News

Komisi VIII DPR RI Kunjugi Pura Dalem Langgar Desa Bunutin

BANGLI (CAHAYAMAS-NEWS). Dalam rangka menjalankan tugas fungsi Komisi VIII DPR RI yang membidangi urusan keagamaan, maka digelar acara kunjungan kerja di Pura Dalem Langgar Desa Bunutin Kecamatan Bangli. Acara yang dipusatkan di Wantilan Pura Dalem Jawa Langgar dihadiri oleh Wakil Bupati Bangli, Komisi VIII DPR RI, Kemeterian Agama Provinsi Bali, Kemeterian Agama Kabupaten Bangli, Tokoh Adat dan Pengelola DTW Pura Dalem Langgar Rabu(18/12/2019).

Wakil Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, menyampaikan selamat datang pada Rombongan Komisi VIII DPR RI yang dipimpin oleh Bapak Haji TB. Ace Hasan Syadzilly. “Kami perkenalkan Kabupaten Bangli adalah salah satu Kabupaten sebagai kawasan Konservasi yang tidak memiliki laut, namun memiliki danau yang indah dengan hutan yang luas sebagai penyangga air bersih. Selain itu kita juga memiliki Geopark Batur yang pertama kali diakui Unesco, Kopi arabika Kintamani yang juga sudah mendunia, selain itu kita punya juga Anjing Kintamani sebagai anjing ras asli Kintamani yang telah diakui Asosiasi Pecinta Anjing Dunia sebagai ras Dunia,” katanya.

Pihaknya sangat mengapresiasi kunjungan kerja dari Komisi VIII DPR RI karena di tempat ini akan bisa menyaksikan bahwa sebenarnya bagaimana nenek moyang telah mengajarkan bagaimana hidup saling menghargai perbedaan, dan hal ini telah diwariskan untuk dijadikan panutan untuk Bangsa ini ke depan, sehingga di tengah cobaan-cobaan yang dialami sejatinya hal itu tidak perlu dipermasalahkan, karena sejatinya nenek moyang sudah menjalankan kehidupan yang harmonis meski berbeda akan tetapi tetap saling menghargai dan mendukung untuk kemajuan bersama. “Di tempat ini kita diberikan bukti dan saudara kita yang dari Jawa juga banyak yang sudah datang dan berkunjung untuk mencari jejak leluhur di tempat ini. Dengan kunjungan mombongan Komisi VIII di Pura Dalem Jawa Langgar kali ini, bisa menjadi bahan dalam menyusun program untuk peningkatan fasilitas pendukung pelestarian seni budaya kususnya dalam bidang keagamaan yang menjadi warisan leluhur,” jelasnya.

Ketua rombongan Bapak Haji TB. Ace Hasan Syadzilly menyampaikan, urusan keagamaan adalah salah satu tugas dari Komisi VIII DPR RI yang anggarannya cukup lumayan meskipun tidak terlalu besar. “Apresiasi yang setinggi tingginya atas masyarakat pengelola Pura Dalem langgar ini. Hal ini adalah luar biasa buat kami, dimana setelah sidang perdana Bali adalah kunjungan pertama yang menjadi lokus kami,” katanya. Komisi VIII memiliki mitra yaitu kementerian agama yang bersinergi untuk urusan keagamaan di tiap provinsi dan kabupaten/kota. Sebelumnya juga telah melakukan kunjungan ke salah satu tempat “Keramat” dimana di situ juga adalah menjadi pemakaman salah satu keturnan raja yang beragama Islam, dan di sini tentu kami juga disuguhkan dengan sebuah perpaduan sebuah langgar dengan pura, dimana hal ini mencerminkan bahwa betapa sebenarnya leluhur dari zaman dahulu telah mecontohkan kehidupan yang harmonis. “Kami Komisi VIII selalu mendorong kepada pemerintah untuk selalu melakukan moderasi beragama. Moderasi agama adalah sikap yang selalu menjaga keharmonisan dan menghargai perbedaan bukan hanya kepada umat Hindu saja, akan tepi semua agama baik Islam, Kristen, Katolik, dan Budha. Hal itu telah dicontohkan oleh para nenek moyang kita yang bisa disaksikan Icon dan simbolnya di Pura Dalem Langgar ini. Ini merupakan modal yang sangat berharga bagi Bangsa kita untuk bisa menjadi Negara maju kalau kita bisa menjaga dan merawat perbedaan yang kita miliki,” ujarnya. Bali tentu sudah sangat terkenal di dunia, bahkan lebih dikenal Bali dari Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata yang sangat mempesona bukan hanya pantainya, akan tetapi juga masyarakatnya, hal ini menjadi modal dan menjadi kewajiban kami di Komisi VIII untuk bagaimana mendorong dan mendukung pada upaya menjaga kerukunan umat beragama agar masyarakatnya betul-betul harmonis sehingga bisa mendorong kesejahteraan masyarakatnya. “Bali selalu menjadi contoh bagi dunia sebagai salah satu daerah yang sangat toleransi hal ini harus terus dijaga dan diketuktularkan ke seluruh wilayah Indonesia sebagai jati diri kebangsaan kita karena Indonesia bukan hanya Jawa tapi juga Bali, Sumatra, Papua, NTB dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya. *** Cahayamasnews.com/Agung Natha.

Facebook Comments