
“AURA KASIH”
“CAHAYA ILAHI YANG TERSEMBUNYI”
Oleh: I Ketut Murdana (Minggu, 01 Pebruari 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Era materialistik, bergemuruh berenergi strategi politik Jaman Kaliyuga, mengakibatkan “perebutan” yang “selalu berebut” tak puas-puasnya saling ingin menguasai. Mengakibatkan konflik dan perang tak juga habis-habisnya. Bagaimana arti dan makna kecerdasan yang mendamaikan saat-saat seperti itu. Walaupun slogan damai dan pejuangannya selalu hadir ditengah-tengah situasi seperti itu. Tetapi belum sepenuhnya dapat meredakan konflik dan perang itu sendiri. Berkenaan dengan itu yang berperang atau yang diperangi mesti sadar berhenti, agar tak memperpanjang penderitaan.
Walaupun dibalik itu, banyak yang hidup ditengah konflik dan perang seperti itu. Merupakan strategi managemen pasar teknologi persenjataannya. Lalu berstrategi halus tarik ulur agar kedua belah pihak selalu tergantung. Model penjajahan adu domba seperti inilah era kini, bagi asura-asura yang ingin selalu menang menguasai dunia. Berlebel Adi kuasa atau super power, penuh keangkuhan. Arus politik kekuasaan itu, menggerus nilai-nilai humanisme nan toleran, menjadi insan-insan cerdas bernalar cerdas berkeilmuan dan berteknologi tinggi untuk menguasai. Tidak menempatkan nilai-nilai ketuhanan yang penuh welas asih. Keberadaan itu dianggapnya sebagai “ketidak mampuan” untuk menembus misteri alam semesta. Akibatnya hanya menciptakan kebenaran rasional, logis dan kebanggaan kuasa materialistik.
Akibat dari semua keyakinan itu, pengetahuan suci kebenaran Ilahi, secara kuantitatif kurang mendapat perhatian. Lalu berkehendak hidup bebas, seperti kembali ke jaman primitif, berlabel hak asasi manusia. Akibatnya nilai-nilai etika dan sopan santun, kejujuran dan keadilan semakin redup lemah energi. Menciptakan sikap duniawi yang semakin menggila. Artinya nilai-nilai keadilan yang dijiwai kejujuran terbelenggu pemburaman hawa napsu yang selalu mendobrak tatanan etika kesopanan santunan. Menghilangkan rasa malu menjadi tak tahu malu, walaupun seringkali dipermalukan.
Bukan berubah menjadi tindakan edukatif, tetapi mengkemas dengan cara yang lebih hebat dan canggih hingga semakin sulit dibayangkan. Tetapi ada yang tak bisa diatasi adalah alam menyerang dengan kekuatan dahsyatnya misalnya, panas bumi dinaikkan-Nya hingga manusia seperti terbakar. Angin puting beliung, tsunami darat, tsunami laut, gempa bumi, tanah longsor, tanah bergeser dan lain sebagainya. Tak pernah ada manusia cerdas mampu mengatasi keadaan itu. Kecuali sadar “menghindar” dan memperbaiki akibatnya. Lalu sadar memelihara dan memuja serta mohon pengampunan-Nya. Sadar berbuat baik dan benar, sebagai hakekat hidup di dunia jasmani, sadar berkehidupan rohani yang selalu tunduk dan belajar menyelaras terhadap alam semesta raya.
Tak mudah memasuki atau mengangkat derajat mentalitas dan rohani ke arah itu yang berbasis kemurnian spiritual. Saat-saat seperti itulah pengetahuan suci menerobos menjiwai para abdi-Nya yang “terpilih”. Kebenaran ini amat sulit diketahui oleh kebanyakan orang. Karena tersembunyi sebagai jiwa-jiwa yang mengemban misi suci mendamaikan. Demikianlah gambaran Dewa Shiva yang hadir dalam wujud Sri Hanoman menjadi abdi Sri Rama menegakkan dharma di bumi. Realitasnya kini orang yang benar-benar mengabdi untuk kesejahteraan dan kedamaian dunia, selalu di buli, dihimpit, dihinakan sebagai upaya penghancuran.
Para pembuli penghancur itu, telah dibutakan oleh niat jahatnya yang justru akan menghukumnya. Karena tak mampu melihat dan merasakan kebenaran Ilahi yang tersembunyi di dalamnya, hingga saatnya proses gradasi penghinaan itu sampai pada batas kuantitatif dan waktu-Nya. Hukum semesta ini memang sulit dijangkau logika, karena berada jauh di atas dan kedalamannya. DIa hadir sebagai “energi sukma” yang selalu “memberi” dan “mengaliri” kepada semua insan dan secara “khusus” kepada insan yang “dikehendaki”, sebagai abdi dharma pengemban “misi keadilan”, sebagai hakekat kesemestaan dari kuasa “Yang Maha Adil”.
Rahasia kebenaran ini, amat sulit dibayangkan oleh jiwa asura-asura pembenci keadilan yang mendamaikan. Seperti kisah Rahwana, tak pernah merasa bersalah atas kesalahannya menculik Dewi Sintha. Walaupun Sri Rama berkali-kali menyadarkan dan ingin memaafkan kesalahannya itu. Tetapi tak pernah digubris, justru merasa benar sebagai seorang kesatria yang menguasai pengetahuan suci. Itu artinya pengetahuan suci kebenaran, bukan mengubah prilaku menjadi insan cerdas dan humanis serta religius. Justru menciptakan kekuasaan yang angkuh sewenang-wenang. Semuanya menjadi pembungkus kemurnian hati nurani yang menghancurkan. Saat itulah kehancuran terjadi, menciptakan keseimbangan dan keadilan dunia terjadi.
Saat ini kuasa asura sedang berkecamuk, memerlukan perjuangan dharma bagi insan-insan sadar ke arah kebenaran itu. Keberanian, cerdas spiritual, yakin, semangat dan tulus ikhlas serta selalu terkondisi hubungan suci kepada Yang Maha Kuasa, yang mengalir melalui Guru Sad sebagai pengendali, merupakan modal kesiapan memasuki ruang pelayanan dharma itu sendiri. Ketika kesadaran berkarma telah terkondisi kebenaran itu, maka jalan terang bervibrasi suci menciptakan “kemenangan” demi “kemenangan” yang memberi kedamaian kepada dunia. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments