
“AURA KASIH”
“Meninggalkan Dharma Dan Ditinggal Oleh Dharma”
Oleh : I Ketut Murdana (Senin : 13 Pebruari 2023).
Badung (Cahayamasnews.com). Kisah Mahabharata mengisahkan isyarat nilai-nilai kebajikan yang mesti dipedomani. Ketika tawaran judi bermain dadu Duryodhana diterima oleh Yidhistira, yang baru menjadi raja di Kerajaan Indraprasta. Semuanya itu terjadi akibat berkah Dewata. Mengakibatkan Duryodhana terkesima dan terhina oleh kemeriahan material duniawi, yang membuat hatinya semakin benci dan dendam atas perkataan Dewi Drupadi saat kecemplung dalam kolam ilusi di kerajaan itu.
Untuk menghilangkan sakit hati keponakannya, Sangkhuni merencanakan akal liciknya, melalui tawaran bermain judi dadu, yang merupakan keakhlian unggulnya Sangkhuni. Desakan dan rayuan manispun dilontarkan oleh Duryodhana kepada Yidhistira, hingga pertaruhan demi pertaruhan bergulir terus dengan penuh ambisi untuk saling memenangkan. Mulai dari artha uang, emas, tanah, kerajaan, saudara, diri sendiri dan permaisuripun ikut menjadi barang taruhan.
Mulai saat itulah Yudhistira telah dibutakan oleh napsu, melupakan swadharma dan dharma kebenaran itu sendiri. Akibatnya artha, kekuasaan, cinta dan kasih sayang terguling jatuh ditelan neraka. Hingga kekuatan dharma tidak bisa melindunginya lagi. Walaupun demikian dalam kebutaan Raja Drestharastra terbersit sinar terang yang menyentuh hatinya, hingga memutuskan kerajaan Indraprasta dikembalikan kepada Raja Yudistira. Semuanya itu terjadi setelah menyaksikan keajaiban besar yang terjadi pada Dewi Drupadi.
Setelah Dursasana tidak mampu lagi menelanjangi busana Dewi Drupadi, karena tangan panas terbakar api vibrasi suci Dewi Drupadi. Panjang kain Dewi Drupadi yang tiada habis-habisnya berkat pertolongan Sri Krishna. Saat itu kebutaan mata Drestharastra sontak menyaksikan Darsan Sri Krishna dan berpesan; “hai Raja Drestharastra kejadian ini adalah awal kehancuran Kerajaan Astina Pura dan putra-putramu”. Saat itulah dia menghentikan semua yang sedang dan telah terjadi.
Lalu Drestharastra mengembalikan kerajaan Idraprasta ke tangan Yudhistira kembali. Saat itu Bhagawan Bisma menjawab; “hai Raja engkau telah lambat mengambil keputasan”, lalu Drestharastra menjawab; aku tidak berdaya atas tindakan keangkuhan putraku paman, maafkanlah aku..demikian ucapnya. Mendengar keputusan ayahnya seperti itu, Duryodhana marah-marah dan mengamuk ingin menghabisi dirinya. Kemudian ayahnya memanggil kembali dan menenangkan putra kesayangannya itu.
Atas bisikan Sangkhuni, lalu Duryodhana setuju dengan keputusan itu, tetapi dengan syarat harus melanjutkan judi lagi dengan mempertaruhkan seluruh kerajaan. Apabila Duryodhana yang menang Pandawa harus berada dalam pengasingan, meninggalkan kerajaan, hidup selama empat belas tahun di dalam hutan, setahun hidup dalam penyamaran. Apabila Yudhistira yang menang semua kerajaan akan diserahkan atas kuasa Yudhistira.
Karena ambisi dan gerah hatinya telah dipengaruhi oleh kekuatan judi, maka Raja Yudhistira menyanggupi ajakan lanjutan judi Duryodhana, akhirnya kemenangan ada di pihak Duryodhana. Itu artinya orang terjebak bayang-bayang kinikmatan dengan cara mudah dan mudah pula hancurnya.
Betapa senangnya Duryodhana dapat melampiaskan napsu dan kesewenang-wenangan kuasa serta api balas dendamnya (ciri-ciri utama sifat asura). Itu artinya puncak kesewenang-wenangan telah terjadi di bumi. Menungga penguasa alam pelindung dharma menyelamatkan.
Di balik persoalan itu, Radha sangat iba terhadap masalah yang menimpa Pandawa dan juga Dewi Drupadi. Lalu bertanya kepada Sri Krishna, mengapa engkau tidak menolong sahabat-Mu Krishna. “Karena mereka telah melupakan diri-Ku, dan mengikuti jalan napsunya dan meninggalkan kebenaran. Apabila kebenaran ditinggalkan maka jalan ke neraka terbuka lebar menjadi jawaban dengan sendirinya”.
