
“AURA KASIH”
“BANGKIT BERKESADARAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 07 September 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Bangkit bersama sadar yang berkesadaran Ilahi, amat diperlukan situasi jaman ini. Artinya prilaku yang berkesadaran untuk mencapai kebenaran sejati. Merefleksikan kesejatian diri hidup ditengah-tengah masyarakat. Dalam kontek berbangsa dan bernegara, selalu merujuk kepada Sila Ketuhanan yang menjiwai dan merefleksikan sikap dan prilaku hidup yang sesungguhnya. Berkesadaran menyeimbangkan kerja di ruang material dan sadar penyempurnaan di ruang rohani. Penguatan kesadaran ini penting agar mampu menghadapi aura buruk, pergulatan politik kekuasaan asura yang saling menghancurkan. Bukan saling merangkul ditengah-tengah gelap hirup pikuk kepentingan, merefleksikan budaya tipu-tipu.
Walaupun semua kehadiran konsep dasar perpolitikan itu konon merujuk kepada Dasar Negara dan Undang-Undang Dasar, konon menperjuangkan kepentingan rakyat, yang demokratis. Bagaimana pembinaan, kontrol, penertiban dan pembinaan serta penindakan tegas dari penegak hukum?, perlu mendapat suport dari semua unsur. Bukan dimainkan terus demi kepentingan sempit yang menggendutkan perut pribadi-pribadi tertentu saja. Akibat menciptakan krisis kepercayaan dan runtuhnya wibawa pemimpin.
Memainkan demokrasi melalui tapsiran sebebas-bebasnya, hingga merendahkan dan menghina pemimpin dan tokoh-tokoh di depan publik dianggap sebagai kritik. Bahkan diwadahi media informasi yang berpihak kepada yang membayar, bukan mengedukasi dan menjernihkan informasi yang kotor, justru membiarkan semakin bertambah kotor.
Lalu gerang gerung bersuara keras bagaikan knalpot bocor tak tentu arah, hanya ingin perhatian dan mengacaukan saja. Justru orang-orang seperti ini dipuja-puja, oleh penunggangnya, yang dielu-elukan sebagai intelektual dan filosuf. Konon cerdas berintelektual menghina orang lain, membanggakan diri bermulut besar. Konstruksi identitas bertopeng kebajikan itu, terus dimunculkan silih berganti untuk “menjajah” saudara sendiri.
Namun dibalik itu semua patut menjadi renungan, mengapa realitas seperti “hadir” ditengah-tengah situasi kini?. Barangkali kondisi psikologis nan situasi realistik seperti itu, dihadirkan oleh kekuatan semesta, muncul menggelontor terus, agar dapat direnungi. Meresapi makna mengedukasi kesadaran agar berkesadaran memainkan peran hidup dalam kehidupan jasmani dan rohani.
Gelora dan gelontoran vibrasi buruk itu, semakin memuncak, hingga tak ada rasa malu dan rasa takut sedikitpun berteriak lantang menghina orang lain. Pemerintah bahkan presiden, mantan presiden, mentri, orang suci dihina dan dicaci maki berkedok demokrasi. Berbayar tersembunyi, tetapi tercium walaupun sulit membuktikan kelihaian dari permainan itu. Tetapi semesta tak buta dan tak diam, melalui hukum-Nya menyaksikan realitas itu. Lalu mentransformasikan ke ruang publik agar insan-insan yang sadar dan berkesadaran dapat merenungi, lalu memaknai dan mampu memproteksi diri sebaik-baiknya, untuk menguatkan prilaku kebajikan dharma itu sendiri.
Tentu menimbulkan pertanyaan yang tak perlu dijawab oleh kata-kata, karena alasan dan sebab akibatnya, bisa dibuat lalu berputar-putar nyelimet bagaikan benang kusut. Akhirnya masalah berjalan sendiri dan alasan berjalan sendiri-sendiri. Persoalannya adalah mengembalikan kesadaran diri yang berkesadaran hidup, memancarkan jiwa yang Santhi dan Welas Asih, mengendalikan diri untuk memahami, memaknai dan menyikapi kehidupan di dalam diri dan berinteraksi di ruang sosial berbangsa dan bernegara. Hidup bukan sekedar memuaskan napsu pribadi semata, tetapi sadar hidup bersama yang saling memberi dan saling menerima dalam suasana bersatu padu menciptakan kerukunan hidup bersama. Ketika kesadaran ini telah hadir dalam diri setiap insan, maka prestasi kebajikan yang mengharumkan nama bangsa dengan sendirinya muncul ke permukaan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments