April 25, 2026
Pendidikan

Renungan Brata Semesta VIII. “Somya dan Pralina”

Ketika kesadaran pikiran, indrawi, rasa, ego, nafsu, merujuk pada perilaku, tunduk pada Kuasa dan hukum kerja-Nya menertibkan dharma kembali di bumi, itulah refleksi brata menjadi perilaku yang berguna. Itu artinya sadar bekerja untuk sesuatu yang besar, karena yang kecil (jiwa-jiwa/atman) tunduk pada yang besar Paramaatma (Mahajiwa). Keterlenaan dan kealpaan ini semakin kelam mengukuhkan “kebenaran zaman Kaliyuga”, yang penuh nafsu dan ambisi kuasa material, hingga terdampar jauh dari kebenaran sejati. Pikiran dan perilaku yang terkondisi ambisi material duniawi yang demikian kelam, telah melupakan esensi dirinya, memaknai tujuan hidup sesungguhnya.

Jebakan ilusi maya material pasang surut, mengakibatkan kepincangan sosial dan stress massal, mengakibat perilaku aneh-aneh, bisa menjadi profesi lalu dikukuhkan oleh hak asasi manusia sebagai perlindungan “pembenaran”, yang semestinya mengedukasi, bukan meliarkan etika sopan santun dan pembiadaban. Manusia melakuan adegan ciuman mesra di tempat umum, pembiasaan-pembiasaan ini menjadi edukasi budaya los etika. Sekarang inilah yang diaanggap benar dan “berselera”.

Budaya ini semakin cepat pengaruhnya di dunia, ya karena geraknya “meloloskan” turun mencari nikmat sesaat sangatlah mudah. Berbeda dengan memperjuangkan dan meningkatkan kualitas budaya luhur nan suci penuh etika dan sopan santun melalui pengendalian diri yang kokoh. Akibat tidak adanya pengendalian diri yang baik, dari sebagian besar manusia cerdas, semuanya dirusak dengan perilaku alam pikir yang mementingkan diri sendiri, hingga semua orang tergantung padanyaKesombongan besar inilah yang memotong dan menutupi sifat keilahian semesta, kepada sebagian besar manusia, hingga seleranya mudah diatur dan dikendalikan.

Bagaikan awan gelap menutupi matahari, tetapi awan bisa turun hujan yang menyuburkan dan mensejahterakan seluruh ciptaan-Nya. Tetapi mereka itu, tidak sealur dengan kuasa-Nya, justru mencekik leher rakyat tanpa ampun dengan hukum materialnya. Barangkali saat ini, semua bentuk kenikmatan dalam kekelaman material duniawi itu, disadarkan oleh kasih-Nya melalui virus Corona, hingga bersama-sama saling bahu membahu menghadapinya, agar terhindar dan selamat dari serangannya.

Oleh karena itu, dua hal penting yang patut diyakini dan dilaksanakan yaitu: pengetahuan material melalui ketentuan ilmiah yang telah menjadi ketetapan pemerintah dan yang kedua melalui pengetahuan spiritual, sadar dan berdoa secara tulus kepada Tuhan dalam kuasa-Nya sebagai “Somya dan Pralina”. Somya menenangkan agar tidak mengganggu dan pralina mengembalikan ke alam-Nya, ya semua itu adalah kuasa Tuhan. Kedua wujud perilaku inilah “Brata Semesta”, yang berapiliasi terhadap penguatan jasmani dan rohani manusia kini untuk menghadapi berbagai masalah yang ditimbulkan oleh covid-19 ini. Semoga menjadi renungan dan refleksi. *** Cahayamasnews.com. Sri Guru Hasta Dhala (Pendiri & Pemilik Ashram Vrata Wijaya, Denpasar).

Facebook Comments

error: Content is protected !!