
Sejak Pandemi Mewabah Barang Kerajinan Berbahan Baku Ata Bangkrut, Barang Kerajinan Menumpuk, Pengusaha Alami Kerugian Milyaran
AMLAPURA (CAHAYAMASNEWS). Memang bencana non alam virus corona (Pandemic Covid-19) membawa dampak social dan ekonomi sangat besar. Sejumlah usaha di sektor pariwisata banyak yang gulung tikar. Tak hanya itu sektor usaha lain juga terkena imbasnya. Seperti yang dialami salah satu pengusaha barang kerajinan berbahan Ata nyaris bangkrut. Salah satu pengusaha bernama Made Wija, saat ditemuai, Kamis (8/10/2020), yang tinggal di Desa Seraya, Kecamatan Seraya, Kabupaten Karangasem mengaku usahanya sudah tidak bisa beroperasi lagi, mengingat sepinya permintaan di pasaran. Bahkan, barang yang terlanjur sudah diproduksi kini menumpuk tak terjual.
“Saya menggeluti usaha ini sejak 25 tahun lalu, dan baru kali ini mengalami nasib seperti ini. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, saya memilih untuk menutup sementara, sampai Pandemi Covid-19 ini berakhir. Namun, sampai kapan, karena sudah tujuh bulan sejak mewabah, sama sekali tidak ada tanda-tanda wabah ini akan berakhir, justru makin meningkat,” ujarnya. Lebih lanjut Wija menjelaskan, bahwasannya sebelum virus mematikan ini mewabah, pihaknya mengaku sering mengekspor barang kerajinan yang diproduksi. Namun semenjak pandemi ini mewabah, dirinya mengaku mengalami kerugian hampir Rp. 4 milyar.
Selain mengekspor ke luar negeri kerajinan Ata tersebut juga dia pasarkan ke hotel-hotel, artshop yang ada di Bali. Dengan kejadian ini, sangat berpengaruh terhadap tenaga kerja di Karangasem. Usaha kerajinan Ata yang dikelola sendiri itu mampu menyerap tenaga kerja, yang mengerjakan cukup banyak ibu-ibu rumah tangga yang tersebar di sebagian besar desa, di Karangasem, di antaranya; Desa Bungaya, Desa Tenganan, Desa Seraya, Desa Selat hingga Desa Abang. “Sedangkan bahan baku sekarang menjadi stock di rumah dengan nilai Rp. 250 juta, begitu juga hasil kerajinan yang sudah jadi senilai Rp. 2 miliar, ujar Wija, sembari berharap ke depan agar pemerintah memperhatikan nasib para pengusaha, sehingga bisa bertahan
Nasib yang sama juga dialami oleh Putu Gumung, salah satu pengepul dan pengerajin di BTN Wahyu Permai Lingkungan Galiran Subagan Karangasem. Dia mengaku, sebelumnya pemintaan barang kerajinan Ata setiap hari cukup tinggi yakni100 pics, namun kini hanya mampu menjual 1-2 pics. *** Cahayamasnews.com-Hms//Tim-01.









Facebook Comments