February 6, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBAHAGIAAN DUNIAWI RUMAH HARAPAN HIDUP BERSAMA”

Oleh:  I Ketut Murdana (Rebo, 28 Januari 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=”Keunggulan” yang dirasakan benar, sebagai motivasi perjuangan, merupakan narasi-narasi spirit pembangkit semangat. Menyikapi dan memaknai sesuatu, yang dianggap “bernilai kebenaran”. Oleh karena bernilai kebenaran patut dipertahankan dan diperjuangkan untuk mencapai “kemajuan” yang membahagiakan. Dalam upaya mencapai kemajuan yang membahagiakan itu, tentu tak mudah, selalu berhadapan dengan misteri alam semesta yang Maha Benar, yang disebut Maha Kuasa yaitu kebenaran mutlak.

Melalui kuasa-Nya Yang Maha Kasih, pasti akan membina melalui metoda yang amat rahasia, di ruang semesta raya dan di ruang sosial yang beragam karakter. Akhirnya menguji, melalui edukasi, agar mampu menundukkan napsu, ego-ego personal, untuk mewujudkan kemurnian, agar mampu memandang perbedaan sebagai suatu realitas. Setiap masalah patut dipelajari dan dibedah secara esensial serta obyektif. Bukan dimaknai sebagai realitas kabur, tak natural yang berlawanan. Lalu secara subyektif “dianggap” sebagai upaya penghancuran nilai-nilai tertentu.

Dalam kontek itu subyektifitas memandang obyek yang bergerak sebagai lawan yang menghawatirkan. Sesungguhnya secara natural mesti bergerak bersama-sama, karena hakekat semesta bergerak dan ikut menggerakan nilai-nilai kebajikan mencapai kebahagiaan. Bersama bergerak, lalu melihat kebenaran dari nilai-nilai esensial yang diciptakan dan dilahirkan serta ditumbuhkan oleh Alam Semesta. Patut disikapi dan dimaknai oleh insan-insan duniawi, untuk hidup berdampingan yang menyelaras harmoni.

Demikianlah suatu nilai yang tumbuh dan ditumbuhkan pasti memberi sesuatu pada ruangnya masing-masing. Ketika tumbuhan nilai kebenaran itu, mengurung merusak tumbuhan lama, maka saat itulah masalahnya hadir. Proteksi-proteksi bijaksana amat diperlukan, menemukan keselarasan harmoni. Ketika tidak diselaraskan, tetapi sengaja dibenturkan, akibatnya menimbulkan kegaduhan yang menciptakan pathologi sosial yang amat sulit dibenahi. Seperti itulah dunia ego, yang ingin saling menguasai.

Dalam dinamika inilah tunggangan emosional berkedok kebenaran memainkan perannya. Bisa saja berjubah kesucian, berbicara tentang kesucian tetapi tak menyucikan. Karena dibaliknya tersembunyi kegelapan yang meracuni. Agar tak tersentuh racun, maka harus berpihak padanya. Lalu pertanyaan hadir, seperti itulah seharusnya konstruksi kebenaran yang kononberotonomi kebenaran yang patut dipanuti ?. Kewaspadaan mesti hadir sebagai kontrol mewujudkan kecerdasan rohani, agar tak terombang ambing tujuan tertentu yang tersembunyi.

Sebagai kecerdasan logis dan normatif sang pemelihara kebun kebajikan, mesti memahami sebagai realitas yang mesti dipelihara.

Ketika tak terpelihara pasti berkompetisi liar. Lalu menciptakan nilai-nilai tumbuh liar. Lalu tukang kebon pemeliharanya juga bingung. Haruskah tumbuhan yang tumbuh bisa menyejukkan hutan dirabas dengan ego personal yang mengakibatkan banjir emosional, lalu bertengkar saling membenarkan diri. Walaupun teori-teori dan topeng-topeng kebenaran berkumpul dalam istana yang konon berpagar kebijakan untuk “kemenangan tertentu”. Akibatnya saling bermusuhan, mengakibatkan tumbuhan perdu itu bergerak mencari dan menembus gelapnya hutan, menemukan sinar matahari yang mencerahkan kehidupan. Lalu disalah-salahkan, dan dilupakan, tapi ingat dan disanjung saat dibutuhkan.

Pertanyaan terbesarnya adalah, apakah seorang tukang kebun telah menyelamatkan tanaman yang hidup tertutup rimbun pepohonan besar itu?. Apakah hanya untuk dikuasai lalu membiarkan hidup layu tak berkembang?. Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah memerlukan jawaban kata-kata, tetapi renungan yang menyadarkan realitas sosial yang sedang berhadapan dengan berbagai nilai kebenaran, di ruang tak terbatas. Lalu tersentuh menjadi pilihan, yang menyelamatkan. Agar dipilih mesti harus tersaji apik, menarik, terbuka dan berkelanjutan serta pelayanan yang menarik. Ketika sesuatu tertutup, maka akan tertinggal ditengah-tengah budaya instan di era post milelial sekarang ini.

Berkenaan dengan dinamika realitas kini, sajian nilai-nilai kebajikan yang cepat menyentuh, terperangah dan terbukti serta kebenarannya dapat dirasakan. Maka orang akan memilih dan melakoninya. Dogma-dogma sudah saatnya diterjemahkan dalam bahasa etika kesantunan publik, yang selalu ingin menyelaras dalam etika lokal maupun pergaulan dunia. Karena ruang pijak pergaulan saat ini, bukan hanya di ruang kampung saja tetapi sudah menjadi kampung yang mendunia.

Memperjuangkan nilai-nilai kelokalan sangat penting, agar bisa memberi kepada dunia. Dalam suasana terbuka dan selektif meresap memaknai hingga menjadi sikap prilaku yang bermartabat. Bukan suntuk melayani selera bebas para pendatang, lalu mengorbankan norma-norma kesucian berkedok kesejahteraan ekonomi, yang terus bebas tanpa kendali yang sesungguhnya mesti lebih diperhatikan. Buka ikut menguatkan dengan dalih-dalih tertentu saja.

Memperbaiki dan menyempurnakan ke dalam diri, melihat dan berinteraksi ke luar membuka wawasan hingga lentur pleksibel.

Bukan menolak menghancurkan dengan penuh ambisi, los kontrol menghasilkan kesibukan perang yang melelahkan. Akhirnya tak menemukan esensi kebenaran yang membahagiakan. Tetapi sibuk memupuk ambisi kemenangan, yang tak pernah menang. Oleh karena itu menyelaras saling menunduk, bersama-sama saling meresapi dan memaknai nilai-nilai esensialnya. Maka kebenaran akan semakin kuat karena didukung bersama-sama, dikuatkan oleh nilai-nilai kebijaksanaan. Ketika sudah demikian nilai-nilai kedamaian akan meresapi, insan-insan pendukungnya, lalu siap menjaga dan memperjuangkan untuk mencapai kebahagiaan. Itu artinya kebahagiaan duniawi menjadi rumah harapan bersama. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!