April 20, 2026
News

Bupati Bangli Bersama Wagub Cok Ace Hadiri Bhakti Pepranian di Pura Ulun Danu Batur

BANGLI (CAHAYAMASNEWS). Sebagai kelanjutan rangkaian dari Karya Pujawali Ngusaba Kedasa, Icaka 1944 di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Bangli, masyarakat Desa Pakraman Batur, Selasa (29/03/2022) walaupun diguyur hujan, namun tetap tumpah ruang ngaturang Bhakti Pepranian. Acara yang dipusatkan diareal madya mandala Pura Ulun Danu Batur, diikuti oleh ratusan krama (masyarakat) setempat.

Bhakti Pepranian ini juga dihadiri Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati,Bupati Bangli  Sang Nyoman Sedana Arta, Kapores Bangli AKBP I Dewa Agung Roy Marantika. Perwakilan Dandim 1626 Bangli,Ketua MDA Provinsi Bali, Ketua PHDI Bali, Ketua DPRD Bangli I Ketut Swastika dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Bangli. Meski diwarnai hujan deras disertai angin kencang acara tetap berlangsung hingga  berakhir pukul 17.00.

Manggala karya, Jro Gede Batur Duhuran didampingi Jero Gede Batur Alitan  menjelaskan, Bhakti Pepranian bertujuan sebagai wujud syukur sekaligus permohonan maaf ke hadapan Ida Bhatara, bilamana selama Ida Bhatara nyejer, ada kekurangan yang tidak sengaja diperbuat.

“Sebagai manusia, tentu kita tidak bisa lepas dari kesalahan. Apalagi Pujawali Ngusaba Kedasa merupakan karya yang besar. Tentu ada saja kekurangan atau yang terlewatkan. Jadi Bhakti Pepranian merupakan sarana kita memohon maaf kepada beliau, seraya memohon agar Ida Bhatara memberikan keselamatan dan kesejahteraan serta kerahayuan untuk alam semesta beserta isinya dan pandemic covid 19 cepat berlalu,” jelasnya.

Sambung Jro Gede Batur Duhuran, setelah Bhakti Pepranian, dilanjutkan dengan Bhakti Perang-perangan Tari Baris Jojor dan Tari Baris Gede. Makna peperangan di sini bukan  adu pisik, melainkan bermakna perang melawan kebodohan, kelaparan, kesengsaraan, kemelaratan, dan lainnya. Tarian ini uniknya setelah bertanding menggunakan tombak kemudian  saye (juri) sudah menyediakan makanan untuk dimakan bersama sekaligus menandai berakhirnya peperangan tersebut.

Dalam Bhakti ini, Tarian Baris Jojor dan baris Gede, masing-masing dimainkan oleh dua orang. Dimana kedua penari bergerak dari arah yang berlawanan (utara dan selatan). Makna dari perang-perangan ini adalah kalau kita mencari mertha, kita harus berperang dulu.

“Di sini perang yang dimaksud, bukan perang yang sebenarnya. Hanya perang  simbolis saja. Bahwa untuk mencari kesuksesan harus berproses dengan kerja keras,” katanya.

Dilanjutkan dengan Bhakti Matiti Suara yang merupakan Bisama atau pituah dari Ida Bhatara. Inti dari pituah ini adalah masyarakat diminta selalu berbuat baik.  Pesannya kalau kita berbuat baik, pasti hasil yang akan kita terima juga baik, demikian sebaliknya.

Adapun potongan pituah dalam Bhakti Matiti Suara ini, kata Jro Gede Batur, “Krama desa lan umat hindu sami. Pirengin becik becik ngih. Mule kliki mule biyu, mule akidik mupu liyu.Kriya uapayane anggen”. Artinya; daya upaya dipakai jangan melakukan hal tidak baik. Balik sinuriak, ngih”. Jelasnya, siapapun di sana yang bilang ngih (ia) kalau di rumah berkata lain. Itu hukumannya dari sana (Ida Bhatara).

“Ini kan semua pituah yang termuat ring purana Pura UlunDanu Batur. Kami masyarakat Batur sangat meyakini ini,” katanya lagi. Kemudian dilakukan acara titi (jalan) menuju keamanan warga negara dengan melemparkan beras kuning berisi uang kepeng yang artinya, semoga apa yang dilakukan atau dikerjakan mendapat keberhasilan dan kemakmuran serta akan menemukan merta (makanan yang melimpah).

Sementara itu, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menyampaikan harapannya, agar dengan pelaksanaan karya ini, Ida Bhatara yang berstana di Pura Ulun Danu Batur memberikan keselamatan dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia. Selain itu, ia juga berharap Ida Bhatara selalu memberikan tuntunan agar semua urusan pemerintahan di Bali bisa berjalan dengan baik, untuk kesejahteraan masyarakat.

Dalam hal ini Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati  juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada umat Hindu sedharma yang sangat antusias tanggkil (datang) ngaturang dan juga krama batur yang telah melaksanakan karya dengan biaya yang sangat sedikit dibandingkan dengan punia seperti yang masuk.

“Kami sangat bangga atas pelaksanaan karya yang menelan biaya sedikit dan umat Hindu seluruh Bali yang pedek tangkil maupun mapunia sangat antusias walaupun dalam situasi perekomian tidak stabil,” ujarnya.  *** Cahayamasnews.com-Tim=NT.

Facebook Comments

error: Content is protected !!