadi.

Dinamika adalah “Kurusetra” menjadi “ksetrajna”. Artinya ruang perhelatan nilai-nilai dualitas dalam ragam wujud dan dimensinya yang amat sulit dipahami serta dikendalikan. Oleh karena itu mesti ditembus dengan kecerdasan sikap prilaku yang tertuntun pengetahuan suci, dan Guru yang berwenang. Lalu  menjadi doa-doa rohani dan prilaku kebajikan yang tulus ikhlas.

Sadar sepenuhnya melayani dharma kewajiban kepada Sang Penegak Dharma, menjadi misi suci yang tak pernah padam. Menyimak dinamika realitas itu, betapa luasnya nilai-nilai yang mesti di “campuh”-kan atau disatu padukan agar mencapai “kemenangan”. Berdimensi vertikal, antara murid dengan Guru, dan dengan Tuhan, sebagai Sat Guru. Berdimensi hirisontal, menyelaras menyatu harmoni dengan masyarakat dalam ruang terbatas, lalu berinteraksi lebih meluas. Saat itulah jiwa-jiwa besar insan-insan duniawi menampakkan dirinya, hingga disebut “Mahaatma”. Artinya jiwa-jiwa yang besar mampu memberi sesuatu yang berguna kepada jaman, karena hidup pada jamannya.

Merefleksikan nilai-nilai kebenaran itu, orang-orang suci dalam upaya menyempurnakan diri, menggunakan paduan dua sungai atau lebih (“Campuhan”), sebagai tempat edukasi kontemplasi spiritual merenungi sifat-sifat Kuasa-Nya di bumi menuju sifat Kuasa-Nya Yang Maha Suci. Hingga saat ini artefak-artefak spiritual itu, diyakini bervibrasi suci, yang digunakan sebagai tempat ritual keagamaan. Entahlah sampai kapan Sang Waktu memberikan restu kepada insan-insan duniawi, terpanggil menteladani kebenaran “prilaku keluhuran” itu, meresapi esensinya, untuk kesejahteraan yang mendamaikan diri di dunia material saat ini.

Bukan hanya membiarkan kekaguman historik, lalu mengaburkan esensi, menjadi tempat perhelatan material duniawi yang semakin menggiurkan, terus berebut, lalu lupa segalanya. Esensi nilai yang berganti pembungkus meriah, menjadi prestasi kebanggaan di ranah sosial. Belum meresapi nilai-nilai tersembunyi yang diajarkan yang patut diresapi, untuk mewujudkan edukasi penyempurnaan diri. Ketika itulah sesungguhnya restu dan berkat-Nya mengalir. Guna melanjutkan cita-cita luhur-Nya, yang sejahtera dan damai. Saat itu “Campuhan” antara nilai-nilai terpendam, dibangkitkan oleh sentuhan energi suci puja menghidupkan prilaku pengabdian yang sesungguhnya. Saat itulah restu nilai-nilai keluhuran, terjadi kepada insan-insan yang teredukasi meluhurkan dirinya. Saat itu pula Kuasa Semesta benar-benar dapat dirasakan kebenaran-Nya. Turun meresap, menyatu dan mengangkat menjadi “Campuhan” rasa nikmat membahagiakan. Betapa pentingnya “mengenal diri”, agar bisa memberi dan menyelaras harmoni, hingga berguna bagi masyarakat luas. Menjadi “Campuhan” yang “utuh murni dan suci”, yang dipertahankan dan diperjuangkan sepanjang ayat. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!