April 19, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEYAKINAN YANG DIJIWAI ASURA”

Oleh : I Ketut Murdana (Minggu : 18 Desember 2022).

Badung (Cahayamasnews.com). Asura memang tercipta untuk menghancurkan tatanan hidup damai, berjuang terus untuk berkuasa dan ingin terus menguasai alam semesta, bahkan Sang Pencipta yang memberkatipun ingin digulingkannya. Karakter dasar ini “dilahirkan” setiap saat dan setiap zaman menunjukkan gerak kualitasnya dan kuantitasnya yang berbeda-beda. Nampaknya kualitas kesaktian dan kuantitasnya di zaman Kaliyuga ini melebihi presentasenya, hingga menggelapkan atmosfir kedamaian dunia.

Tersurat di dalam kitab suci Hindu, konon di zaman Kaliyuga ini kekuatan asura tiga berbanding satu dengan kekuatan dewata (kebajikan). Realitasnya nampak bahwa sebagian besar umat manusia berlomba-lomba memperjuangkan nafsu dan kesenangan serta kekuasaan duniawi. Menjadikan panggung politik sebagai ruang perhelatan yang menggiurkan. Akibatnya anggaran negara tersedot nafsu energi perebutan kekuasaan. Kompetisi sehat hanyalah slogan, namun sesungguhnya yang penting bagaimana untuk memperoleh kemenangan.

Peradaban budaya sakral, dan sekuler campur aduk, dibungkus tujuan kemenangan. Kesantunan dan kejujuran menjadi amat mahal. Membuli, menghina Guru Wisesa pemimpin bangsa, berdalih-dalih isu “dianggap” kebenaran. Keberanian menghina agama dan keyakinan lainnya dianggap sebagai keunggulan. Ingkar janji tidak lagi menjadi sesuatu yang risih, menghindar, menghilang dan ganti nomer adalah jawaban.

Senyum ramah saat dharma swaka, sebeng denges bila telah duduk di kursi empuk. Setiap lima tahun pengulangan ini terjadi. Barangkali sampai kapan perubahan paradigma ini akan terjadi. Bagaimana memaknai dan menyikapi realitas ini?. Setidak-tidaknya, ada tiga hal penting yang  mesti ditempuh:

(1). Bhakti, menguatkan keyakinan kepada Tuhan sesuai kebenaran dan kesucian ajarannya. Bukan tapsir-tapsir yang dijiwai asura yang penuh kepentingan kekuasaan napsu dan ego. Tafsir berdasar kecerdasan akal pikir berbasis kesadaran spiritual kedamaian dunia adalah wiweka jnana yaitu pengetahuan suci yang menyempurnakan tarap hidup manusia menjadi lebih manusiawi. Keikhlasan melaksakan bhakti adalah intisari kejiwaannya.

(2). Karma, yaitu berbuat baik yang dijiwai kasih sayang terhadap semua ciptaan-Nya. Dengan demikian setiap langkah prilaku dijiwai rasa bhakti kepada Tuhan, sebagai wujud pelayanan (sewanam) kepada-Nya. Betapa beratnya mengkondisikan kebenaran ini di zaman Kaliyuga ini, terutama membebaskan jiwa-jiwa dalam belengguan asura. Bila dilandasi ketulusan rasa berat dalam pikiran, bisa terhela oleh semangat pengabdian yang membahagiakan, hingga rasa berat sirna. Seperti itulah barangkali “wujud pembebasannya”.

(3). Jnana, dari dua alur bhakti dan karma menimbulkan pengalaman yang membahagiakan. Pengalaman ini menjadi narasi historik yang kuat di dalam diri, dan pada saatnya pasti bervibrasi kepada orang lain. Oleh karena itu, membebaskan diri dari keyakinan yang dijiwai asura adalah perjuangan manusia yang sesungguhnya, agar perlahan bebas dan damai di zaman Kaliyuga. Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!