
“AURA KASIH”
“SINERGI DAN TOLERANSI”
Oleh : I Ketut Murdana (Kemis : 10 Nopember 2022).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Jiwa-jiwa yang penuh toleran selalu bersinergi, membangun rasa kebersamaan, untuk mencapai tujuan kemuliaan bersama. Akibat dari kesepakatan dan keyakinan itu, semua potensi selalu bersinergi, rasa saling membutuhkan saling menghargai terjadi dengan sendirinya. Inilah kesadaran sosial yang membangun atmosfir bervibrasi bajik, dapat diterima manusia manapun di bumi ini.
Menggemakan dan melakoni sifat dan rasa toleransi, menghargai karakter identitas budaya di manapun melangkah, pasti dapat merasakan kedamaian. Dibalik realitas itu semua, justru pengetahuan suci disalah artikan dan dipahami secara parsial kelompok. Bahkan disempitkan menjadi isme kekuasaan politik. Membanggakan dan mengagungkan kebenarannya sendiri, lalu sadar tidak sadar merendahkan martabat orang lain. Sesungguhnya secara kualitas humanisme, adalah merendahkan bahkan menghinakan diri mereka sendiri. Begitulah barangkali cara semesta (kekuatan maya-lalu menjadi asura), membelokkan ajaran suci menjadi ajaran ambisius kekuasaan politik duniawi.
Akibatnya menimbulkan antipati, bukan gaya tarik yang mengakibatkan sinergisitas semakin sempit. Curiga saling mencurigai terjadi, menanam dan menebarkan kebencian terus-menerus kepada Guru Wisesa, yang mesti dihormati dan didukung bersama dalam menjalankan roda pemerintahan. Realitas ini selalu digemakan, walaupun sudah tidak masuk akal sehat dan obyektifitas kebenarannya.
Gerakan-gerakan ini mengakibatkan kepincangan sosial semakin renggang dan terpuruk. Rakyat yang semestinya bisa tenang berjuang meningkatkan perekonomian dan prestasi anak bangsa lainnya, justru sibuk protes, teriak-teriak turun ke jalan. Beban material dan psikologis ini akhirnya dipikul oleh bangsa dan negara. Berbeda dengan bangsa lain mereka bergulat membangun kecerdasan intelektual maju, hingga dikagumi dunia.
Seharusnya dengan beragama yang baik rakyat bisa meringankan tugas pemerintah. Karena agama mengajarkan manusia membentuk nilai kesopan santunan, beretika dan bersemangat tinggi untuk membangun kesejatian diri agar bisa memberi nilai-nilai kebajikan kepada bangsa dan negara. Realitasnya kini bagi sekelompok masyarakat justru terbalik, menebar awan gelap bagi kedamaian bersama.
Dengan demikian jiwa-jiwa toleransi dan sikap sinergi merupakan refleksi dari proses edukasi beragama yang benar dan berguna untuk bangsa dan negara. Oleh karena itu, cerdas dan jernih memahami konstruksi-konstruksi maya yang membelokkan ke jalan kegelapan berpikir dan berprilaku amat sangat diperlukan saat ini, hingga tidak terpapar pada jalan berpikir dan prilaku asura yang selalu ingin menguasai dunia dengan cara memaksakan kehendak.
Oleh karena itu menghormati Guru Wisesa (pemimpin bangsa) dan berupaya memberi sesuatu yang terbaik pada bangsa dan negara, adalah kebajikan yang diajarkan dalam kitab suci agama. Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments