March 14, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”‘

“SENI KESADARAN ESTETIK DAN KEILMUAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Sabtu, 21 Pebruari 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Seni adalah konfigurasi nilai-nilai, dari intepretasi dan reinterpreyasi menjadi interfenetrasi diantara realitas kasat mata dengan realitas bayang-bayang ilusif, imajinatif nan intuitif. Realitas indrawi dan realitas non indrawi metafis berwujud menjadi realitas baru yang terindrawi. Memformulasi wujud yang “meng-indah-kan” dalam dimensi ruang penghayatan, sebagai ciri utama. Adapula yang menjauhkan realitas duniawi menjadi realitas imajinatif yang dimaknai sebagai kualitas penjelajahan personal senimannya.

Banyak pula yang menyuguhkan suasana penciptaan yang  konstruktif dan dekonstruktif atau penyelerasan keduanya. Perbedaan dan perhelatan dua kutub ekspresi dan penghayatan merupakan realitas mengekspresikan “kebebasan”. Menempatkan proses pergerakan yang “bebas” pada ruang kreatif. Dalam kondisi itulah seni selalu “bebas” lebur meresapi segala unsur. Itu artinya ilusi nan imajinatif yang memformulasi, hadir diruang publik kasat mata. Menciptakan lalu mengajak untuk memasuki renungan baru, menemukan “sesuatu” di dalamnya.

Ragam imajinatif yang memformulasi, bergerak kreatif yang terus menjalar itu, terkadang banyak menimbulkan reaksi dan apresiasi yang membingungkan. Akibat hadir sosok-sosok yang  tidak dimengerti publik. Karena seni memang tak harus dimengerti, walaupun akhirnya bisa dirasakan lalu dimengerti, hingga mampu mengagumi dan menghargai. Realitas ini menempatkan ruang ilusif nan imajinatif memasuki ruang nalar berpikir, melalui ragam wujud membuka realitas dan kesadaran baru.

Ketika itulah tumbuh keilmuan seni yang berupaya menjelajah lalu mencoba menjelaskan “tentang keberadaan seni itu” dari berbagai sudut pandang keilmuan dan daya sajian ungkapnya. Apakah itu Filsafat, Sejarah, Agama, Anthropologi, Sosiologi, Estetika, Psikologi, Semiotoka, Hermeneutika dan lain-lainnya. Saat itu seni dan penciptaan serta konteksnya sebagai obyek kajian, melahirkan pengetahuan seni yang demikian luas dan semakin meluas.

Dalam proses penciptaan itu, terjadi dinamika kreatifitas yang beriplikasi dengan beragam ilmu pengetahuan menjadi ragam wujud yang “memberi” kepada dunia. Oleh karena seni selalu hadir, maka semakin banyak perhatian dibutuhkan. Sebagai sajian dan sebagai obyek kajian ilmu pengetahuan (Satyam), meningkatkan kesadaran dan kepekaan estetik (Sundharam) dalam upaya penyempurnaan diri mencapai kebahagiaan yang mendamaikan (Shivam).

Hentakan emosi kreatif itu dianggap dan dimaknai sebagai ruang dialog, sebagai upaya transformatif pengalaman seniman pencipta kepada apresian publik secara luas. Saat itulah pengetahuan seni nan estetik menjembatani mengantarkan ruang dialog menemukan nilai-nilai tersembunyi, yang semakin lentur.  artinya benda material apapun itu bisa dimediakan mewahanai lalu diperindah oleh seni hingga tersaji indah, menarik perhatian penikmat. Demikian juga insan-insan duniawi selalu mempercantik dirinya.

Diantara kehadiran seni dan keilmuan keduanya saling melengkapi, kekurangan bahasa kata untuk mengungkap misteri penciptaan, dilengkapi suguhan misteri emosional  lewat dinamika ekspresi yang terindrawi, garis, warna dan gerak wujud ekspresi. Menjadi resapan dan rekaman rasa estetik yang bisa menggetarkan kalbu. lalu secara keilmuan mencintai sepenuh hati karya itu sendiri. Saat itulah karya seni itu dirasakan sebagai dirinya sendiri. Walaupun itu hanyalah sekedar letupan emosional, tetapi menjadi simpati dan empati yang luar biasa.

Saat itulah sesungguhnya energi estetik secara penuh mengisinya, hingga berpacaran di dalam diri dan bervibrasi keluar menemukan pecintanya sendiri. Saat itulah esensi penciptaan seni menemukan “kenikmatan” yang “membahagiakan”. Bacaan naluri dan narasi ilusif nan imajinatif itu, memerlukan kontemplasi internal dan eksternal dalam pemahaman subyektif dan obyektif mengejawantahkan nilai yang membuka dan membangun. Memupuk menyegarkan gaerah hidup seni itu sendiri. Menjadi pemelihara penyemangat tumbuh dan kualitas harapan menyajikan peradaban unggul yang beridentitas mendunia.

Berkenaan dengan konfigurasi keberadaan yang beridentitas itu, seni memerlukan hidup berenergi segar. Sebagai reaksi aktif dan konstruktif dari insan-insan duniawi, agar hidup lebih humanis, berkesadaran estetik membahagiakan menjadikan hidup lebih bermartabat. Ketika sudah demikian kualitas dan martabat penciptaan bersatu padu dengan keabadian seni, mensejarah dalam kehidupan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

 

Facebook Comments

error: Content is protected !!