
“AURA KASIH”
“CAHAYA ILAHI MENJIWAI KESADARAN BERBUDAYA”.
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis, 19 Pebruari 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika “kebenaran” dikuasai ego, merasa paling benar, sombong, hanya sibuk menyalahkan, menghina, membuli, menghakimi, mengaburkan sejarah, membenturkan yang satu dengan yang lainnya bertujuan menghancurkan. Berbicara tentang kebajikan dharma, tetapi wajah berekspresi asura marah-marah, berteriak-teriak menghina bdan merendahkan yang lainnya. Demikian pula jiwa-jiwa asura seperti itu, tak disadari terpeliharan di dalam diri sendiri, menguasai hati nurani hingga kemurniannya redup tak berpancaran.
Demikianlah kebenaran berbalik mengaburkan kesadaran sejati menggunung menciptakan kegelapan dunia. Tak ada yang bisa luput dari lumpur ketika banjir bandang menggenangi perkampungan. Seperti itulah pengaruh jaman Kaliyuga yang patut direnungi, dimaknai agar tak tenggelam di dalamnya.
Waspadalah larut terhadap kehadiran asura bertopeng kesucian itu. Datang beramah-ramah mengatas namakan ajaran suci tertentu dan orang-orang suci panutan dunia. Lalu meninggikan derajat dirinya, merendahkan yang lainnya untuk dikuasai dan dijajah. Pergolakan dualitas dinamis ini, sedang melanda, sebagai bayang-bayang awan gelap yang mengaburkan sinar matahari. Oleh karena itu mesti disadari sebagai motivasi perjuangan penyadaran dan doa penyempurnaan diri memperoleh kebijaksanaan “pencerahan Ilahi”, yang disebut “kemenangan yang damai santhi dan welas asih”.
Berjuang mengatasi sifat-sifat asura yang berdalih-dalih kebajikan tertentu itu, adalah esensi perjuangan hidup. Ditengah-tengah situasi itu, saat ini atas restu dan kuasa-Nya, melalui ketajaman sinar matahari yang “mencerahkan jiwa-jiwa yang dikehendaki” menyebabkan semuanya nampak semakin jelas. Agar semakin dekat terhadap nilai-nilai kebijaksanaan semesta, yang beragam wujud dan nilai “wiswa rupam” nan toleransi. Itu artinya terbukanya kesadaran dibalik gelombang penggelapan asura-asura itu sendiri. Merefleksikan sikap memperjuangkan sifat-sifat dharma mewujudkan jiwa-jiwa yang santhi dan welas asih.
Merefleksikan sikap memelihara dan menguatkan budaya adiluhung. Merupakan kualitas peradaban leluhur nenek moyang, memperjuangkan dan menyempurnakan hidupnya. Saat itulah cahaya Ilahi meresapi, menjiwai dan menerangi serta mengobarkan semangat perjuangan mencapai tujuan sesungguhnya. Bukan menghancurkan dan ingin menghapus jejak-jejak peradaban suci leluhur lalu mengganti dengan isme dan ideologi keasuraan itu sendiri. Itu artinya upaya perlahan menghancurkan keyakinan dan jati diri yang beradab dan bermartabat. Menabrakan dan membenturkan bertopeng kebajikan, merupakan identitas perjuangannya.
Akibatnya menghasilkan kehancuran dan erosi moralitas yang semakin merosot, membuka diri dan dikuasai asura-asura. Menghadirkan kekerasan dan mengaburkan energi suci (sattwam) yang telah membudaya sebagai martabat mulia. Akibatnya menimbulkan atmosfir buruk, yang semakin memburuk. Melupakan kesejatian diri yang telah terkondisi kuat mengakar dalam perjalanan sejarah. Keterbukaan dan kesantunan dijadikan pintu masuk untuk perlahan menguasai. Ketika sudah demikian asura telah berhasil menguasai. Oleh karena itu sudah semestinya selalu waspada menguatkan iman dan spiritualitas, persatuan dan kesatuan untuk menjaga tanah air demi kesejahteraan bersama. Bukan terus dijual oleh pemimpin-pemimpin bangsa demi kebesaran kekuasaan politiknya.
