October 20, 2020
Seni dan Budaya

CARA PRAKTIS MEMBUAT JEJAHITAN “PADMA “

Oleh : Ni Nengah Rasmiati S.Ag.M.Pd.H

Sebagai umat Hindu khususnya di Bali, yang menjalankan ajaran agama berdasarkan sastra suci Weda, tetapi implementasinya dalam melaksanakan ajaran agama disesuaikan dengan budaya. Artinya, budaya di Bali yang berkembang dan dijalankan oleh umat Hindu bersumber pada Weda. Beragama Hindu, hendaknya beragama yang utuh, maksudnya beragama dengan melaksanakan Tri Kerangka Dasar Agama Hindu dan memahami Tri Kerangka Ajaran Agama yakni; Tattwa, Ethika dan Acara.

Tattwa artinya kebenaran, keituan, yakni memahami makna atau esensi dari kegiatan keagamaan yang bersumber pada Weda. Ethika adalah tata cara, atau p    erilaku yang sesuai dengan tatanan yang berlaku. Acara adalah suatu kebiasaan dan perbuatan yang baik yang meliputi, orang suci, hari suci, Wariga, upacara dan lainnya.

Disini kami mencoba untuk membuat sebuah jejahitan “Padma”. Jejahitan atau sering disebut Sampian Padma adalah sebagai simbol dari senjata Dewa Siwa, yang letaknya di tengah- tengah di dalam pengideran, sembilan kekutan Tuhan yang Maha Esa di segala penjuru arah mata angin. Senjata Dewata Nawa Saņga itulah sebutannya. Caranya membuat sehingga terwujud sebuah sampian dan menatanya dalam sebuah banten atau upakara, ini adalah implementasi dari ajaran ethika agama Hindu.

Yang tentunya didasarkan atas kesungguhan hati, lascarya, tidak berpikiran negatif, tidak mengeluarkan kata-kata buruk dan keras  (ujara bergas ), memilih bahan atau sarana dengan cara yang benar untuk membuat Sampian Padma, seperti tidak mencuri atau menilep di pasar. Sampian Padma ini dipergunakan dalam Banten Prayascita, Dhurmanggala, pada upacara Padudusan dan ada digunakan pada sesayut, sehingga ini merupakan implementasi dari Acara atau Upacara. Penulis adalah Penyuluh Agama Hindu di Kantor Kementrian Agama Kabupaten Badung.

Facebook Comments