February 1, 2023
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBIJAKSANAAN”

Oleh    : I Ketut Murdana

Badung (Cahayamasnews.com). Orang yang bijaksana mengetahuinya dengan baik, bahwa kebenaran dan kebohongan berjuang bersamaan. Di luar itu semua kebenaran pastilah lebih baik dan lebih menyenangkan. Sang Hyang Soma menyelamatkan orang-orang yang sungguh-sungguh melaksanakan kebenaran dan menghancurkan si pembohong (Rgveda VII.12)

Hendaknyalah pembicaraan kebenaran-Mu memberikan suatu perlindungan yang teliti kepada kami. Kahyangan (sorga) dan bumi, siang dan malam dikembangkan oleh kebajikan dan kebenaran. Semua makhluk yang bergerak bertempat tinggal di dalam kebenaran. Sungai-sungai mengalir dan matahari terbit setiap hari menjalankan tugasnya dengan menjalankan hukum-Nya (Rgveda X.37.2)

Sloka di atas memuliakan Tuhan yang penuh kasih, hukum dualitas selalu bergerak bersama-sama. Menyeimbangkan paduan gerak itu menjadi kebajikan dan kebijaksanaan. Kebajikan berawal dari kebenaran yang berproses dalam diri setiap orang atas perlindungan Para Dewa menuju Yang Maha Kuasa. Agar mampu mengetahui dan merasakan gerak proses itulah, memerlukan ketenangan hati nurani. Semua itu juga berproses dari penghalusan jasmani dan rohani. Artinya jasmani mudah diajak untuk melaksanakan kerja kebajikan. Oleh karena itu jasmani wajib dipelihara dengan keteraturan sumber makanan yang sehat dan terkendali (brata).

Penghalusan rohani yaitu membiasakan diri secara terus menerus berbhakti kepada Tuhan, Alam beserta lingkungannya dan sesama manusia (Tri Hita Karana). Persoalan proses inilah memerlukan tuntunan yang memadai, hingga kebenaran dapat terlaksana dengan baik.

Memperoleh tuntunan inilah yang dijawab dalam sloka yang ke dua yaitu: memohon kepada Tuhan sebagai Penguasa segalanya, dalam hal ini adalah pengetahuan “kebenaran” yang demikian luas tak terjangkau, konon semua makhluk dan segala isi alam semesta ini bergerak atas kebenaran.

Betapa luas dan tak terbayangkan jangkauan kebenaran itu, maka kepada-Nya juga memohon agar selalu berkenan menuntun.

Memohon dengan prilaku kerja material dan bhakti yang tulus inilah ajaran-Nya agar manusia terbuka dan membuka serta melaksanakan kebenaran, agar hidupnya benar dan bijaksana. Saat berproseslah Sang Penuntun hadir dengan sifat kuasa-Nya yang Maha Halus, oleh karena itu menghaluskan adalah upaya atau proses panjang “menyamakan” agar bisa “bersatu” mencapai kedamaian.

Perjuangan yang tidak mengenal lelah mencapai tujuan itu adalah “kebenaran”. Memahami realitas panjang proses itu, adalah “kebenaran” untuk mencapai “kebenaran”.

Semoga menjadi renungan dan refleksi.

Facebook Comments