November 3, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH” (SENI MELINTAS BATAS).

Oleh:  I Ketut Murdana

Seni menempatkan keberadaannya pada level ketiga, dari struktur herarkhis semesta Ilahi. Pertama seni berwujud sat dari sifat kemahakuasaan Tuhan (sakti-Nya). Dalam wujud Tri Sakti yaitu: Satyam, Shivam dan Sundaram. Sundaram memberi wujud estetik dari satyam dan Shivam, hingga berwujud indah, cantik mengagumkan. Dia tunggal secara indrawi dan tunggal dalam keluluhan menjadi satu kesatuan nilai yang padu nan utuh. Dalam posisi ini Sundaram sebagai sumber atau sat murni, atau benih-benih murni pada ruang-kosmik-Nya. Berkenaan dengan itu sebagai sat atau benih yang murni masih berada dalam kandungan “IBU SUNDARAM”. Wujud Sadguna-Nya keindahan alam semesta (Prakerti).

Kedua: Proses Pertemuan atau perkawinan antara subyek dan obyek. Subyek adalah entitas pribadi yang bergerak natural menuju obyek (sumber dari segala sumber-entitas Agung-Tuhan-Brahman) dalam kontek ini perkawinan adalah penyatuan yang telah melewati proses panjang penyelarasan. Bagaikan gambaran dalam Siwa Purana, bagaimana kuat, kecerdasan, kebenarian Dewi Sati menentang ayahnya Prabu Daksa untuk bisa bersatu dengan Dewa Shiva. Kemudian menjadi Mahakali dan Adi Sakti.

Tentu realitas spirit ini dapat dijadikan padoman dalam memasuki dunia seni untuk penyempurnaan hidup dalam kehidupan. Proses yang dimaksud adalah proses semesta menjadi proses kreatif yang mempribadi dalam wujud penciptaan seni. Artinya yang lahir akan dapat melahirkan. Seniman adalah manusia yang dilahirkan dengan kekuatan energi (bayu) sundaram yang lebih dominan.

Menurunkan benih estetik sundaram ke dalam citta (seniman) agar bisa mengindrawi. Pertautan proses kreatif ini melibatkan prakerti (alam) semesta yang menghadirkan material, ruang dan waktu yang berenergi. Proses ini mengkumulasi sabda (motif-motif atau benih-benih Sundaram) melalui Duradarsana yaitu kekuatan melihat yang jauh dan yang dekat, melalui indra dan juga melalui mata bhatin.

Pergulatan proses tersebut menghasil atau melahirkan wujud indrawi yang disebut karya seni. Ketiga yaitu: kehidupan Seni membangun dunianya ditengah-tengah dunia. Setelah seni itu lahir selalu dipelihara, oleh orang tuanya yaitu seniman itu sendiri dan masyarakat yang “Mencintainya”. Dengan demikian sifat Tuhan sebagai pemelihara (Dewa Wisnu-Narayana) hadir dalam diri manusia hingga tergerak untuk memelihara wujud seni itu sendiri. Karena terpelihara berarti proses penyempurnaan pasti terjadi, sesuai hukum alam  yaitu perubahan menuju kehancuran (pralina) dan perubahan menuju penyempurnaan.

Penyempurnaan rasa estetik menjadi karya seni yang estetik, dalam catatan sejarah menunjukkan dua alur sistematik. Pertama penyempurnaan kualitas dirinya sendiri (kualitas indrawi) dan yang kedua adalah kualitas nilai-nilai konteksualnya: mulai dari mengantarkan keterbelengguan manusia terhadap realitas duniawi terbawa ke alam imaji, intuisi bahkan menuju pada alam keabadian.

Seni dalam kontek ini berperan mempetakan narasi kosmik menjadi bahara rupa simbolik. Mewadahi sesuatu yang amat besar, luas dan abstrak, menjadi bahasa simbolik yang sederhana, mudah dipahami. Realitas ini seni berperan mengilustrasi tindakan prilaku manusia memasuki ruang-ruang gelap yang terbatas dan ruang-ruang gelap yang tak terbatas.

Akibat peran itu seni menterapi bahkan mencerahkan bersama satyam dan Shivam, tentang keterbatasan dan kegelapan manusia menemukan realitas baru, yang menyegarkan dengan rasa indah serta mendamaikan. Dengan demikian seni melalui rasa estetik dapat melintas batas menembus kegelapan tersembunyi yang mengungkung nilai-nilai universal menuju kebebasan abadi. Semoga menjadi renungan dan refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!