
“AURA KASIH”
“PERENUNGAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo : 25 Januari 2023).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Setelah melaksanakan sadhana suci dalam Mahapuja Siwaratri sesuai ketulusan masing-masing. Patut direnungi kembali apa saja yang bisa dirasakan sebagai anugrah atau belum bisa merasakan anugrah yang sesungguhnya sudah terjadi (sebagai pengalaman spiritual).
Mendiskusikan pengalaman merupakan proses penyerapan sekaligus olah wiweka jnana, untuk menghidupkan gerak olah pikir, indriya-indriya membangun kecerdasan intelektual dan spiritual, agar mampu menghargai pengalaman serta pendapat orang lain. Kebesaran dan universalitas pengetahuan suci yang meresap di dalam diri dan terbentang luas nan dinamis di alam semesta di luar diri berwujud Buana Agung dalam struktur bingkai esensial Jnana Buda Siwa. Mengaliri, menyinari, membangkitkan dan memberi daya hidup serta menetralisasi semua sifat karakter manusia yang tersentuh.
Tersentuh inilah mengakibatkan hubungan antara diri atau jiwa yang suci kepada sumbernya yang maha suci melalui proses karma jnana itu terjadi. Proseslah yang mengubah dari yang belum baik menjadi lebih baik, yang disebut proses kebajikan. Demikian juga proses pralina dari yang baik menjadi buruk, dari yang segar dan cantik menjadi peot dan tua renta, lalu kembali kepangkuan Ibu Pertiwi.
Demikian pula proses pemburukan atau pemrosotan moral atau pengasuraan yang disebut erosi moral, misalnya tidak bisa atau tidak mau menghargai prestasi kebajikan orang lain yang sudah nyata berguna. Bisanya hanyalah nyinyir dan penginaan. Menjual diri bertopeng agama (Pedanda Baka). Membendung nalar kreatif, perwujudan laku peradaban spiritual, yang menghormati jasa-jasa suci para Leluhur yang bervibrasi mendunia. Memperbesar kekuatan premanisme pendulang suara, akibatnya sajian menyenangkan asura terus dikembangkan dan dipasilitasi. Akibatnya berkembanglah budaya asura, pamer sifat-sifat kebinatangan berkedok seni budaya di depan publik.
Ketika sudah demikian bukan membangun prestasi kebajikan dalam segala lini, tetapi harus memperkuat rem mengantipasi kemerosotan. Membongkar atau menghindari kebekuan dan keangkuhan personal menutupi tatanan inilah patut direnungi searif-arifnya, bagaikan mencari ikan didalam kolam agar tidak merusak taman bunga teratai.
Virus ini terus menerus menjalar, memerlukan kemoterafi dengan dosis tertentu, agar tidak membunuh karakter humanis spiritual umat manusia.
Tidak mudah memang mengatasi kabut asura yang telah menguasai, tetapi yakinlah bahwa seberkah sinar suci yang ada dalam kesadaran masing-masing bangkit bersatu padu, selalu berdoa mohon perlindungan-Nya. Sesuai janji-Nya yang tertulis dalam kitab suci; bila dharma terabaikan dan terinjak-injak di bumi AKU akan datang melindungi dharma. Apa wujudnya tiada lain, barang siapa yang telah menyadari realitas kini, dan berjuang untuk kembali ke jalan dharma. Esensi resapan sifat-sifat inilah kebenaran-Nya. *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments