
Akibat Salah Tafsir dan Kepentingan Politik, Upacara Hindu Bali Kerap Didiskreditkan dan Dikambinghitamkan
OM Swastiastu. OM Awignamastu.
Salah tafsir, atau salah pemahaman dan atau pemahaman yang dangkal tentang upacara Hindu Bali itu disebabkan oleh 2 hal yakni : (1). Orang tersebut adalah orang Hindu Bali, tetapi tidak mengerti Tattwa upacara Hindu Bali, namun berlagak bagai orang yang sangat paham. (2). Orang di luar Hindu Bali yang sering untuk kepentingan politik keyakinan alirannya untuk menarik penganut Hindu Bali, khususnya yang belum paham tentang Tattwa Hindu Bali, agar tertarik menjadi penganut aliran kepercayaannya dengan cara mendiskreditkan upacara Hindu Bali, dan atau bahkan mengkambinghitamkan/memfitnah upacara Hindu Bali dengan sering-sering menyebarkan penyesatan pemahaman dengan dalih penyederhanaan, terlalu ribet, mahal, tidak praktis, tidak ekonomis, tidak gelis, pemborosan dan bahkan penyebab kemiskinan. Demikian ditegaskan oleh Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet (Ketua Majelis Agung Desa Adat, dan juga Ketua Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesia), saat ditemui di Purinya di bilangan Denpasar, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet yang akrab disapa Ratu Aji ini menegaskan, padahal upacara Hindu Bali yang diciptakan dan dikembangkan oleh Para Maha Rsi mulai dari Maha Resi Markandeya, Maha Rsi Kuturan, Mpu Lutuk, Sangkul Putih, Dang Hyang Astapaka, dan lain lainnya dan juga Raja Agung seperti Ida Dalem Waturenggong yang sangat mumpuni Sekala-Niskala, sudah menyiapkan tingkatan upacara yang sedemikian rupa untuk dapat dipilih oleh umatnya sesuai kemampuannya. Baik dari segi kuantitas (besaran) yang sangat fleksibel untuk dipilih yakni dari tingkatan yang paling sederhana yaitu Nistaning Kanista sampai tingkatan Utamaning Utama. Tingkatan besaran upacara itu ada 9 tingkatan mulai dari tingkat Nistaning Kanista, Madyaning Kanista, Utamaning Kanista, dan Nistaning Madya, Madyaning Madya, Utamaning Madya, serta Nistaning Utama, Madyaning Utama dan Utamaning Utama.
Namun, didalam memilih di antara tingkatan besaran upacara di atas lanjut Ratu Aji, umat Hindu Bali haruslah didasarkan pada empat syarat mutlak yang harus dilakukan, sehingga dapat mencapai tujuan yang utama. Lebih jauh Ratu Aji mengurai dan menjelaskan tentang ketentuan atau syarat yang dimaksud yakni dimulai dari unsur ‘PANTAS’. Pantas ini ditentukan dengan status, kedudukan, baik mengenai orangnya, tempatnya, wilayah atau status pura. Termasuk juga terkait waktu pelaksanaannya, apakah setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun, setiap lima tahun sampai dengan setiap 100 tahun. Misalnya untuk Sad Kahyangan pantasnya apa, Kahyangan Jagat yang lain juga apa , Pura Desa pantasnya apa, Pura Dadya, Merajan atau Sanggah dirumah pantasnya apa. Juga demikian dengan orangnya misalnya Orang yang sudah Dwijati Kaprabon atau di Madeg kan, Sang Dwijati Sulinggih, Pemangku, dan lain lain nya. Juga mengenai waktu pelaksanaannya apakah Tingkatan Utama itu pantas setiap 6 bulan , atau 30Th, atau bahkan setiap 100Tahun .
Kemudian dilanjutkan pada unsur ‘SESUAI KEMAMPUAN’. Artinya; di sini umat dituntut haruslah selalu jujur di hadapan Tuhan. Kalau memang punya, nyatakan punya, kaya nyatakan kaya, miskin nyatakan miskin, tidak mampu nyatakan tidak mampu. Jangan ber-pura pura. Yang kaya jangan pura-pura miskin, yang miskin jangan pura- pura kaya, dan sebagainya.Misalnya ada orang yang sudah kaya, dan terpandang, lalu sengaja mengambil yang Upacaranya yang Nistaning Nista, lalu resepsinya sangat wah dan mewah ?? Ini namanya kikir ( Lobha) dalam beryadnya kepada Niskala, tetapi foya foya aecara sekala, sering disebut ” ke Luhur sangat kecil, ke Teben sangat besar” juga ada yang sebaliknya, ada orang yang sebenarnya tidak mampu, tetapi karena gengsi ( Sombong, Angkuh), lalu memaksa mengambil yang Utama kemudian ngutang sana sini dan tidak mampu membayar…..maka semua itu percuma, nilai yadnya nya menjadi tidak bernilai alias Nistaning Nista dalam nilai. Selanjutnya unsur ‘TULUS IKHLAS’. Bahwasannya, kata Ratu Aji, di dalam beryadnya umat Hindu Bali haruslah selalu didasari dengan hati yang lascarya nekeng tuas atau ikhlas seikhlas-ikhlasnya dilandasi dengan keyakinan yang kuat. Kalau tanpa ketulus ikhlasan maka apapun tingkatan Upacara yang diambil pasti akan menjadi nistaning nista alias ” nirdon” alias nol dihadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Barulah kemudian harus mengandung unsur ‘RASA BAHAGIA’. Artinya, apapun yang dilakukan terlebih dalam beryadnya untuk dipersembahkan leluhur, Bhatara-Bhatari, dan bahkan kepada Tuhan haruslah dilandasi ‘Rasa Bahagia’ di saat melaksanakan atau mempersembahkan upacara tersebut. Kalau keempat syarat beryadnya atau melaksanakan upacara itu sudah bisa dipenuhi maka apapun tingkatan upacara yang dipilih , meskipun yang dipilih adalah tingkatan terkecil (Nistaning Kanista) sekalipun, maka yadnya itu akan bernilai utama, demikian juga sebaliknya.
“Syarat inilah yang harus dipahami di saat memilih tingkatan besaran upacara, apabila bertujuan untuk mencapai Kautamaan Yadnya atau Upacara. Tujuannya adalah supaya setiap melaksanakan upacara atau ber-yadnya harus terbebas dari Sad Ripu, Sapta Timira dan Sad Atatayi. Karena apabila terkontaminasi dengan hal tersebut, maka dipastikan apapun jenis tingkatan upacara yang dipilih pasti tidak mencapai tujuan Kautamaan Upacara/ Yadnya, bahkan terpuruk menjadi Nistaning Kanista dalam arti kwalitas, atau dalam arti Suksmaning Upacara,” ujar Ratu Aji menjelaskan seraya nenyebut contoh diatas; misalnya orang kaya yang kikir beryadnya atau berupacara maka dia dapat digolongkan dengan sifat lobha (salah satu Sad Ripu). Atau ada orang yang sebenarnya tidak mampu, tetapi karena gengsi, atau hanya ingin bersaing, harga diri, maka dapat digolongkan angkuh atau sombong (ini juga masuk Sad Ripu).
Kalau benar sebagai umat Hindu Bali tegas Ratu Aji, maka yang seharusnya disosialisasikan adalah “CARA MEMILIH UPACARA”, bukan terus mendengung-dengunkan penyederhanaan upacara, terlebih “MENDISKREDITKAN” upacara itu sendiri atau bahkan “MENGKAMBINGHITAMKAN atau MEMFITNAH” upacara tersebut. “Bila itu sampai terjadi, sungguh perbuatan itu sangat tidak pantas, terlebih yang melakukan orang yang berpendidikan tinggi dengan berbagai embel-embel title. Sesungguhnya bukan upacaranya yang salah, tetapi oknumnya yang tak mau memahami dengan benar dan bahkan masih diliputi Sad Ripu, Sapta Timira dan Sad Atatayi, sehingga ketika mendapat masalah, justru dengan mudahnya mengkambinghitamkan upacara itu sendiri, tanpa pernah mau introspeksi diri. Kualitas oknum umat seperti ini sangat berbahaya menyebarkan virus yang berdampak rusak dan bahkan hancurnya tatanan kehidupan dalam beragama dan ber-yadnya/ber-upakara,” tegas Ratu Aji.
