September 10, 2026
Seni dan Budaya

AURA KASIH.

“SENI KEMUNGKINAN YANG MEMUNGKINKAN”

Oleh: I Ketut Murdana

Sepanjang sejarah wujud artefak seni telah menarasikan “sesuatu”. “Sesuatu” itu tiada lain adalah wujud visual nan indrawi dari “kemungkinan-kemungkinan” yang selalu “memungkinkan”. Artinya ketika seni itu diciptakan dalam kurun waktu tertentu, misalnya dimasa lalu masa klasik yang menempatkan kolektifitas berpikir vertikal religius dan kekuasaan raja-raja, lalu memasuki ruang-ruang berpikir individual. Realitas ini menjadi atau membuka “*kemungkinan” baru yang menempatkan hadirnya kekuatan individu, muncul kepermukaan. Ketika itu seni pun merambah dan memposisikan idealisme personal yang mempribadi dengan gerakan berpikir modern, post modernnya dan seterusnya.

Penciptaan seni dalam kontek ini memposisikan keberadaannya, sebagai realitas baru dan terus membarukan wujudnya. Itu artinya narasi berpikir membuka “kemungkinan” yang “memungkinkan” lahir atau hadirnya wujud-wujud indrawi seni baru. Estetika konvensional yang telah menempati ruang dan kuasanya, terkadang bertransformasi dan juga dideformasi mencari “kemungkinan-kemungkinan” baru, karena seni secara esensial amat terbuka untuk itu, dan selalu “memungkinkan” pembaharuan.

Kesadaran pembaharuan adalah realitas alami yang menempatkan atau “ditempati” oleh kuasa suci “Sang Pengalir”. Dalam ajaran agama Hindu disimbolkan sebagai Dewi Saraswathi sakti-Nya Dewa Brahma, yakni Dewa Pencipta. Kesadaran pembaharuan dalam penciptaan adalah realitas kebenaran yang terus “menggali” dan “memberi”. Menggali adalah mencari “sesuatu” yang masih tersembunyi, di dalam diri dan juga di alam semesta ini, lalu diwujudkan melalui proses kreatif agar bisa memberi dan membangun kesadaran estetik baru yang seluas-luasnya kepada masyarakat.

Sesungguhnya setiap masa dan jaman dengan keunggulan aktor-aktornya telah memberi jawaban terhadap realitas dan keunggulan jamannya. Keunggulan aktor adalah manusia pilihan yang telah diberi dan dialiri kekuatan dan kuasa suci nan sundaram, hingga mampu membuka rahasia kosmik, lalu sadar pada kosmik kecil atau buana alit yang berada dalam dirinya sendiri.

Kesadaran diri yang menghormati masa lalu secara periodik, merupakan lapisan kesadaran yang telah “menyadarkan”, melalui peristiwa penciptaan seni yang membudaya, lalu dikukuhkan menjadi identitas yang ditradisikan. Gerak karma penciptaan membuka aneka “kemungkinan”, memberi jawaban yang selalu “memungkinkan” menemukan realitas indrawi yang baru pada waktu tertentu. Lalu “memungkinkan” juga menciptakan “sesuatu” yang baru lagi demikian seterusnya.

Memahami realitas penciptaan seni seperti itu, berarti mamahami kehidupan semesta itu sendiri (konsep punarbhawa) dalam agama Hindu.

Semoga menjadi renungan dan refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!