November 3, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“PAGAR BESI YANG ROBOH”

Oleh:  I Ketut Murdana (Selasa,03 Nopember 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Menyaksikan dinamika dan kegaduhan situasi, perebutan kursi kekuasaan. Terus bergerak yang digerakkan, lalu saling mencari kesalahan, dan kelemahan masing-masing, ditengah-tengah ambisi yang menggelapkan. Kemudian ingin saling menjungkalkan, mengganggu stabilitas kinerja para pemimpin dan rakyat. Berakibat  “membingungkan” dan sibuk protes dan demo-demo, dari pada upaya mendulang prestasi. Bagaikan pagar besi yang roboh kerena karatan, keimanan yang roboh oleh karat napsu emosional yang menerjang. Lalu menjadi bangsa tertinggal. Tetapi maju korupsinya, sibuk gelar gelur menutupi kebohongan dan  kemunafikannya. Walaupun ditutupi oleh teriakan-teriakan berbuih menyebut nama Tuhan. Tetapi tak sigap, penuh kesantunan melaksanakan ajaran-Nya.

Dibalik kekalutan pergulatan emosional politik asura itu, dapat dimaknai sebagai proses makro dan mikro, dapat dimaknai bahwa dinamika kegaduhan itu sebagai proses penggodokan “Alam Semesta” yang dikendalikan oleh “Kuasa-Nya yang bergerak di ruang sunyi”, untuk melebur sifat-sifat buruk yang menggurita dan menggunung itu, untuk mencapai sifat-sifat hening nan suci mendamaikan yang disebut proses akhir jaman.

Hanya Tuhan penguasa Alam Semesta lah yang memiliki kuasa untuk itu. Oleh karena itu “Bhakti” dan bergerak berjuang mengabdi dharma adalah jawabannya, bagi setiap insan. Bukan sibuk “menuntut”, tetapi berbuatlah yang baik, benar dan tulus ilhlas, mengisi diri mempersembahkan prestasi. Bukan setiap diberi kesempatan hanya berprestasi untuk korupsi.

Bagaikan pemutaran Giri Mandara di Samudra Mantana untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian dunia itu kembali. Semua itu diakibatkan oleh kesombongan Dewa Indra yang menghina berkat Dewi Parwathi,  hasil pertapaan panjang Rsi Dhurwasa. Anugrah itu akan dipersembahkan kepada Dewa Indra, untuk kesejahteraan dunia. Dewa Indra datang untuk menerima anugrah itu, mengendarai Gajah Aerawatha. Saat anugrah yang disimbolkan sebagai kalung bunga, dipersembahkan oleh Rsi Dhurwasa diterima dan diambil melalui belalai gajah Aerawatha, lalu jatuh dan diinjak-injak.

Menyaksikan keadaan itu Rsi Dhurwasa marah besar lalu mengutuk Dewa Indra. Hai Dewa Indra akibat keangkuhan Mu itu, Aku mengutuk-Mu, semua kemewahan dan kesejahteraan para dewa dan manusia akan segera hancur. Setelah kutukan itu, busana para dewa menghilang dan Dewi Sri Laksmi, Dewi Kesejahteraan material juga menghilang. Kitab Catur Weda dicuri oleh asura. Memaknai persoalan itu  penguasa alam Dewata dan penguasa duniawi, ketika kesalahan terjadi akibat keangkuhannya, maka rakyat akan menderita.

Memperoleh kutukan sebagai pahala “penyadaran” keangkuhan yang membabi buta, karena tak mampu memahami dan memaknai anugrah semesta yang mensejahterakan itu. Walaupun Dewa Indra mohon ampun berkali-kali, tetapi kutukan tak bisa ditarik kembali. Oleh karena itu memerlukan “perjuangan” yang sungguh “mengubah takdir” akibat dosa. Guna mewujudkan kesejahteraan dunia kembali, seperti itu dharma seorang pemimpin bangsa. Membebaskan kutukan melalui perjuangan bersama-sama antara Dewata dan Asura mesti saling merangkul dalam batas-batasnya masing-masing. Bukan saling menghancurkan. Karena keduanya tercipta sebagai energi dualitas yang saling memerlukan dan saling menyempurnakan untuk mencapai “guna”, menyeimbangkan dunia.

