November 2, 2026
Seni dan Budaya

AURA KASIH”

DEWI SARASWATHI. “Memuliakan Pengetahuan Yang Mengalir”.

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 30 Oktober 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Semua yang “ada” dan yang akan “tidak ada”, lalu kembali “ada”, mulai berproses dari pengetahuan dan kerja fisika material alami.  Mengejawantah mendunia lalu disebut  duniawi. Semua itu bergerak melalui Penciptaan, Pemeliharaan dan Peleburan Pralina, terjadi karena pengetahuan-Nya.  Diwadahi “Sang Waktu” yang dipandang sebagai lenier bergerak bagaikan garis lurus, menempatkan kesempatan tak terulang lagi. Selanjutnya bergerak berputar (sircle), esok ada kesempatan lagi untuk berbuat dan berbenah. Lalu insan-insan terpanggil dan diberkati kuasa-Nya belajar dari pengetahuan itu, kemudian mengerjakannya menjadi kewajiban atau swadharma, dharma melayani gerak para dharma, hingga benar-benar menjadi “misi suci”, melayani hidup dalam kesucian hati nurani. Dalam kontek tersebut kosmologi timur memandang lalu menempatkan keberadaan Tuhan dalam “kemaha kuasaan-Nya” meresapi segalanya. Kebenaran itu diyakini dan dirasakan mengalir meresap sistematis tak ada yang luput, totalitas dan maha sempurna.

Memaknai kebenaran itu sistem kerja itu dimuliakan sebagai “Sakti-Nya”, menjadi kekuatan yang tak pernah padam menjadi sistem abadi Yang Maha Sempurna. Maka kebesaran kuasa pengetahuan yang mengalir melalui Kuasa-Nya itu disebut Impersonal dan Personal God. Pengetahuan tak berkepribadian dan mandiri. Berada di ruang sunyi tak terjangkau sebagai sumber segala sumber. Lalu meresap ke dalam jiwa dan raga manusia untuk dialiri dan merasakan kebenarannya. Hanya manusialah menjadi makhluk yang dialiri pengetahuan, maka disebut makhluk yang paling sempurna diantara semua makhluk. Tugas utama dari sebutan kesempurnaan itu, adalah sadar memahami dan menyempurnakan hidup sesuai tujuan hidup.

Kesadaran dan keyakinan merasakan dan melaksanakan tujuan itulah, kasih-Nya mengalir, yang disebut personal God, yaitu : sifat kuasa-Nya sebagai pengetahuan yang meresap mempribadi. Mengalir tiada henti, meresap mempribadi membangun kesadaran, rasa damai dan rasa indah serta menarik (simpati). Dalam sifat kedewasaan disebut Dewi Saraswati. Mengalir dari yang besar meresap ke dalam diri yang terbatas nan esensial terjangkau. Maka disebut “aliran”, karena mengalir artinya kekuatan aksinya perlahan mampu diserap oleh semua kuatan dan kemampuan rohani serta jasmani yang terbatas. Oleh karena itu, Dewa Shiva mengikat air Surgawi di rambutnya agar tak menimbulkan kehancuran di bumi. Air mengalir melalui gunung diberi mineral, lalu mengalir berdaya guna untuk seluruh ciptaan-Nya. Seperti itu proses kerja dan sadar Keilahian-Nya.

Sekarang hutan yang disimbolkan sebagai rambut Dewa Shiva, sedang digundul dan dibakar oleh asura, mengakibat panas bumi naik, mengakibatkan udara semakin gerah. Berpengaruh besar terhadap mentalitas emosional insan-insan duniawi saat ini. Ketika hujan banjir bandang dan longsor, tak dapat dihindari, karena tak ada akar-akar pohon, yang mengikat dan menahan. Akar-akar itu dilukiskan sebagai Naga Basuki yang selalu melilit melingkar leher Dewa Shiva. Sebagai simbol kekuatan akar-akar pepohonan yang menyangga Lingga Acala, alam semesta itu sendiri. Mengapa pengetahuan itu disimbolkan?, tentu semua itu agar insan-insan duniawi sadar untuk belajar dan mengerjakan petunjuk pengetahuan itu untuk kesejahteraan dirinya masing-masing. Lalu pada saatnya mampu memberi kepada negara dan bangsa