Dalam kesulitan Dewi Drupadi yang tidak terlindungi oleh suaminya, mertua raja, Bisma, Drona, Kripacarya, Widura dan seluruh hadirin dalam persidangan, Dewi Drupadi, ingat dan mohon perlindungan kepada-Ku, maka Aku datang melindunginya. Sampai dia tenang dan tersenyum mengikuti suami-suaminya pergi ke dalam hutan.
Sampai pada suatu waktu tertentu, ketika Dewi Drupadi menyajikan makanan nasi putih tanpa lauk pauk kepada suaminya. Drupadi menyantap makanan itu dengan sangat enak, sangat mengherankan suami-suaminya. Saat itu Arjuna melihat tanda itu dengan cerdas. Ada apa sebenarnya di balik semua itu. Saat itulah Arjuna sadar lalu mengajak saudara-saudaranya mohon maaf atas segala kesalahan dan dosa yang mengakibatkan hidup dalam pengasingan di dalam hutan. Dan ingat juga kepada Sri Krishna lalu kelima Pandawa mohon pengampunan.
Sri Krishna menjawab kenyataan ini kepada Rada bahwa; “dosa yang besar tidak semudah itu untuk diampuni, biarkanlah mereka mengalami pahit, manisnya penderitaan di dalam hutan sampai batas waktunya tiba. Hingga pada saatnya mereka menyadari akibat dari semua perbuatan buruknya, sekaligus memberi pelajaran berharga bagi umat manusia di bumi”.
Kisah cerita tersebut mengisyatkan kepada umat manusia agar tetap sungguh-sungguh berada di jalan dharma. Belajar mengabdikan diri untuk dharma, karena dharma adalah “kebenaran” yang menyelamatkan dan melindungi umat manusia.
Sifat-sifat kemahakuasaan Tuhan bagi manusia dalam kehidupan di bumi ada pada jalan dharma. Walaupun saat ini dharma terinjak-injak dan terlupakan oleh sebagian besar umat manusia, menjadikan jiwanya kosong dan kering tanpa kesucian. Artinya Pandawa melupakan Sri Krishna, lalu membiarkan diri mereka tunduk mengikuti keinginan hawa napsunya terus berkembang.
Walaupun mereka cerdas-cerdas keturunan dewata, perpangkat tinggi, keturunan para kesatria hebat, terikat persaudaraan melupakan akal pikir kecerdasan rohani, menjadikan prilaku amburadul mengacaukan situasi merugikan diri sendiri. Realitas seperti ini bergema saat ini, merupakan tantangan besar yang harus diwaspadai dan dihadapi oleh para abdi-abdi dharma, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, melalui kecerdasan pengetahuan material dan spiritual, atas tuntunan serta perlindungan kasih-Nya.
Seperti apa yang dilakukan Dewi Drupadi, lontaran kritik pedasnya kepada, Bisma, Raja, Guru Drona, Kripacarya serta peserta sidang lainnya. Semua bungkam, buta hati nurani tak berdaya dibutakan oleh kuasa Drestharastra dan dibutakan keangkuhan Duryodhana. Pengetahuan ini digariskan dalam intisari bhagavadgita, yang patut dipelajari bersama-sama agar menjadi pedoman yang kuat, bagi setiap langkah prilaku kehidupan.
Kedua pilar pembentuk pergolakan itu berasal dari sumber yang sama, tetapi wujudnya berlawanan dengan dharma. Itu artinya kita berhadapan dengan saudara sendiri, yang disebut Mahabharata yaitu perang melawan diri sendiri yang disebut “barata”. Para Korawa dengan berbagai kekuatannya telah menghadang di depan kita, dan meresap menguasai dengan kelucikannya. Secara psikologis telah menyusup dalam diri setiap orang bila lepas kontrol bagaikan Yudistira menyanggupi pertaruhan judi.
Akibat melupakan kebenaran (dharma) serta memperjuangkannya dalam setiap langkah kehidupan, hingga kebenaran itu merasuk meresap kuat dalam diri sendiri. Kekuatan itu berproses hingga setip prilaku dijiwai kebenaran (dharma). Permainan dan perlawan memenangkan dharma saat ini, memerlukan kecerdasan intelektual dan material yang memadai, serta kebijaksaan tinggi yang disebut “senjata sakti”, saat ini.
Sesuatu yang paling utama adalah selalu sadar pada kuasa Sang Pelindung Dharma untuk mohon perlindungan-Nya. Ketika sudah demikian prinsip-prinsip nilai-nilai kehidupan terpandu dharma dan pasti terlindungi oleh dharma itu sendiri. Dengan demikian kemenangan dan kejayaan hidup terjadi dengan sendirinya. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments