February 27, 2025
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SARASWATHI” (Pengetahuan Mengalir Mencerdaskan Insan-Insan yang Berdedikasi)

Oleh:  I Ketut Murdana (Kemis, 06 Pebruari 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Arjuna lahir dikalangan istana, putra Pandhu konon titisan Dewa Asmara, yang dipuja oleh Dewi Kunthi berkat mantram suci anugrah Rsi Dhurwasa atas ketulusannya mengabdi saat masih gadis. Setelah anak-anak Arjuna mendapatkan pendidikan khusus kelompok para kesatria. Berguru pada Guru Drona yang diangkat khusus oleh Raja Asthina Pura, Raja Drestharasta saat itu. Bagaimana pendidikan rakyat saat itu, tak tertuliskan, tetapi saat berperang rakyat juga ikut berperan didalamnya.

Saat sedang mendidik para kesatria itu Radeya bersama ayah pungutnya  mantan kusir kereta itu datang menghadap Guru Drona, untuk belajar memainkan senjata seperti para kesatria, yang menjadi kesenangannya. Saat itu Radeya bersama ayahnya datang menghadap Guru Drona, bermaksud belajar ilmu pengetahuan persenjataan seperti para kesatria itu. Guru Drona bertanya siapa namamu nak. Radeya Guru demikian jawabnya. Wajahmu memancarkan sinar yang tidak dimiliki anak-anak lainnya seusiamu. Oleh karena itu namamu yang cocok adalah Karna, yang berarti wajahmu bersinar cemerlang.

Pendidikan ini adalah khusus untuk para kesatria, oleh karena itu, kau tak bisa diterima disini. Tetapi saat itu Karna nyeletuk dan bertanya, kepada Drona sekaligus nyindir bahwa putranya Aswathama bisa ikut bersama dalam pendidikan di istana itu. Lalu Radeya bertanya kepada Guru Drona, apakah Dewi Saraswathi membeda-bedakan anugrahnya mengalirkan pengetahuan kepada umatnya?, demikian pertanyaan Redeya.

Mendengar ucapan Radya itu, Guru Drona terkesima tersentuh hatinya, akibat kasih sayangnya kepada putranya Aswathama, yang bukan seorang kesatria tetapi ikut bersama dalam pendidikan istana.  Dan sebagai Guru yang dibatasi oleh kekuasaan. Oleh karena itu carilah Guru yang lainnya Karna, demikian sahutnya Guru Drona.

Akibat sentuhan sikap kritis Radeya itu, lalu Guru Drona diam tak berkutik, lalu memanggilnya. Hai Karna kesungguhanmu untuk belajar, aku sangat kagum. Aku menganugrahimu ilmu pengetahuan untuk hidupmu. Lalu Karna menjawab, Guru aku menghormati niat suci dan anugrahmu, tetapi ilmu pengetahuan itu bukan diperoleh atas anugrah, tetapi berproses melalui belajar dari guru dengan penuh dedikasi dan ketekunan serta bhakti yang tulus. Setelah itu Karna lalu bersujud mohon diri. Mendengar kata-kata Karna itu, membuat Guru Drona kagum atas sikap yang cerdas dan kritis itu.

Lalu Karna bersama ayahnya pergi untuk menghadap Rsi Parasu Rama di pertapaanya, agar diterima sebagai murid. Setelah tiba Pesraman dan menghaturkan rasa hormat, saat itu Rsi Parasu Rama memanggil Karna. Setelah Bisma menamatkan pendidikannya di Pesraman ku ini, engkaulah salah satunya yang Aku terima sebagai muridku. Betapa senang dan bahagianya hati Karna diterima sebagai muridnya. Lalu ayahnya menghaturkan rasa hormat, bersujud menyerahkan Karna sepenuhnya kepada Rsi Parasu Rama, lalu bersujud mohon ijin untuk pulang.

Saat pendidikan sedang berlangsung, terlihat Karna dengan sungguh-sungguh mengikuti arahan dan tuntunan Sang Guru, lalu Guru memanggilnya; hai Karna menjadi seorang pemanah yang baik, harus menempatkan jiwa sepenuhnya pada panah-panah itu. Jangan sampai menghina panah-panah itu, dengan cara menggunakan panah-panah itu untuk mendukung ketidak adilan. Ingat dan perhatikan sepenuhnya kebenaran mendasar ini. Apabila dilupakan maka pengetahuan yang menyertai panah-panah itu akan dilupakan dan kekuatannya akan hilang serta tak berguna lagi.

