November 3, 2026
News

Walaupun Pariwisata Kena Dampak Pandemi, Pengerajin Tenun Kain Gringsing Tetap Berproduksi.

AMLAPURA (CAHAYAMASNEWS). Jika menyebut  nama kain  gringsing, sudah pasti mengingat nama Tenganan Pegringsingan yang di sebut Desa Bali Aga  di Desa Tenganan Kecamatan Manggis Karangasem. Kain gringsing adalah satu-satunya kain tenun tradisional di desa Tenganan, dengan proses pembuatannya sangat rumit dan memerlukan waktu yang cukup lama  1 tahun hingga lebih untuk menghasilkan kain geringsing tersebut. Di Desa Tenganan sejak turun temurun dilakoni oleh penduduk Tenganan Pegringaingan, sebagai pengerajin kain tenun gringsing, juga sebagai daya tarik wisata, juga telah dikenal di dunia sebagai tempat pengerajin.

Pengerajin Ketut Sumiatini usia 42 saat ditemui  di rumahnya sekaligus dijadikan artshop bernama Gaguron Shop, Selasa (4/8/2020), mengaku, saat pembuatan kain  gringsing  rumit dan masih tradisional. Untuk  pewarnaannya memakai warna dari bahan-bahan alami. “Ya, untuk mewarnai benangnya warna kuning memakai minyak kemiri, kemudian dari akar mengkudu atau babakan kepundung warna merah, sedangkan pohon taum warna biru atau hitam,” ujarnya.

Untuk membuat kain tenun ini prosesnya sangat panjang, mulai menggilas kapas menjadi benang, memintal benang, menyusunnya dengan kayu memotif, mewarnai, hingga menenun dan menjadi lembaran kain. Dengan teknik pembuatan kain mengunakan metode dobel ikat, dengan peralatan yang  masih tradisional. Makanya  harga 1 lembar kain gringsing mencapai Rp. 2,5 juta bahkan lebih sesuai motif, karena proses pembuatan rumit memakan waktu cukup lama, ungkap Ketut Sumiatini.

Di tengah pandemi ini Sumiatini mengaku, penjualan kain tenun Gringsing akhir-akhir ini sangat lesu. Dulu yang beli dari  tamu-tamu asing, dan sekarang tidak ada, walaupun ada hanya orang-orang lokal Bali, dan harga jualnya pun sekarang turun,” Sembari memperlihatkan selembar yang telah bandrol Rp. 900 ribu kini dijual hanya Rp. 700 ribu saja. Dengan situasi saat ini dengan kemajuan teknologi dia memanfaatkan media soaial menawarkan kainnya.

Sejak di bangku sekolah SMP, Sumiatini  sudah menggeluti kerajinan tersebut, yang diturunkan orang tuanya (Ibu). Ketika memproduksi kain dengan mengupah sejumlah tenaga kerja setempat. Dengan situasi sekarang  ia terpaksa menurunkan bayaran atau upah. “Saya berharap mudah – mudahan ada perhatian dari pemerintah, untuk meningkatkan pemasaran produk, mengingat kain tenun sendiri merupakan bagian dari budaya Indonesia yang sudah mendunia dan harusnya punya nilai jual yang lebih tinggi,” ungkap Sumiatini. *** Cahayamasnews.com-Tim-01.

Facebook Comments

error: Content is protected !!