April 20, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SWADHARMA MENYEMPURNAKAN TAKDIR”

Dipetik dari Sarasamuccaya, XI, 66 (Catur Warna).

Oleh:  I Ketut Murdana (Kamis:  14 September 2023).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Memahami prinsip-prinsip dasar eksistensi kehidupan yang konon dikatakan sebagai “takdir” yang menentukan corak warnanya. Semua itu sebagai nilai komulatif proses karma, menjadi pahala yang menjadi dasar “kesadaran” pembenahan serta penyempurnaan kembali dalam kehidupan duniawi. Agar takdir bisa berubah, penyempurnaan karma adalah jawaban dalam kelahiran sebagai manusia.

Kelahiran merupakan anugrah besar penyempurnaan, bila diyakini sesuai tuntunan pengetahuan suci-Nya (Samsara). Apabila anugrah kehidupan ini disadari sebagai proses penyempurnaan diri sebaik-baiknya, melaksanakan ajaran dharma dengan sebaik-baiknya, maka dharma dengan Sang Penguasa Dharma pasti hadir bersama, mengaliri, menuntun, melindungi, membebaskan semua ikatan mencapai kebebasan abadi.

Memasuki wilayah proses inilah yang bersentuhan dengan kekuatan takdir yang dibekukan oleh indriya, napsu dan ego yang amat kuat tersembunyi tersembunyi dalam kegelapan. Mencairkan kebekuan terselubung inilah proses kerja spiritual yang panjang dan “terkadang melelahkan”. Terutama bagi yang masih terganggu keimanannya. Saat seperti inilah godaan dan cobaan yang seringkali menjadi “misteri” terkadang bisa membungkan semangat, lalu lunglai dalam keputus asaan. Mengatasi situasi awidya yang demikian itu guru “memegang peranan penting”, mencairkan rahasia itu agar menjadi terang benerang kembali.

Bagi yang telah merasakan kebenarannya tentu amat bersemangat bahkan semakin kuat dan yakin berproses (bersadhana). Karena kenikmatan energi suci akibat proses sadhana inilah tahapan-tahapan pembebasan, hingga beban rohani semakin ringan, lalu kesadaranpun semakin meningkat, keyakinan semakin kuat.

Sifat-sifat yang tahan uji inilah disebut sebagai “sakti”, yaitu kemampun untuk menghadapi gelombang takdir terkungkung ego atau awidya sebagai sasaran proses (melawan sifat-sifat angkuh dalam diri sendiri). Agar semua itu mencair tunduk dan larut menjadi energi pendukung kesadaran. Apabila kesadaran ini telah terjadi, seseorang merasakan pencerahan jiwa yang sesungguhnya. Jiwa dan prilakunya cerah melaksanakan swadharma menuju dharma sejati. Saat itupula keraguan sirna menjadi kecerdasan atau wiweka jnana yang mengantarkan lalu menjadi energi suci penguat langkah, demi langkah penyempurnaan.

Ketika sudah demikian kebenaran pengetahuan suci terjawab dan dirasakan kebenarannya. Saat itulah “kemenangan” terjadi, hingga patut disyukuri dan dimaknai menjadi prilaku yang bervibrasi suci. *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!