Kegaduhan demi kegaduhan yang berbasis perebutan kekuasaan untuk pengukuhan kemenangan ego yang menghancurkan itu terus terjadi. Lahir insan-insan pemabuk agama, menjadi keimanan palsu, doa-doa setan penghancuran terus dilantunkan, pemerkosa Ibu Pertiwi, pencuri dan penentang keadilan, koruptor, pembunuh hak-hak rakyat berdalih-dalih kebajikan, menjadi penjilat dan pemerkosa gadis-gadis. Setelah memperoleh posisi, tak terkendali menjadi koruptor yang lebih dahsyat dan super canggih. Gelora napsu dan kemunafikan ini sedang menguasai panggung permukaan berganti-ganti pemain, berjiwa asura yang sama, dengan karakter topengnya masing-masing. Barangkali inilah wujud nyata racun-racun mematikan, yang muncul dari efek putaran energi semesta nan dualitas itu, menuju pencapaian poros energi suci (Amritham) yang mendamaikan. Agar mampu merasakan kebenaran semesta itu sabar dalam berbuat baik dan tetap tenang menghadapi resiko dibalik semua itu.

Setiap tahapan proses merefleksikan kondisinya masing. Sebelum hadirnya Amritham sebagai tujuan utama, dari putaran pertama yang keluar adalah racun yang bisa menghancurkan seluruh kehidupan. Tidak ada yang bisa menyelamatkan. Hanyalah Dewa Shiva yang bisa menyelamatkan situasi dari melubernya racun bumi. Atas permohonan Para Dewa dan Asura, yang dibantu oleh Dewi Parwathi Dewa Shiva meminum racun itu, dan menahannya di tenggorokan, agar tak meresap keperut. Itu artinya racun itu ditahan oleh kekuatan Ilahi agar tak menghancurkan dunia. Oleh karena Kuasa itu, maka oleh para suci  Dewa Shiva disebut Nila Kanta, tenggorokan yang berwarna biru.

Sekarang nampaknya kekacauan yang diakibatkan perebutan kekuasaan yang sedang bergelora. Amat sulit dibayangkan hancurnya, kecerdasan ilmu pengetahuan dan etika, hancurnya rasa malu menurunkan derajat kemanusiaannya. Itu artinya sedang terjadi erosi keimanan menggelap yang membodohkan, menjadi “pembenaran”. Oleh karena pemalsuan kebenaran menjadi pembenaran, maka berakibat menghancurkan. Tidak memperbaiki tetapi menjadi kekuatan politik yang saling menghancurkan. Berlomba-lomba menjadi pendusta, pencuri dan kotuptor.

Akibat dari semua itu, rakyat, negara dan bangsa semakin merosot jatuh dalam kemiskinan. Sebagai akibat prilaku  bersahabat memuja sifat asura, menghancurkan pagar keimanan yang sesungguhnya melindungi. Tetapi itulah yang sedang terjadi dipermukaan, yang mesti dimaknai sebagai tontonan dan tuntunan dibaliknya. Seperti itulah kesadaran menyaksikan dan menyimak menguatkan sikap hidup mengabdi di jalan dharma kebajikan. Menguatkan iman keyakinan berjuang di jalan dharma menyempurnakan diri, agar semakin kuat bagaikan “berpagar besi dan baja”. Walaupun kebenaran dan keyakinan ke arah itu belum diminati oleh banyak orang. Kuatkan keyakinan kepada dharma dan kasih suci-Nya, saatnya jawaban kemenangan dharma pasti terjadi, saat itulah kejayaan atau jaman keemasan. Bukan bayang-bayang lagi tetapi menjadi kenyataan yang benar-benar dirasakan. Oleh karena itu, pagari diri dalam perjuangan dengan keimanan yang kokoh dan tulus, “merawat agar terawat melalui tuntunan kasih-Nya”. Bagaikan berpagar besi dan baja, serta terawat cat yang cantik, indah nan Sundharam. Demikianlah cara memahami, memaknai nilai-nilai “Pager Wesi” menjadi sikap hidup berprilaku “disiplin rohani” sesuai tuntunan ajaran Leluhur, untuk kedamaian bagi yang sedang hidup, guna meluhurkan martabat masing-masing. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!