Berikutnya yang lain ikut menjual sawah ladangnya, berpoya-poya hingga jatuh dalam kemiskinan. Lalu rakyat diadu domba untuk dikuasai sebagai pundi-pundi suara kemenangannya. Menciptakan “politik angin ribut” yang menghancurkan tatanan sosial masyarakat, memenangkan tujuan politiknya saja. Pertunjukan topeng-topeng inilah harus diwaspadai, lalu mampu dan siap membuka dan memproteksi dengan kecerdasan intelektual dan spiritual nan humanis agar kembali ke jalan dharma siap membangun diri sendiri untuk kesejahteraan negeri.
Bertindak selalu merekatkan batu dengan adukan pasir, air dan semen, sesuai aturan yang baik, kemudian disusun dengan rapi bisa menjadi pondasi rumah yang kuat. Ketika batu yang kuat itu dibenturkan dengan batu yang lainnya pasti menimbulkan pijar api yang panas lalu menghancurkan batu itu sendiri. Prilaku yang dianggap “kebenaran” seperti itu, yang sekarang laku dijual dan ditunggangi. Itu artinya kekuatan yang memenangkan kehancuran.
Dibalik realitas itu hadir abdi-abdi dharma yang selalu berupaya terus menerus memaknai dan melaksanakan sifat-sifat kebenaran hakiki, agar mampu menerjemahkan melalui bahasa praksis mencapai kegunaan hidup jasmani dan rohani. Tetapi masih bekerja di ruang senyap, dekat dengan sentuhan kasih alam semesta. Inilah budaya yang kemudian menjadi kebudayaan sesungguhnya.
Menciptakan kualitas humanis nan harmoni, menang menjadi “kebenaran” yang mendamaikan, bukan memenangkan kebenaran ego kelompok. Menjadi citra psikologis yang menjauh dari rasa persaudaraan yang berbhinneka. Akibatnya kabut gelap semesta raya menggulungnya. Menciptakan kabur kebajikan, memecah belah, bersatu padu dengan propokator tak merasa malu, tetapi tetap berteriak atas nama “kebenaran”. Menciptakan kekuatan spirit identitas bertopeng spiritual menjadi penjajahan baru. Menekan dan menghimpit rasa damai yang berkesadaran toleransi menjadi panatik buta larut dogmatisasi.
Berkenaan dengan realitas itu, sikap religius vertikal dan horizontal yang mengakar pada rasa toleransi, mesti sungguh-sungguh diperjuangkan diperkuat oleh pengetahuan suci kebenaran dalam berkesadaran budaya dan spiritual yang intensif. Budaya adalah refleksi kehidupan yang bernilai interfenetrasi antara manusia dengan alam lingkungan, menciptakan karakter identitas lokal berjiwa universal. Artinya esensi budaya itu adalah sistem untuk mencapai kesejahteraan hidup jasmani dan rohani, lalu hidup mensejarah. Keunggulan budaya yang telah mendunia, ingin terus disirnakan dengan alasan-alasan tertentu.
Ketika sejarah mulai dibelokkan atau sengaja dikaburkan, lalu ditumpangi dengan ideologi dan identitas baru, maka pertahanan dan perjuangan mempertahan bersama-sama adalah kebenaran. Pengaburan indentitas lalu meninggikan diri, sebagai tamu di rumah kita sendiri, lalu semua tanah ini dianggap miliknya, seperti itulah strategi penjajah mengawali strategi penundukannya. Memaknai realitas dinamis itu perlu kesadaran hidup berbudaya dan penguatan sikap hidup berbangsa dan negara, mempelajari sejarah sebagai dasar penguat kesadaran identitas bangsa yang berjati diri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments