
SEBERKAH CAHAYA
“MENGHORMATI IBU”
Oleh : I Ketut Murdana
Manusia memperoleh gelar kehormatan sebagai makhluk yang paling mulia di atas bumi, sesungguhnya menjadi kesadaran dan penguat rasa syukur terhadap anugrah itu. Lalu menjadi kesadaran pula bahwa kemuliaan itu belum berhenti dan selesai sampai “disitu”. Tentu melalui semua kesadaran eksistensi itu, patut dimaknai kembali bahwa tujuan kelahiran ke bumi, yang juga disebut realitas maya yang selalu berubah dan tidak kekal yang membuat terombang-abingnya jiwa mencapai kedamain. Selanjutnya bisa terjebak maya kegelapan, yang memenjarakan atman. Oleh karena itu melalui kasih-Nya Tuhan mengalirkan pengetahuan suci yang membebaskan. Kesadaran terhadap kewajiban yang berpengetahuan itulah yang menurunkan kebanggaan semu (egoistis) menjadi kesadaran prilaku (karma-Kanda-Jnana).
Pertanyaannya dari karma mana itu bisa dimulai?. Mulai dari kesadaran kelahiran ke dunia, adalah bersangkutan dengan “Ibu”. Sejak manusia dilahirkan memiliki empat (4) macam “Ibu” yaitu:
1. Ibu yang melahirkan, haruslah mendapatkan penghormatan, karena Ibu yang melahirkan adalah manifestasi sifat kemahakuasaan Tuhan melahirkan ciptaan-Nya di bumi. Jasanya mengandung, memelihara, mendidik, menyayangi, dan seterusnya. Jasa itu tidak pernah terbayar oleh anak-anaknya, kecuali saat putra dan putrinya melakukan tugas dan kewajiban yang sama. Demikianlah proses lingkaran karma itu berjalan, sebagai siklus edukasi jasmani dan rohani.
- Ibu Pertiwi (bumi), sejak manusia lahir hingga meninggal selalu disangga Ibu Pertiwi (tanah-bumi). Bumi juga menghidupkan semua energi dari tanah dan air, melalui tumbuh-tumbuhan, binatang, ikan dan seterusnya. Dalam keadaan jatuh, jongkok, tidur, jatuh tersungkur selalu disangga bumi. Selama dunia dan manusia ini tercipta bumi tidak pernah melepaskan manusia dari tumpuannya, bila bumi marah dengan mengoyang sedikit tubuhnya manusia kalang kabut.
- Ibu Sapi, ketika seorang Ibu yang telah melahirkan anaknya, tidak mampu memberikan susu karena hambatan tertentu, maka Ibu Sapilah yang menggantikannya hingga manusia memperoleh enegi yang komplit, oleh karena itu manusia bagi umat Hindu wajib menghormati Sapi karena sifatnya yang mulia juga. Oleh karena itu, apabila dagingnya dimakan berarti tidak bisa menghasilkan susu.
- Acarya, yaitu Para Guru, melalui Para Guru orang-orang terdidik pengetahuan material dan spiritualnya, hingga sadar pada swadharma kewajibannya di bumi, lalu meninggalkan dunia ini mencapai sifat yang kekal dan abadi, yaitu kembali pada sifat aslinya dan berada di rumah asalnya.
Karena demikian beratnya tugas Ibu, maka kitab Manawasastra menyatakan bahwa “tugas seorang Ibu sama beratnya dengan bumi”, analogi ini sesungguhnya menyadarkan umat manusia terhadap kasih semesta berwujud “IBU” yang patut dihormati dan dimuliakan. Sesungguhnya nilai menghormati dan memuliakan itu akan kembali kepada manusia atau orang-orang yang melakukannya, menjadi kesejahteraan dan kebahagiaan.
Bagaikan kita bercermin di depan kaca yang bersih, tubuh kita akan terlihat apa adanya. Bila kita merawat tubuh kita dengan sentuhan kesadaran dengan keindahannya, maka tubuh akan terlihat cantik dan menawan. Menjadikan diri seperti itulah karma jnana yang sesungguhnya, hingga karma material (karma Kanda) lebur di dalamnya.
Semoga menjadi renungan dan refleksi.









Facebook Comments