Seni dan Budaya

MISTISISME RUANG DAN WAKTU ALA BALI (01).

Penulis : Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya, S.Ag., M.Si.

Arus pemikiran fenomenologi menyatakan alam lingkungan adalah ruang kesadaran yang tampil di luar diri manusia sekaligus entitas otonom, yang mana manusia ada dan bergantung padanya. Relasi yang intensif, melahirkan pemikiran hidup yang harmonis dengan alam, sehingga manusia melakukan ragam usaha untuk mencapainya. Usaha-usaha harmonisasi terekam dari pengembangan ilmu pengetahuan sampai laku mistik spiritual.

Kemajuan Ilmu pengetahuan dengan karakteristik rasional-empiris mengambil sikap optimis-positivistik, baik dalam menguasai dan hidup harmonis dengan alam. Kedua, penggunaan daya spirit melalui kerja sama dengan kekuatan yang tidak terungkapkan, tersembunyi dan tidak tertandingi pada alam atau kekuatan adikodrati. Ihwal ini memiliki karakter antisipatif dengan sikap regresif-ritualistik. Sikap optimis-positivistik melahirkan kerja kognitif yang sistematis, logis, analitik, observasif, dan evaluatif sebagaimana ciri ilmu pengetahuan, dan menghasilkan prediksi.

Perspektif mistik-spiritual memiliki karakter regresif-ritualistik mengedepankan kerja kognitif kearah intuitif, konfirmatif dan simbolik, yaitu penggunaan rasa sujud, tunduk pada kekuatan adikodrati yang tervisualisaikan dalam bentuk pemujaan simbol-simbol, serta adanya ritual. Relasi manusia dengan dunia kemanusiaanya dalam menyingkap sekaligus merekayasa alam dengan dunia ke-alamanya, memunculkan pandangan mistik. Bahwa alam kecil yaitu manusia selalu mempengaruhi alam besar yaitu alam semesta, begitu sebaliknya.

Jalinan hubungan yang mengaitkan seturut mempengaruhi antara ruang mikro (manusia) dengan makro (alam) terdapat dalam pemikiran masyarakat agraris. Niels Mulder menyatakan; pandangan yang mengaitkan jalinan interlasi manusia dengan alam disebut mistisisme. Fragmen mistisisme tergambar dari produk kognitif manusia terhadap ruang dan waktu. Narasi ruang dan waktu mistik dalam konteks Bali terimplementasi dalam pemanfaatan ruang dan waktu dalam hidup dan kehidupan masyarakat Bali.

Mulder (2009) menyatakan; praktek mistisme terkait dengan aspek bhatin atau kerohanian yang mengaitkan mereka dengan asal-muasal mereka menuju pada kesatuan eksistensia lmelalui penataan moral. Hubungan manusia dengan alam memiliki titik singgung dengan hubungan manusia dengan kekuatan Adikodrati. Alam menyediakan segala bentuk subsistensi manusia berikut segala dampak negatif seperti bencana, penyakit, wabah dan kematian.

Keberadaan manusia di dalam alam sekitar yang dikotomis ini, adalah bentuk dari mistisme eksistensial, Heidegger (dalam Hardiman, 2016) menyatakan; dunia sudah selalu merupakan dunia yang dihuni bersama dengan yang lain, bahwa keberadaan manusia dengan “ada yang lain” telah dimaknai bersama untuk hidup bersama. Mengacu pada pandangan ahli tersebut, segala kebutuhan subsistensi manusia berikut bencana yang menyertainya adalah konsekuensi dari kehidupan bersama dan dengan segala pengetahuannya dari leluhur yang telah diturunkan, disimpan, dan dimodifikasi untuk dapat memelihara kebersamaaan hidup dengan “yang lain” agar selalu dalam keadaan “ada-bersama dalam dunia”. (bersambung…) *** Cahayamasnews.com.

Facebook Comments

error: Content is protected !!