September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MEMASUKI SENI MURNI SEBAGAI OBYEK DAN RUANG STUDY”

Oleh       : I Ketut Murdana.

Sudah lama pendidikan dan penciptaan seni memasuki wilayah seni murni, melalui alur terobosan masing-masing, dan jawaban akhirnya ragam pendapat dan pandangan serta ragam visual yang mengekspresikan roh kesyahduan estetik.  Dan pada sisi yang lain menempatkan kesengajaan menyangkutkan kajian ilmiah keilmuan menjadikan seni dimasuki wilayah keterukuran kuantitatif, serta pada sisi yang lain pula seni murni dimaknai kemurnian memurnikan dirinya sendiri, dalam dunia substansinya yaitu jagat seni itu sendiri dan konteknya terhadap jagat semesta dan Sang Pencipta.

Semua ini adalah proses dan dinamika menelusuri isi yang diwadahi dengan termilogi “seni murni” yang telah terkondisi dalam rasa dan pemikiran para filosuf serta penggemarnya. Mengapa disebut penggemar karena masing pribadi diawali sentuhan “energi suksma” yang terjadi, sadar atau tidak sadar dalam kurum “waktu tertentu” itu terbuka dalam diri seseorang, lalu menggemari secara perlahan obyek visual dan nilai intrinsiknya kemudian menjadi penekun yang serius, siap bergelut “berjuang” membangun esensi dalamnya berbagai konteksnya dalam kehidupan manusia.

Mengenal awal proses terminologi ini, disini pula terbuka kemurnian energi pembuka (ontologis) yang mengantarkan rasa dan pikiran memasuki “rimba cosmik” yang disebut seni murni itu (epistemologi).

Dengan demikian kita telah berhadapan dengan: (1) Realitas indrawi yang telah menjadi hasil galian persepsi dan interprestasi serta kerja fisik yang telah menjadi taman ria estetik duniawi. Persoalan ini mengandung serta melahirkan aneka daya pandang dan daya pikir baru menelusuri esensi-esensi berupaya menemukan kebenaran serta konteknya dengan perkembangan peradaban seni budaya dunia.

Realitas peradaban yang telah menggunung adalah martabat manusia di bumi ini menjadi narasi edukasi yang bisa dibuka dari jalan manapun. Gelombang orientasi ini lebih menempatkan daya berpikir dan berprilaku manusia dalam ranah apara-widya. Pertanyaannya lantas tumbuh apakah realitas budaya ini adalah refleksi dari “kemurnian”. Ketika menelisik pertanyaan itu, itu artinya telah masuk dalam ruang berikir filsafat.

Dalam hal filsafat Capra (2001:93) menguraikan bahwa untuk sampai pada titik pemahaman filsafat pada dasarnya secara esoteris, adalah religius. Tujuan utamanya adalah pengalam mistik langsung (darsan) dari realitas. Secara alamiah pengalaman itu adalah religius, maka filsafat tidak dapat dipisahkan dengan agama. Penyatuan keduanya itu nyata dalam Hinduisme.

Realitas berpikir ini menempatkan jalur hubungan yang menyatu antara setiap unsur, menjadikan kesadaran monisme, yaitu semuanya menyatu dalam kesatuan (Brahman) (2) Realitas methafisis yang berada jauh (dura-dharsana, dura-srawana, dan para-vidya), penelusuran dalam ruang tak terjangkau inilah para suci berkelana dengan kesungguhan penyerahan diri. Hingga pada saat yang tepat berkat dari signal-signal suci yang amat halus mengalir mencerahkan pribadi-pribadi yang dikehendaki-Nya. Mentranformasi signal-signal suci ini juga memerlukan wadah dan komukasi  yang pas. Apabila tidak pas sering berubah makna bisa menimbulkan kepincangan sosial.

Bahasa methoporik nan estetis menjadi bahasa simbol mentranformasi nilai-nilai yang amat abstrak menjadi terindrawi, dari sumber-Nya lalu kepada ciptaan-Nya dalam ruang edukasi formal dan non formal serta edukasi alam semesta. Kemudian berhadapan sepanjang waktu dengan tingkat kualitas apresiasi pemahaman manusia di masyarakat luas.

Memahami kedua ranah besar keterlibatan pengetahuan tersebut di atas, dalam menjelajah realita duniawi dan realita methafisika, pertanyaan tumbuh lagi apakah lantas yang disebut seni murni itu?. Apakah “Seni” itu “Murni” karena paham sifat monisme ketunggalan dalam (Brahman), ataukah yang “Murni” itu “Seni” atukah “keduanya tunggal”

Sebagai obyek dan subyek studi amatlah penting memahami ruang kosmik kemurnian seni hingga mampu meresapi dan merasakan kebenaran sejati-Nya yang membumi, meresapi pribadi-pribadi penekunnya. Hingga pada saatnya proses pendewasaan studi benar-benar dirasakan kebenarannya. Semoga menjadi renungan dan refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!