Saat itulah kekuatan pengetahuan itu ku ambil sebagai “Guruku Daksina” (artinya pengetahuannya nampak cerdas dan benar tetapi tak berjiwa dan berenergi suci, akibatnya tak dapat menyelesaikan masalah, “dudu” dalam bahasa Bali). Kemampuan mu memanah sudah cukup Karna, kembalilah kamu kepada keluarga mu. Tak perlu engkau membayar yadnya kepada-ku. Betapa senang dan bahagiannya hati Karna.

Sebelum kembali pulang Rsi Parasu Rama ingin berjalan-jalan, Karna sangat senang mengiringi perjalanan Gurunya. Di tengah-tengah perjalanan dibawah pohon yang rindang Sang Guru mengantuk, ingin tidur istirahat dipangkuan Karna. Lalu Karna duduk bersila, gurunya merebahkan badannya. Seketika itu Gurunya tidur lelap, tiba-tiba datang seekor Kalajengking menyengat paha Karma hingga berdarah, bercucuran keluar membasahi pakaiannya. Karna tetap berupaya menahan rasa sakit, agar tak bergerak yang berakibat mengganggu istirahat tidur gurunya. Saat itu pula Gurunya bangun dan melihat keadaan itu. Lalu gurunya marah, karena merasa tertipu.

Hai Engkau Karna engkau telah menipuku, engkau adalah seorang kesatria mengaku  seorang Brahmana. Tidak mungkin seorang Brahmana mampu menahan sengatan Kalajengking yang demikian kuat dan berbisa itu. Oleh karena itu Aku mengutukmu, ilmu pengetahuan memanah yang ku ajarkan kepadamu saat digunakan akan hilang tak berguna kekuatannya. Mendengar kutukan itu betapa sedih dan gusarnya hati Karna lalu, mohon ampun. Tetapi kutukan telah terjadi tak mungkin dicabut lagi sebagai kebenaran dari hukum sebab dan akibat.

Pada sisi yang lain Guru Drona sedang mendidik dan ingin mengukuhkan Arjuna menjadi pemanah terbaik, saat berjalan di luar istana datanglah segerombolan ajing mengerang kesakitan, karena mulutnya tersumpal panah. Melihat keadaan itu Arjuna kaget dan kagum akan keahlian seseorang yang memanah anjing-anjing itu. Lalu melapor kepada Guru Drona. Guru apakah Guru benar-benar mendidikku untuk menjadi pemanah terbaik?. Lihatlah anjing-anjing itu semuanya bersamaan terkena panah di mulutnya.

Lalu Guru Drona berupaya mencari siapa yang memiliki kemampuan memanah yang luar biasa itu. Bertemulah Guru Drona dengan seorang pemuda gagah berani yang bernama Eka Lawya, yang mengaku sebagai keturunan kesatria dari Kerajaan Jarasandha. Hai anak muda siapa yang mengajarimu memanah?. Eka Lawya menjawab; gurulah yang mengajari hamba memanah. Guru Drona menjawab; Aku tak pernah merasa mengajari mu, bagaimana caranya kamu belajar?. Aku sadar bahwa aku bukanlah seorang Kesatria Istana Asthina Pura.

Aku mengintip sat Guru sedang mengajar, lalu membuat patung Wujud-Mu yang ku jadikan guru penuntunku. Terimalah ucapan terimakasih dan rasa syukurku atas semua berkat-Mu. Apa yang dapat kupersembahkan sebagai wujud bhaktiku guru, sebagai dhasinaku Guru?. Atas niat baik dan keilhlasanmu, aku minta jempol tangan kananmu sebagai daksinamu. Lalu Eka Lawya memotong ibu jari kanannya, lalu mempersembahkan kepada Guru Drona sambil menutup tetesan darah yang terus mengucur deras membasahi pakaiannya.

Selanjutnya pada sisi yang lain, sebelumnya Sri Krishna bersama Baladewa juga telah menamatkan pendidikannya. Untuk itu mereka ingin membayar dhaksina guru, sebagai bhakti Guru. Saat itu Sri Krishna berkata; Guru aku bersama kakakku telah memperoleh pendidikan dari mu Guru, ijinkan Aku mempersembahkan dhaksina guru. Rsi Parasu Rama menjawab janganlah engkau bersenda gurau Dewa Narayana. Sri Krishna menjawab; tidak Guru, seorang murid tidak bisa menamatkan pendidikannya sebelum menyelesaikan kewajibannya kepasa Guru.