Kalau sudah ada 9 tingkatan besaran upacara, misalnya dalam bidang upacara Bhuta Yadnya: dari Saiban, Segehan, Caru Amanca, Panca Warna, Sampai Tawur Agung, bahkan sampai Eka Dasa Rudra, maka apanya lagi yang hendak disederhanakan dan adakah yang lebih sederhana dari “Saiban” ?. Dalam hal upacara Dewa Yadnya: dari hanya Canang Sari sampai Banten Catur….., adakah yang lebih sederhana dari Canang Sari?. Demikian juga dalam hal upacara Pitra Yadnya: mulai dari upacara Manusa Yadnya, dan Upacara Rsi Yadnya. “Pilihlah di antara itu, dan ukurlah kemampuan masing-masing, ukurlah keikhlasan kita, jangan pernah memaksakan diri dalam ber-yadnya/ber-upacara. Nilailah dirimu apakah lhoba, kikir, atau sombong, angkuh,” ujar Ratu Aji seraya menegaskan, jangan sampai karena perilaku yang salah dalam ber-upacara yang kemudian menyebabkan sengsara justru dengan gampangnya mengkambinghitamkan bahwa penyebabnya adalah karena ber-upacara, sungguh tindakan yang tak terpuji, tak beretika, dan bahkan sangat koyol.
MOTOR PENGGERAK PERPUTARAN EKONOMI

Upacara Hindu Bali adalah sarana untuk bersosial, dan sarana keadilan karena menjadi penggerak perputaran ekonomi di Bali, antara desa, gunung, kota, atau antara petani, dan kapitalis terjadi perputaran ekonomi. Karena dalam upacara hampir semua hasil pertanian, perkebunan, tanam tanaman, hasil laut, hasil sungai, hasil danau bahkan hampir semua bagian tanam tanaman laku dijual untuk sarana upacara. Itulah yang menyebabkan ekonomi Bali selalu diatas rata rata nasional atau daerah lain. Juga diakui atau tidak, Upacaralah yang menyebabkan Para Bhuta bahkan Sang Panca Maha Butha yaitu Kekuatan Alam yang disebut Apah, Teja, Bayu, Akasa dan Pertiwi menjadi Somya atau bahagia. Kemudian Kekuatan alam tersebut sangat sayang kepada Bali, sehingga Bali juga terhindar dari bencana, gempa dahsyat, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hebat, terhindar dari angin topan, dan bahkan musim-pun berjalan dangan teratur.
Tak hanya itu, Bali juga selalu rukun, relatif lebih aman, lebih damai. “Oleh karena itu, wahai siapapun yang hidup di Bali, ketahuilah bahwa itu karena Upacara yang dipilih dan dilaksanakan secara tepat dan memenuhi keempat syarat itu. Bagi yang sudah tidak menganut Hindu Bali lagi, maka laksanakanlah keyakinan kalian dengan sebaik-baiknya, sebarkan keyakinan dengan santun dan penuh etika, saling menghormati tanpa pernah mendiskreditkan keyakinan yang lain, dalam hal ini keyakinan Hindu Bali. Ingatlah, bahwa sejak dahulu kala leluhur-mu pernah hidup damai dan kemudian menurunkan keturunan hingga ada dirimu lahir ke dunia ini. Sekali lagi jangan pernah menjelek-jelekkan dan atau bahkan menghina upacara Hindu Bali, karena itu artinya dirimu juga secara langsung atau tidak, telah menghina leluhur-mu. Justru seharusnya upacara di Bali disempurnakan, bukan dihina dan dikambinghitamkan,” tegas Ratu Aji seraya mengajak kepada oknum tersebut untuk mulai sadar, dan berpikir jernih serta senantiasa menjaga rasa persaudaraan, dan kerukunan di Bali. Akhir kata ‘Semoga kerukunan, kedamaian, dan kesejahteraan selalu akan dapat diwujudnyatakan dalam kehidupan di muka bumi ini’. OM Shanti, Shanti, Shanti OM. * (Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet. Bendesa Agung, Majelis Desa Adat Provinsi Bali).









Facebook Comments