March 5, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SENI KECERDASAN YANG MENYELARAS HARMONI”

Oleh:  I Ketut Murdana (Kemis, 05 Maret 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Seni adalah kecerdasan melihat dan mendengar serta menimbang-nimbang lalu mengekspresikan lewat media tertentu, mencapai harmoni indah mempesona. Maksudnyja melihat dengan kecerdasan indrawi maupun dengan kecerdasan rohani. Artinya dibalik realitas indrawi yang tersaji, mampu melihat dan merasakan getaran energi tersembunyi yang meresapi setiap wujud karya seni. Getaran energi itu mengantarkan ke ruang ilusi-ilusi nan imajinatif, menemukan “bayang-bayang menyegarkan”. Entahlah alur narasi ilusif, imajinatif nan intuitif.

Dalam konteks mencapai kecerdasan inilah manusia digambarkan sebagai Ganesha bermata kecil tetapi pengelihatannya tajam. Mampu melihat sesuatu yang jauh ke alam luas dan jauh ke dalam lubuk hati nurani (Dura Darsana). Bertelinga lebar agar mampu mendengar sesuatu yang jauh agar mampu menyelamatkan diri dari sesuatu yang membahayakan, untuk mencapai kemenangan hidup yang damai santhi dan welas asih (Dura Srawana). Berkepala gajah,  menjadi sifat Sura Dira, bebas dari sifat-sifat asura,  yang terpenggal dari kesombongan ego yang tak mengenal Sang Pencipta sendiri. Berganti nama dari Winyaka menjadi Ganesha, sebagai anugrah Dewa Shiva memperoleh kekuatan suci yang membebaskan dari segala hambatan mencapai tujuan.

Melalui kesadaran dan perjuangan suci kemuliaan dalam pengabdiannya, Ganesa mencapai peningkatan kesejatian diri, menjadi Gana Pati sebagai putra Dewa Shiva yang amat cerdas. Seni merupakan salah satu jalan meningkatkan harkat, mencapai kecerdasan emosional dan spiritual serta membebaskan belengguan logika rasional yang terukur kuantitatif. Ketika kesadaran kreatif dan penikmat seni dipahami sebagai pembacaan narasi penciptaan, regulasi dan penyempurnaan diri seperti itu, maka seni merupakan salah satu wahana nilai-nillai spiritual yang edukatif penyempurnaan diri yang seluas-luasnya.

Dari rangkaian semua itu nilai-nilai simbolik dihadirkan oleh seni, mengisyaratkan suatu yang tersembunyi, terbuka di ranah realitas, sebagai kesadaran baru. Sikap simbolik lainnya berupa sikap kritis terhadap sesuatu yang stagnan nan naturalistik. Akibat kesegaran bayang-bayang itu, dikuatkan oleh narasi-narasi psikologis, pengalaman estetis dan religius tertentu. Bisa menjadi ketetapan wujud tertentu, lalu hadir diberi nama hingga “bernama”. Seniman penemu Barong, Rangda, Candi Bentar dan seterusnya yang luar biasa itu menjadi ketetapan lalu ditradisikan. Nama-nama wujud seni yang mengagumkan itu, diibaratkan seperti manusia yang memiliki nama atau “bernama”.

Bukankah temuan wujud itu, saat pertama kali hadir ditengah-tengah masyarakat, sebagai sesuatu yang baru?. Tetapi akibat ada pihak penguasa yang melindungi dan masyarakat yang mencintai, akhirnya menjadi tradisi yang semakin kuat dan membudaya hingga kini. Bahkan menjadi identitas budaya tertentu yang “bernama” hingga dikenal dunia.

Dengan demikian seni hadir bernama sebagai simpul narasi historik, filosofis, psikologis, estetika, religius, dan seterusnya untuk dikenal lebih lanjut bagi upaya-upaya pendalamannya. Dari sudut pandang seni, konstruksi wujud estetik seni yang telah mengabdi pada kekuatan filosofi dan religius mencapai Sundharam. Menjadi konfigurasi penyatuan semua kaidah keilmuan menjadi kesadaran berpengetahuan yang saling melengkapi dalam penyempurnaan. Ketika perjuangan pada kesadaran ini dipahami dan dilaksanakan dalam komitmen bersama-sama, menjaga alam dan seluruh ciptaan-Nya, mewujudkan rasa damai Santhi dan welas asih, maka bibit-bibit permusuhan dapat diredam dan menghindari perang besar. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!