Dengan apa kamu akan membayar kewajibanmu Dewa Krishna?. aku ingin membahagiakan Guru Mata, dengan cara mencari dan menemukan putranya yang telah lama menghilang. Sebelum aku menemukannya aku tak akan kembali, demikian jawaban Sri Krishna, sambil mohon ijin untuk mencarinya. Tak berapa lama Sri Krishna datang membawa putranya, dan menghadapkannya. Oh Guru dan Guru Mata, terimalah putramu telah kembali kepangkuanmu.  Dan sebagai wujud bhaktiku terimalah kerang Sangkha Kala ku ini, benda kesayanganku satu-satunya yang paling berharga.

Rsi Parasu Rama tersenyum riang, janganlah kau bercanda Krishna. Aku tak menerima persembahanmu yang amat berharga bagimu itu. Bawa dan tiuplah Sangkha Kala itu untuk menentukan perubahan jaman “dari jaman lama ke jaman baru yang penuh kebajikan”. Mendengar perintah Gurunya itu, lalu Sri Krishna meniup Sangkha Kala itu, ciri-ciri perubahan jamanpun dimulai.

Berkenaan dengan narasi di atas dapat dimaknai bahwa, bibit yang baik akan melahirkan insan-insan yang memperoleh pendidikan yang baik menjadi kesatrian penegak dharma pembela rakyat, bangsa dan negara.

Pengetahuan bisa mengaliri semua insan-insan dan mencerdaskannya. Membuka diri untuk belajar, mesti tertuntun lewat guru, hingga berdedikasi tinggi. Semua itu bisa lahir dari  model-model perguruan yang selalu bersumber dari kemaha kuasaan-Nya. Ketika memasuki areal duniawi dan kekuasaannya, unsur-unsur subyektif tak terhindarkan. Baik dalam proses maupun pengukuhannya. Oleh karena itu proses pendidikan untuk mencapai kebenaran sejati, tak berhenti pada pendidikan formal saja, mesti dilanjutkan melalui pendidikan spiritual berguru pada alam dan berguru pada Sang Pencipta (Sat Guru).

Walaupun seorang Awatara, karena berbadan manusia dan hidup di bumi tetap juga wajib berguru. Dari proses edukasi itulah kebenaran duniawi dan kebenaran Ilahi tersatu padukan lewat metodologi meresapi ragam karakter manusia, menjadi nilai-nilai kebijaksanaan yang mendamaikan dan juga membebaskan. Proses panjang ini menentukan karakteristik jamannya. Setiap insan yang telah terdidik dan memperoleh pengetahuan formal, material dan spiritual, mesti digunakan untuk kebajikan mewujudkan dharma di bumi melalui para dharma. Hingga pengetahuan itu, benar-benar mencerahkan, membahagiakan dan membebaskan mencapai tujuan hidup sejati.

Bukan digunakan untuk memerangi dharma berpihak kepada kejahatan dan ketidak adilan. Akibatnya sehebat apapun pengetahuan itu akan kehilangan roh dan makna serta esensinya, akibatnya menjadi kemenangan yang menghancurkan. Walaupun sesaat bisa menang, tetapi mengacaukan situasi dan menghancurkan tatanan kebajikan duniawi. Untuk menata dan memperbaiki kembali memerlukan kerja keras dan waktu yang lama. Seperti akibat buruk politik identitas, yang seringkali digunakan para politikus memperoleh dukungan suara

Hormat dan berbhakti kepada Guru Sad dan Guru Sat adalah proses terwujudnya etika pemuliaan diri, terhadap Guru bagi para murid dan insan-insan terdidik lainnya, memperoleh pencerahan yang berenergi suci. Agar tak menelan dosa panjang akibat “mencuri ajarannya”, atau “menistakan ajaran”. Agar kebenaran pengetahuan dan etika serta kesantunan ini  berguna bagi pembangunan keimanan, mencapai kesejatian diri, yang benar dan berbudi luhur mencapai kemenangan yang mendamaikan, merupakan harapan bagi semua insan. Dan perjuangan sungguh bagi insan-insan yang tersentuh dan bangkit kesadarannya memahami kebenaran itu. Energi suci dharma ini sedang meresapi penggerak-penggerak dharma mewujudkan perubahan jaman menuju kejayaan bangsa dan negara. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!