Melalui kesadaran itu, pengetahuan yang mengaliri dan mengedukasi insan-insan duniawi, dimaknai sebagai anugrah yang membuka kesadaran hidup, menembus ketidaksadaran diri mencapai kesempurnaan. Saat itu orang-orang bijaksana menyebut-Nya sebagai “guru” yang tidak nyata (Sat Guru) dan Guru yang berbadan manusia yang memperoleh kuasa sebagai berkat-Nya yang disebut Sad Guru. Artinya jiwa dan raga merupakan wadah natural, cerdas nan murni (suci) tgyang “siap dialiri” dan “mengalirkan” pengetahuan untuk hidup berbudaya dan berkebudayaan yang mensejahterakan. Kemudian menyempurnakan diri menuju kedamaian abadi. Menyempurnakan diri dapat dimaknai sebagai upaya mewujudkan martabat kemanusiaan dalam arti terbatas (Buana Alit) dan dalam arti yang seluas-luasnya (Buana Agung). Menentukan sikap hidup belajar sepanjang ayat.

Ketika keyakinan itu berproses dan berprilaku sungguh-sungguh saat itulah pengetahuan material perlahan menyempurna menjadi prilaku berpengetahuan suci. Artinya material dibutuhkan seperlunya untuk mendukung spiritualitas yang hening murni (sattwam). Dibalik semua itu, asura selalu mengintip kelengahan, menyerang menyusup, mengakibatkan insan-insan duniawi menjadi sombong dan angkuh, haus kekuasaan dan harga diri. Lalu lupa, bersyukur, pelit dan anti beryadnya, mengakibatkan akar-akar penguat pondasi materialnya menjadi semakin rapuh. Akhirnya roboh tak disadari. Walaupun beribu-ribu contoh nyata terjadi dan diberi oleh semesta raya, tetapi kesombongan itu masih sangat digemari dan dibanggakan. Barangkali realitas ini wujud sifat Jaman Kaliyuga yang sedang dikukuhkan.

Kompleksitas kerja material yang dijiwai oleh kemurnian hati nurani (sattwam) ini, menempatkan manusia mampu bergaul dan,  berinteraksi lintas bangsa-bangsa di dunia. Lalu mampu menempatkan dirinya sebagai makhluk yang bergerak lokal, tetapi berpikir global universal. Saat itulah kekuatan personal dibesarkan oleh masalah yang seringkali disebut “ujian” atau “tantangan” yang semakin besar. Ada yang “kekuatannya” mampu mempengaruhi bangsa-bangsa di dunia dengan pandangan cerdasnya dan juga kemampuan teknologi yang berdaya guna untuk melancarkan dan meringankan beban kehidupan manusia di dunia. Pesawat terbang, listrik, kapal laut, transportasi udara. Alat komunikasi canggih dan lain sebagainya.

Pada sisi yang lain sibuk melarang dan merendahkan serta melarang aktifitas budaya, menjadi serba tak boleh lalu terjebak kebuntuan. Mengurung diri dalam panatisme kesempitan bernalar, sibuk menyalahkan orang lain, bertopeng dan berteriak-teriak Ketuhanan, berprilaku nyungsang. Dibalik realitas itulah, sesungguhnya terdapat nilai sebagai “aksi penyadaran” yang mesti dipahami, hingga menjadi semakin sadar nilai dualitas yang melahirkan kebijaksanaan.

Memahami dan memaknai serta merefleksikan nilai ritual tradisi sebagai proses edukasi mencapai “makna kesejatian ya”, meningkatkan tarap hidup lahir dan bhatin, menuju penyempurnaan yang tiada henti. Bukan sebagai ending yang membekukan diri, bernalar menghadapi perubahan yang memajukan. Lalu sedikit berbeda, menjadi aksi protes yang berlebihan. Tetapi realitas dinamis itu patut disadari dan dimaknai sebagai kebijaksanaan berpikir bernalar, dan sadar berbhinneka. Ketika sudah demikian pengetahuan yang mengalir, meresap merefleksikan cerdas nalar berjiwa bijaksana yang menentramkan dunia. Saat itu Keindahan simbolik Dewi Saraswati, tak hanya indrawi simbolik, tetapi benar-benar meresapi jiwa-jiwa merasakan keindahan nan sundharam, mendamaikan dan membahagiakan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!