Adat dan Tradisi

Bersihkan Kegelapan Jiwa, Bangkitkan Getaran Kesucian Diri Ashram Vrata Wijaya Gelar Ritual Gangga Astuti

BULELENG (CAHAYAMASNEWS). Adbhirgatrani Suddhyanti, Manah Satyena Suddhyanti Widyatapobhyam Bhutatma Budhhir Jnyanena  Suddyanti. (Manawa Dharmasastra, V. 109). Artinya: Badan dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran (satya), Atman dibersihan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, sedangkan Budhi disucikan dengan Jnyana. Terkait hal itu Ashram Vrata Wijaya memiliki tradisi penyucian diri yang disebut dengan Gangga Astuti yang dilakukan saban setahun sekali. Kegiatan kali ini dirangkai dengan peringatan hari jadi Ashram. Gangga berarti air dan Astuti berarti memuja. Artinya; sebuah ritual memuja air agar diberkati penyucian diri lahir dan bhatin. Gangga Astuti ini sesungguhnya telah dilaksanakan masyarakat secara luas. Dalam tradisi masyarakat Hindu Bali ritual penyucian ini disebut Penglukatan Agung, sementara dalam instilah Veda disebut ritual Gangga Astuti. Dimana makna, tujuan, dan esensinya tidak jauh berbeda.

Bertepatan pada rahina Redite Kliwon wuku Bala, Minggu (27-10-2019) lalu, Ashram Vrata Wijaya melaksanakan penyucian diri lahir dan bhatin melalui prosesi ritual Gangga Astuti yang tahun ini dilaksanakan di kawasan pantai Pura Ponjok Batu, Buleleng. Ritual yang diikuti ratusan bhakta ini berlangsung sangat kidmat dan khusuk. Rombongan yang sebagian besar mengenakan pakaian warna ungu ini berkumpul di pelataran depan Pura Ponjok Batu, sebelum kemudian menuju tempat pelaksanaan ritual. Air merupakan suatu benda yang tidak bisa dipisahkan dari makhluk hidup dan kehidupan di muka bumi ini, yang merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup tidak terkecuali. Begitu pula tanah sebagai tempat untuk berpijak semua makhluk hidup yang berfungsi sebagai ibu pertiwi untuk melebur dan memusnahkan segala kekotoran di muka bumi ini dan sekaligus menjadi sumber air.

Sehingga air merupakan segalanya bagi makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan serta manusia sehari-hari sangat membutuhkan, bahkan tubuh manusia 75 % terdiri dari air. Agar tubuh berfungsi dengan baik, maka dalam tubuh diperlukan ukuran tertentu. Dengan airlah manusia membersihkan tubuh fisik maupun spiritualnya. Secara nyata manusia membersihkan tubuhnya dengan mandi, sementara untuk membersihkan tubuh spiritualnya dilakukan dengan memercikkan Tirtha (air yang sudah disucikan dengan puja mantra khusus sesuai dengan fungsinya). Demikian juga tradisi yang disebut Gangga Astuti, sebuah ritual pembersihan dan penyucian diri lahir dan bhatin yang dilakukan di Ashram Vrata Wijaya yang beralamat di Jalan Siulan Gang Nusa Indah III No.3, Desa Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, yang menggunakan esensi air sebagai sarana dasarnya.

