April 18, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“LANDEP; KESADARAN BER-ENERGI SUCI, MENEMBUS KEGELAPAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 17 April 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ditengah-tengah dinamika gelombang limbah lumpur polusi, akibat prilaku sifat-sifat asura, menggelapkan situasi dunia. Berbau busuk semakin menyengat. Meluberkan perang intrik, isu buruk, bulian rujak merujak, korupsi menggila, kehancuran alam merajalela, banjir, sampah dan lain sebagai. Termasuk sampah pikiran merajalela mengacaukan atmosfir rasa persaudaraan, yang terus dipelihara. Penegakan hukum terus melemah, mengakibatkan keadilan amat mahal. Apabila keputusan “adil” terjadi, sebagai hasil penuh rekayasa, akibatnya menghasilkan keadilan yang bersifat sementara, lalu menyengsarakan. Memudarnya moralitas diantara gema ritualitas, teriakan kencang doa-doa bercorong dan ceramah berbayar mahal. Tak mampu menghadapi kekuatan gelombang gelap “peredup” Jaman Kaliyuga, yang terus membutakan hati nurani.

Gelombang gelap berkabut misteri ini, mesti dimaknai sebagai upaya sadar bersama-sama, untuk mengubah prilaku, yang kurang baik menjadi lebih baik, benar dan bijaksana. Insan-insan cerdas bijaksana, berkeyakinan kuat, sadar pada realitas lalu bergerak menguatkan sifat-sifat dharma, mesti terdepan menggerakkan, bagaikan kereta api mengantarkan penumpang menuju kota tujuan yang benar.

Para tokoh yang sudah berlimpah material, semestinya ikut menyejukkan suasana, menurunkan sedikit energinya untuk mengurug jurang kemiskinan yang menganga lebar. Bukan justru semakin rakus, mengeruk lumpur lembah-lembah, jurang-jurang untuk meninggikan gunung.  Bukan memperkeruh suasana, demi kepentingan pribadinya. Itu artinya terus memuaskan napsu material, yang akan menghasilkan generasi sibuk merebut warisan.

Tokoh-tokoh yang mesti menjadi panutan justru terus menerus berbicara kasar tak beradab menjelekkan dan menghina lawan politik, bertopeng seolah-olah cerdas spiritual, tetapi tak tahu malu. Merontokkan martabat kemanusiaannya sendiri, dianggap benar. Lalu berubah wujud dari Widura menjadi Sengkhuni, terus mengembangkan keturunannya, menjadi Sengkhuni-Sengkhuni baru. Akibatnya menjadikan kekuatan “Raja” politik berwajah dan berjiwa Sengkhuni semakin liar, membabi buta. Membenturkan kebenaran dan keyakinan, yang sudah mengakar luas, mendalam dan universal, dikurung kembali oleh ego sektoral  yang menyempit, menciptakan kegamangan dan ketakutan agar bisa menguasai.

Untuk mendongkrak popularitas jargonnya sendiri. Lalu bertengger seolah-olah menjadi pelindung. Pada sisi yang lain justru lebih suntuk “mendengar”, ceramah yang justru lebih banyak memudarkan keimanan dan pembelokan sejarah. Mengurung rapat-rapat vibrasi suci budaya adiluhung yang merupakan karakter bangsa yang dicintai dunia. Pengagungan diri untuk diikuti, lalu terjebak penistaan berlarut-larut, memendam rasa takut, karena malu tertipu.

Menyimak dan memaknai guliran gelombang limbah polusi ini, tentu sulit dibayangkan entah sampai kapan mereda, hingga hening meresapi jiwa-jiwa insan-insan duniawi. Optimisme mesti ditanamkan benar-benar di dalam diri, untuk menyadari posisi putaran jaman yang disebut Catur Yuga itu sendiri. Posisi putaran roda jaman sedang menutupi kebajikan dharma, hingga memerlukan kesadaran dan kekuatan tersendiri untuk menghadapi lalu menembus kegelapannya.

Insan-insan duniawi saat ini, nampaknya sedang memperoleh proses ulang “penyadaran”.  Membangkitkan sifat-sifat dharma, melalui kualitas proses tertentu, dalam kawah  peleburan-Nya sendiri. Diantara semua keterlibatan itu, memasuki prosesnya masing-masing dengan masalah dan penghayatannya masing-masing pula. Karena didalamnya ada sistem kerja personalitas yang disebut “hukum karma” itu sendiri. Menghadapi kompleksitas kehidupan luas insan-insan duniawi. Ada yang menjerit karena merasa menderita. Ada yang tertawa terbahak-bahak karena menang, mengalahkan orang lain. Ada merasa senang menguasai materi sebanyak-banyaknya. Menyesali perbuatan buruknya. Ada menderita karena sakit tak sembuh-sembuh, walaupun uangnya banyak. Ada menderita akibat kecantikan parasnya. Ada yang bahagia dengan kesederhanaannya, seterusnya.

