February 26, 2025
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“PILIHAN DIANTARA KEKUASAAN, SWADHARMA, Dan PERLINDUNGAN DHARMA”

Oleh :  I Ketut Murdana (Rebo, 26 Pebruari 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Tak mudah “melakukan pilihan”, dalam menempatkan kewajiban, ketika jiwa diselimuti oleh ambisi kekuasaan, yang seringkali “mengaburkan” kebajikan menjadi pembenaran-pembenaran. Walaupun Karna berkali-kali, dinasehati oleh Sri Krishna dan Ibunya Dewi Kunti agar kembali ke jalan dharma, amat sulit diindahkan lalu berpihak kepada Duryodhana yang telah memberinya kedudukan. Sesungguh kekuasaan, swadharma dan mencapai dharma agar terlindungi oleh Kuasa Ilahi merupakan satu kesatuan tak terpisahkan. Akibat tarik menarik kepentingan, maka pilihan yang tak mesti dipilihpun harus dipilih. Lalu dicari-carikan argumen “pembenar yang dibenar-benarkan”.

Suatu ketika Sri Krishna menghampiri Karna yang sedang merenung sendiri, saat esok hari perang besar  di Kurusetra akan berlangsung. Saat itu merupakan kesempatan terakhir beramah tamah bersama sahabat-sahabat baiknya untuk bersuka cita saling bertegur sapa. Saat itu Karna mengucap salam, dan bertanya kepada Sri Krishna, apakah aku termasuk sahabat baik-Mu, dan apa yang dapat ku persebahkan kepada Mu Krishna, demikian Karna bertanya?. Kalau tidak demikian mengapa Aku datang menghampiri mu Karna, demikian jawaban Sri Krishna. Sesungguhnya Aku ingin  berbincang-bincang  bersama mu Karna, tentang peraturan perang yang akan dimulai besok.

Putra Gangga Bisma memutuskan bahwa para guru dan dirinya, walaupun sebagai panglima perang tidak ikut dalam memanggul senjata. Dan Putra Gangga walaupun bisa memilih kematiannya sendiri. Engkau tidak dilibatkan dalam perang besar ini, demikian Sri Krishna berkata. Justru masalah itulah yang sedang ku pikirkan, apakah aku hanya dapat menyaksikan jalannya perang ini, kalau begitu bagaimana aku dapat membalaskan dendam-ku pada Arjuna?. Krishna menjawab, Aku sesungguhnya tak mengerti peraturan perang ini, mengapa Kakek Bisma tak mengijinkan kau ikut berperang. Ketika kau ingin menyaksikan jalannya perang, lakukanlah itu di tempat perkemahan saudaramu. Karna menjawab; mungkin para dewata lebih berpihak kepada adikku Arjuna, tidak terbunuh oleh panah-panahku.

Saat itu pula Sri Krishna bertanya apakah engkau senang dan bahagia ketika dapat membunuh adik-mu Arjuna?. Ini bukan persoalan senang atau bahagia Krishna, tetapi persoalan hutang budi. Saat aku sendiri dan terhina di depan gelanggang penobatan adikku Arjuna sebagai pemanah terbaik di dunia. Saat itu aku menantangnya berperang, agar pengukuhan itu benar telah melewati uji coba kemampuan yang benar-benar disaksikan rakyat asthina pura dan rakyat dari kerajaan-kerajaan lainnya.

Adikku Arjuna saat itu menjawab dan siap menghadapi tantangan itu.  Lalu balik mengekspresikan kemarahannya penuh semangat. Selanjutnya berkata hai Engkau Karna, kesombongan mu itu bukanlah sikap sebagai seorang kesatria sejati, yang mesti mentaati etika dan kesopanan publik, yang mesti menjiwai panah-panahnya. Kecerdasan yang beretika sopan santun, merupakan bakti seorang kesatria menghormati gurunya, demikianlah Guru Drona mengajari ku. Demikian jawab Arjuna penuh semangat di depan gelanggang.

Saat itu pula Ibu Ratu Dewi Kunti, terlihat menyucurkan air mata, mengapa saat seperti ketika dia merasakan dan mengenal anaknya yang dibuang, tak memanggil-ku sebagai salah satu putra. Ketika itu terjadi, derajat kesatria-ku terangkat. Walaupun saat itu ku tak tahu, bahwa Ibu Ratu Asthinapura adalah ibu-ku yang sebenarnya. Tetapi Dia mencariku saat-saat penentuan sikap dalam peperangan ini. Tetapi itu tak terjadi. Aku terdiam sedih dalam  penghinaan itu.