Guru Sri Hasta Dhala pendiri sekaligus panglingsir dan penuntun di Ashram Vrata Wijaya mengatakan, bahwasannya Gangga Astuti itu bisa dilakukan di sungai, di laut, dan atau di klebutan/sumber air. Prosesi ritual Gangga Astuti yang dalam masyarakat umum disebut ‘Pengelukatan Agung’ ini, dilakukan setiap setahun sekali. Gangga berarti air dan Astuti berarti memuja. Artinya; memuja air agar diberkati penyucian diri. Gangga Astuti ini sesungguhnya telah dilaksanakan masyarakat secara luas, yang kalau di Bali sering disebut Penglukatan Agung dan dalam istilah Weda disebut Gangga Astuti. “Karena tubuh manusia 75 persen terdiri dari air, oleh karena itu melalui airlah kita melakukan penyucian diri. Berkat Tuhan yang paling meresap adalah melalui air. Melalui Tirtha ini penyucian tubuh spiritual ini terjadi. Ketika tubuh telah tersucikan oleh Amritham Gangga ini, maka secara perlahan dia akan peka dan mampu menerima getaran-getaran suci dari Tuhan yang Maha Kuasa melalui alam semesta atau Prakerti,” ujar Guru Sri Hasta Dhala seraya menambahkan, dengan demikian berarti komunikasi terhadap alam/ibu pertiwi terjadi dengan sendirinya.

Manakala kepekaan diri seseorang telah bangkit dan tumbuh, serta mampu menerima getaran-getaran suci dengan baik, berarti orang yang bersangkutan akan semakin takut melakukan kesalahan, kebohongan, dan perilaku negatif lainnya. Sebaliknya, justru dia akan berusaha semaksimal mungkin melakukan kebaikan dan kebajikan. Jika itu telah terjadi, inilah yang disebut “Manusa Kertih atau Atma Kertih”. “Orang akan semakin takut melakukan kesalahan, kebohongan, karena dalam dirinya telah terjadi penyucian. Seiring meningkatnya kualitas kesucian seseorang, maka semakin meningkat pulalah kualitas kecerdasan spiritual yang berdampak pada kualitas perilaku baik orang yang bersangkutan,” ujar Guru Sri Hasta Dhala yang dikenal ramah, bersahaja dan memiliki segudang pengalaman ini, menjelaskan.

Praktek-praktek ke arah penyucian diri lebih ditekankan dan sudah biasa dilakukan di Ashram Vrata Wijaya. Karena baik buruknya, lestari maupun hancurnya alam tergantung sejauh mana kualitas penghuninya, dalam hal ini adalah manusia itu sendiri. Sumber kekacauan di dunia ini adalah bersumber dari manusia itu sendiri. Kalau manusianya rusak secara otomatis alam juga akan ikut rusak, termasuk lingkungan sosialnya, karena tidak ada yang mengendalikan dalam dirinya. “Untuk mengendalikan diri itulah, penyucian demi penyucian wajib dilakukan secara benar, tepat, tulus, dan berkesinambungan. Tidak hanya oleh bhakta, tetapi juga masyarakat secara umum, sehingga diharapkan alam menjadi lestari dan mampu memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi semua penghuninya,” katanya bertutur.

Penyucian diri yang dibarengi dengan sentuhan guru, akan dapat membawa dampak vibrasi yang diharapkan. Penulisan aksara OM dalam hal ini yang dilakukan sebelum melakukan ritual penyucian itu artinya; bahwa berkat yang paling utama adalah pengetahuan. “Pengetahuan itu dimulai dari aksara OM, melalui aksara OM inilah, kita mohonkan kepada Tuhan Siwa, agar air laut itu berubah menjadi Amritham (Anugerah kesucian dan kesejahteraan). “Melalui berkat Amritham Gangga ini, kita memohonkan kepada Tuhan agar diberkati penyucian diri. Penyucian diri yang utama adalah penyucian badan sekaligus penyucian indria-indria yang dibalut kegelapan sehingga mengungkung kesadaran suci dari jiwa kita sendiri. Kesadaran suci inilah sesungguhnya yang disebut dengan Atman. Kegelapan dalam diri inilah yang harus terus-menerus dibersihkan secara periodik, salah satunya dengan melakukan ritual Gangga Astuti ini, sehingga diharapkan para bhakta memiliki kualitas spiritual yang mampu membawanya ke dalam kehidupan yang lebih baik, damai, dan sejahtera,” terang Guru Sri Hasta Dhala. *** Cahayamasnews.com/Andi.

Facebook Comments