Limbah proses karma insan-insan duniawi ini, membuka ruang persepsi dialogis, multi tafsir menggiring keputusan langkah prilaku. Entahlah sadar agar bisa keluar, atau berjuang keluar, atau membiarkan diri tenggelam dalam limbah gelap itu?. Demikian pula telah kepanasan, lalu ingin keluar, tetapi tak menemukan jalan keluar. Akhirnya hanya bisa berceloteh dalam himpitan masalah sosial. Adapula yang tak memahami kondisi personalnya, hingga tak tahu apa yang semestinya dikerjakan. Pertanyaan inilah yang berdimensi spirit prilaku penyadaran diri.

Ketika dimensi sentuhan rasa itu, menyengat menyentak hati nurani, agar segera berjuang menyelamatkan diri, seperti itulah wujud energi kesadaran, yang “memanggil”. Menghempaskan kabut pembungkus kesucian hati nurani (Atman). Seperti itulah nampaknya, “Kekuatan alam semesta Yang Maha Sadar Menyadarkan”. Walaupun amat sulit disadari, Alam Semesta selalu “diam”, “penuh isyarat” untuk memanggil jiwa-jiwa tenggelam dengan anugrah energi suci-Nya, tanpa disadari. Mengantarkan jiwa-jiwa ke jalan penyelamatan duniawi yang tak disadari.

Tak sadar pada kebenaran itu, mengakibat jiwa-jiwa semakin terkondisi oleh selera rendah, pemuja  keinginan napsu yang semakin liar. Oleh karena itu, jalan penyelamatan jiwa-jiwa itu adalah  “Dia” yang “menjadikan” agar bisa “menjadi” jiwa-jiwa yang sadar kepada kebenaran dirinya sendiri, lalu sadar pada kewajiban hidupnya, yang disebut “Shiva Gamaya”. Jalan panjang penyadaran jiwa-jiwa inilah edukasi kehidupan sejati yang disebut jalan spiritual, yang memerlukan keberanian, keyakinan, keilhlasan.

Walaupun memasuki nilai-nilai kebenaran prilaku itu tak mudah, tetapi berjalan atas perjalanan kewajiban itu, langkah demi langkah. Saat itulah langkah-langkah itu dikuatkan dan disucikan oleh Kuasa-Nya, hingga saatnya menjadi misi suci kehidupan yang mempribadi menyatu dalam pelayanan sesungguhnya. Saat itulah “penyatuan” yang membahagiakan terjadi dengan sendirinya.

Demikianlah Rsi Agastya dari India Utara, ke India Selatan, Asia Tenggara ke Indonesia melayani kuasa suci-Nya untuk kesejahteraan umat manusia. Kemudian dilanjutkan oleh Maha Rsi Markandeya dari Jawa hingga amat besar perannya di pulau Bali. Demikianlah kasih suci keillahian, yang diturunkan untuk melayani umat manusia. Itu artinya kekuatan cinta kasih Ilahi diturunkan lewat insan pilihan-Nya sendiri. Agar bisa berkomunikasi dekat dengan segala tingkah laku insan-insan duniawi

Tak mudah membayangkan apa yang sesungguhnya menggerakkan hati, pikiran dan prilakunya hingga ajarannya demikian meresap pada jiwa raga sebagian jiwa-jiwa insan-insan duniawi, hingga kini masih dimuliakan. Renungan ke arah personalitas dan ekspresi laku spiritual itu, memberi, menuntun dan mengangkat derajat martabat insan-insan duniawi ke arah penyempurnaan menuju kesejatian diri. Menjadi kuat mengakar lalu vibrasi kemuliaannya dapat dirasakan hingga kini. Barangkali seperti itulah rasa kasih abadi yang bervibrasi.

Seperti itulah kasih Ilahi yang terbawa, lalu memberi, menuntun dan membebaskan, bagi yang menempatkan kesadaran atas keyakinan terhadap kebenaran itu. Dibalik itu semua tak adanya kesadaran terhadap aliran energi besar nan suci itu, walaupun dekat dan hidup disekitarnya, entahlah sebagai penunggu tentu sulit pula merasakan kebenaran itu, karena niat dan kepentingannya berbeda. Akibatnya mereka hanya memanfaatkan tempat suci sebagai upaya perhelatan material memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun telah dikondisikan oleh pemimpin untuk menjaga ketertiban dan kesuciannya, tentu amat sulit mengendalikan jiwa-jiwa premanisme semakin ganas dan liar.

Itu artinya energi suci tak terserap dan buntu tak terwadahi. Dimensi dasar inilah realitas kebanyakan, yang memerlukan penanganan sungguh-sungguh, diantara logika material dan pendewasaan spiritual bersama-sama. Akibatnya hanya sebagai penonton ritual, lalu larut dalam riak destinasi material. Walaupun semua itu tak terhindari, semestinya tersugesti pula dalam etika pelayanan yang sesungguhnya.

Bukan memainkan peran menipu konsumen yang dapat menodai citra kesucian tempat suci dan suasana ritual yang mendamaikan. Menembus kabut gelap misteri di dalam diri dan di ruang sosial semesta raya, melalui kesadaran yang tajam (Landep), inilah tugas besar insan-insan duniawi, memaknai arus besar dunia material, maresapi nilai-nilai kebenarannya, untuk mencapai penyempurnaan hidup yang damai membahagiakan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!