Pada saat Ibu Kunti datang mengajakku kembali, aku-pun tak menurutinya. Walaupun kesadaran-ku menghormati Ibu-ku, telah meresap dalam lubuk hati sanubari-ku, yang aku rindukan belayan kasihnya. Jawaban itu telah diberikan dengan penuh kasih oleh Ibu-ku, dengan mengusap-usap kepala-ku dalam dekapan kasihnya, melalui cucuran air mata yang mengucur deras melampiaskan rasa berdosa dan kerinduannya kepada-ku. Keadaan ini justru membuat diri-ku semakin terjebak dan tenggelam dalam rasa cinta kasih.

Agar tegar menghadapi dilema dua kewajiban yang esensial yang membani jiwa-ku. Tetapi pilihanku tetap patuh kepada Duryodhana yang menghormati-ku sebagai kawan baiknya dan Ibu-ku yang melahirkan dan menyayangi-ku, walaupun tak dapat ku rasakan. Walaupun kash itu sudah aku dapatkan dari Ibu asuh-ku. Tetapi saat itu aku telah memilih dan berjanji bahwa putra Ibu akan tetap lima, apakah aku atau Arjuna terbunuh dalam perang ini, Dewatalah yang menentukan. Saat itu Ibu-ku terdiam sedih diselimuti penyesalan, lalu kembali ke Istana. Tetapi aku tetap memilih jalan takdir-ku.

Saat itu Kripa Acarya, Guru Penasehat Kerajaan menyampaikan keputusannya, bahwa uji coba dan demontrasi  dalam acara gelanggang ini bukanlah perang, oleh karena itu hanya dilakukan dikalangan istana saja. Mendengar dan menyaksikan aturan itu, aku merasa sedih dan ego amarah pelan-pelan ku  redakan sendiri. Karena aku bukan bagian dari keturunan Asthinapura. Walaupun pertanyaan-Ku tak ada yang menjawabnya, apakah keperkasaan dan kecerdasan seorang pemanah hanya bisa lahir di kalangan istana saja, demikian pertanyaan-ku kepada para pembesar istana, tetapi pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Saat itulah Duryodhana yang telah memperoleh hak-hak khusus dari Raja Asthinapura, mengangkat dan menobatkan-ku menjadi Raja di Kerajaan Angga dibawah Asthinapura. Aku merasa sangat berhutang budi atas penobatan dan penghormatan itu. Saat-saat aku terdesak kesendirian Duryodhana mengangkat dan menghormati ku. Saat-saat Duryodhana terdesak aku wajib membelanya, dan itulah janji setia ku padanya.

Menghadapi kenyataan ini, aku lebih tahan menahan gempuran tajamnya panah-panah Arjuna, dari pada menahan hinaan, bila aku ingkar janji. Demikian pula aku merasa amat berdosa atas penghinaan-ku kepada Dewi Drupadi wanita suci, yang ku hina sebagai wanita pelacur yang bersuami lima orang. Saat itu aku terbius situasi yang  membuat kesadaran-ku dikuasai gelap emosi. Aku tak bisa melupakan dan memaafkan diri-ku sendiri atas penghinaan itu.

Saat itu Sri Krishna menjawab, merenungi kesalahan dan dosa yang menyakitkan diri sendiri, adalah jalan terbukanya kebajikan menuju kedamaian surgawi, demikian Sri Krishna menjawab. Mendengar jawaban nasehat itu, Karna merenung, lalu Sri Krishna meninggalkan Karna sendirian karena waktunya sudah habis. Merenungi dan memaknai realitas, merefleksikan dalam kehidupan yang sesungguhnya, memerlukan kecerdasan logika duniawi yang selalu terikat material, dan pilihan yang menyelamatkan harkat hidup dan membahagiakan mencapai pencerahan.

Semua itu merupakan proses edukasi panjang dan berliku, lalu sadar melihat dan merasakan kehadiran jiwa nan suci yang terpanggil lalu “bangkit menyadari kewajiban menjalankan pengabdian menjawab misi hidup dalam kehidupan”. Gambaran pengetahuan hidup yang amat rahasia, walaupun putra Dewa Surya, ketika terjebak kekuatan gelap material oleh sahabat yang menjerumuskan. Akibatnya tak bisa keluar, walaupun berkali-kali nasehat baik hadir dari Sang Penuntun yang menyelamatkan, tetapi berbagai alasan logis membuntukan, hingga tak berani menerobos cengkaraman yang beresiko itu. “Akhirnya Sang Pelindung pergi, dan yang ditinggal tak terlindungi”. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!