November 4, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“AIR KEHIDUPAN”

Oleh : I Ketut Murdana. (Selasa: 25 Oktober 2022).

Badung (Cahayamasnews.com). Musim hujan air turun dari langit, disertai kilat petir, angin ribut saat ini “dianggap berlebihan” oleh manusia, karena “membahayakan” sendi-sendi kehidupan. Orang-orang banyak yang memandang dan memaknai bahaya air sebagai ekspresi kemarahan-Nya. Cara pandang seperti ini memiliki arti penting, agar setiap insan yang hidup di bumi jangan sampai merusak alam dengan semena-mena.

Kisah turunnya Gangga ke bumi, akibat pertapaan Raja Bagiratha ratusan tahun. Untuk memohon agar Dewi Gangga memberkati pembebasan dosa-dosa leluhurnya, akibat kesalahannya menuduh Rsi Kapila, seorang Rsi yang amat suci menyembunyikan kuda pasukan leluhurnya saat mengadakan upacara rajasuya. Ketekunan dan niat tulus nan suci Raja Bagiratha untuk pembebasan leluhurnya, mengakibatkan Dewa Brahma dan Dewi Gangga berkenan.

Tetapi Raja Bagiratha belum bahagia sebelum memperoleh berkat Dewa Shiva, maka Gangga tidak bisa turun ke bumi. Dewa Brahma mengantarkan Raja Bagiratha untuk memuja Dewa Shiva dengan penuh kesungguhan. Akibat kesungguhan itu Dewa Shiva berkenan. Lalu memurthi melepaskan ikatan rambut-Nya untuk menyangga, menyerap tumpahan kekuatan Gangga (air semesta), lalu dialirkan ke bumi yaitu hutan tempat terbakarnya mayat-mayat leluhurnya.

Dewa Shiva adalah gambaran alam semesta dengan kekuatan tumbuhan hutan belantara, menyangga air hujan kemudian mengalir perlahan, memelihara kehidupan alam dengan segala isinya, hingga tidak membahayakan kehidupan. Para Suci, para ilmuwan, para bijak, para pemimpin, pasti sudah mengetahui bahkan merumuskannya menjadi program unggulan sebagai tawaran dalam strategi politiknya, demi mendulang dukungan. Ketika progran unggulan itu menjadi sungguh-sungguh bagaikan kesungguhan kekuatan tapa Raja Bagiratha, pasti Para Dewa dengan kekuatan semestanya memberkati, hingga alam semesta dan seisi kehidupannya memperoleh kedamaian.

Marilah berdoa bersama-sama agar bangsa-bangsa di dunia ini memperoleh pemimpin-pemimpin yang baik dan mengayomi rakyatnya. Bukan pemimpin Asura yang memuaskan diri sewenang-wenang menindas rakyatnya, alam rusak, kekacauan terjadi di mana-mana. Pertanyaannya, mengapa justru dalam peradaban Ilmu pengatahuan dan teknologi yang super canggih seperti ini alam lingkungan semakin rusak, hutan semakin gundul. Bagaikan rambut Dewa Shiva yang rontok tidak bisa lagi menahan gempuran kekuatan Dewi Gangga, turun ke bumi. Akibatnya manusia kalang kabut menghadapi kebanjiran, longsor, tsunami dan lain sebagainya.

Menghadapi kenyataan ini, tentu Guru Wisesa yang berkuasa di seluruh dunia mesti bersatu padu merumuskan kebijakan dan ketentuan hukum antisipasi kerusakan alam dengan segala permasalahannya dan pengawasan yang ketat. Karena kosmik ini adalah rumah kita hidup bersama, maka bersama pula menertibkan diri serta memelihara rumah semesta kita bersama.

Ketika kesadaran ini meresap ke dalam jiwa setiap insan, air pasti berubah menjadi Amritham yang menyehatkan dan membahagiakan. Semoga menjadi renungan dan refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!