
AURA KASIH
“SENI MENGABADIKAN KEABADIAN”
Oleh: I Ketut Murdana
Seni pertama kali dilahirkan oleh leluhur Theologisnya yaitu keindahan semesta (Sundaram-Pradhana) dan energi kreatif Penciptaan (Purusha). Keindahan semesta membentuk, mengaliri dan mengindahkan semua wujud ciptaan-Nya. Tiada satupun yang luput dari kuasa itu, mereka hidup, berkembang, lebur dan lahir kembali, demikian seterusnya (Wibhu Sakti) Energi kreatif penciptaan (Purusha) ini barangkali sudah biasa disebut talenta atau bakat yang telah dibawa sejak lahir, hidup dalam diri setiap orang dalam kualitas yang berbeda-beda.
Dalam ajaran Karma phala dipahami sebagai Sancitha Karma. Artinya, perbuatan baik yang lulu diterima dan dilanjutkan “penyempurnaannya” saat ini. Energi Kreatif Penciptaan (Purusha) ini tumbuh perlahan sejalan dengan kedewasaan berpikir, bernalar, emosi, ego, napsu, indriya, imajinasi, intuisi dan seterusnya.
Gelora energi ini mengekspresikan rasa tertarik terjadap obyek-obyek estetik semesta, lalu melakukan interfenetrasi mendalam saling menerobos antara subyek purusha dan obyek pradhana lebur dalam kesatuan (kawin rasa estetik), mencapai puncak kenikmatan estetik. Puncak pengalaman estetik senantiasa memerlukan wujud estetik mengenang peristiwa kenikmatan itu.
Ketika itulah proses kreatif merumuskan kualitas kenikmatannya (Jnana Sakti). Sentuhan dan regulasi kesadaran (Cethana) mengisi dan membangkitkan ketidak-sadaran (Acettana), memasuki ruang dan waktu, hingga saatnya lahir menjadi wujud indrawi (Kriya Sakti) Kelahiran wujud indrawi ini bagaikan anak bayi yang disayangi oleh Bapak dan Ibunya lalu masyarakat lingkungannya.
Wujud kelahiran indrawi ini adalah kemurnian mengenang dan mengekspresikan kenikmatan estetik. Itu artinya seni “mengabadikan keabadian” sifat-sifat kuasa-Nya agar dapat dirasakan kebenarannya oleh manusia. Dalam konteks ini peran seniman sebagai aktor yang unggul, mewahanai, memahami, meresapi, mengatur lalu mengekspresikan menjadi perilaku berkesenian (Kriya Sakti). Pada sisi yang lain seniman berposisi menjembatani laju kualitas kehidupan: jasmani menuju penyadaran penghalusan rohani, menjembatani yang metafisika menjadikan realitas fisika, menyadarkan hadirnya realitas baru yang menyegarkan demikian seterusnya.
Memahami realitas kebenaran ini bahwa seni lahir melalui leluhur theologis, hidup mengalir dalam diri manusia dan prakerthi (alam semesta nan estetis), berproses sedemikian rupa, lalu lahirlah ciptaan seni, hingga seniman adalah Bapak dan Ibu dari pada karya seni (leluhur biologis). Sentuhan tanda tangan menegaskan bahwa wujud personal karya seni yang membahas thema tertentu dan dalam waktu tertentu selesai diciptakan sebagai dirinya sendiri.
Catatan kelahiran karya seni ini juga keabadian dalam ciptaan para seniman yang mengagungkan keabadian “Sang Abadi”, Dengan demikian hadirnya karya seni bukan semata-mata persoalan estetik, tetapi mengeedukasi ketidak sadaran menuju kesadaran umat manusia tentang berproses hidup melalui “keabadian terbatas” menuju “keabadian”. Semoga menjadi renungan dan refleksi.









Facebook Comments