April 18, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“PIKIRAN PENYEBAB KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN”

Oleh : I Ketut Murdana (Jumat : 19 Agustus 2022).

Ketenangan, kebahagiaan dan kesengsaraan adalah eksistensi hewan dan wujud manusia. Semua itu dihasilkan oleh pikiran. Pikiran yang penuh dosa mengakibatkan kesengsaraan, penderitaan (neraka). Seberapa besar pikiran itu bergerak atas dasar napsu keserakahan sebesar itu pulalah penderitaan yang menyengsarakan diri sendiri.

Pikiran yang demikian itu menyebabkan manusia berubah sifatnya seperti binatang. Tidak mengindahkan budi pekerti dan sifat kebajikan lainnya. Walaupun cerdas pengetahuan intelektual, mencapai kekuasaan tinggi, justru digunakan sebagai senjata untuk meraih kekuasaan napsunya. Dulu menjadi bintang panggung yang cemerlang, saatnya tunduk layu di ruang gelap gulita. Tetapi realitas ini sekarang lebih menjadi “Pashion tertentu”. Pikiran ini disebut pikiran rajasa yang dilandasi sifat-sifat kejam, angkuh, keras, garang, serakah, labil, bengis, ceroboh dan sejenisnya. Sangatlah berbahaya bila Sang Jiwa dibungkus oleh kekuasan sifat-sifat rajasa itu.

Berbagai cara Para Suci telah mengisyaratkan, misalnya Rahwana hancur juga dari keseweng-wenangannya, akibat menginginkan Dewi Sitha istri tercinta Sri Rama. Duryodhana hancur akibat haus jabatan dan ingin menelanjangi Dewi Drupadi di depan persidangan. Pengulangan esensi ini terus juga terjadi, sebagai nasehat bagi orang-orang yang ingin teredukasi moralitasnya. Dan peleburan sifat-sifat asura rajasa pada setiap insan agar sadar pada dirinya yang sejati.

Pikiran (citta) pula yang menyebabkan jiwa mencapai kebahagiaan dan pembebasan abadi. Pikiran yang demikian itu lebih dipengaruhi oleh sifat-sifat sattwika. Semua perilaku itu dilandasi oleh kejujuran, kebenaran, ketangkasan, kehalusan, keagungan, kelembutan, kesopanan dan keindahan. Pikiran sattwika yang jujur dan teguh dapat membedakan pengaruh benda-benda material duniawi dan memahami batas-batas daya gunanya. Memiliki pengetahuan kerja yang mantap, menuntun diri mencapai swadharma menuju dharma.

Pandai bertutur kata mengarahkan semangat pada pengabdian, sopan santun, senyum dan bertubuh indah (tampan dan cantik). Semuanya itu berpancar dari sifat kebajikan yang diembannya, bisa bervibrasi kepada siapa saja. Itulah refleksi kasih yang menyejukkan dari sifat-sifat sattwam. Kekuatan pikiran sattwam ini membuka jalan kebahagiaan, menyebabkan jiwa (Atman) mencapai pembebasan. Pikiran sattwika pula yang menyebabkan terlaksana ajaran suci agama, dan ajaran suci Para Guru, hingga menjadi pegangan kuat pada jalan hidupnya yaitu “Jalan damai”.

Pikiran Satwika dan Rajasa

Pengaruh Sattwika dan Rajasa dalam pikiran sama-sama kuatnya. Oleh karena itu, memahami realitas dan ciri-ciri ekspresinya dalam diri, sangatlah penting, karena kekuatan keduanya, serta dominasinya dalam setiap akivitas adalah cerminan dharma bisa terlaksana, lalu dicerahkan oleh sifat halusnya sattwam menuju yang maha halus dan maha murni yaitu kebahagiaan.

Pikiran Tamasa

Pikiran Tamasa yang malas tidak ingin berbuat apa-apa atau istirahat, juga berguna memberi ruang pengisian energi dalam kelelahan. Bila badan, lelah sakit tak terhindarkan jadi swadharma bisa lamban dan terhenti. Dijaman kerja-kerja yang sekarang ini, biaya istirahat dan berlibur juga besar, bisa membangun ruang ekonomi baru.

Oleh karena itu, belajar mengenal diri malalui tiga sifat utama manusia, yang dijabarkan kitab suci, agar berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mengisi kemerdekaan, “Bersatu untuk Merdeka dan Merdeka untuk Bersatu’.

Semoga menjadi renungan. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!