
“AURA KASIH”
“BERSATU UNTUK MERDEKA DAN MERDEKA UNTUK BERSAT”.
Oleh : I Ketut Murdana (Kamis: 18 Agustus 2022)
DENPASAR (CAHAYAMASNEWS.COM). Bersatu untuk merdeka bebas dari penjajahan fisik negara luar. Begitulah wujud perjuangan leluhur para pahlawan bangsa yang bangkit bersatu dari berbagai suku di negeri Nusatara ini. Menyatukan prinsip mencapai tujuan bukanlah mudah. Banyak masalah dan pahit getirnya serta tetesan dan aliran darahpun tak terhindarkan. Saat-saat seperti itulah jiwa-jiwa besar nan patriotis hadir mengkondisikan kesadaran berbangsa dan bernegara. Oleh karena menghormatinya dan menteladani adalah kewajiban utama bagi anak cucu bangsa ini. Gemuruh jiwa-jiwa kesatrian bangkit mengomdoai semangat rakyat, hingga mampu mengusir para penjajah negeri tercinta kita ini.
Puncaknya adalah kemerdekaan. Tentu menjadi bangsa yang merdeka, kekuatan fisak dan mental tidak cukup. Tetapi memerlukan Dasar negara sebagai ideologi pemersatu, yang selalu siap untuk membela dan mempertahankan. Betapa hebatnya para pejuang kemerdekaan, telah menarasikan gagasan pemikiran dan filosofis merangkul prilaku menjadi kesadaran kosmik, lalu terbingkai dalam jiwa-jiwa Nusantara, dengan indahnya tertulis menjadi Bhinneka Tunggal Ika, terurai di kaki burung Garuda, sebagai wujud pembebasan. Secara konsepsi burung garuda dipetik dari Cerita Mahabhara saat burung Garuda membebaskan Ibunya Dewi Winata dari perbudakan Dewi Kadru akibat kalah tebak-tebakan tentang kebenaran putihnya kuda Oncersrawa. Narasi filosofis ini memberi gambaran kepada rakyat, untuk membebaskan Ibu Pertiwi Nusantara dari penjajahan, lalu mengisi kemerdekaan melalui cita-cita bersama yaitu masyarakat adil dan makmur.
Sejak kemerdekaan berbagai upaya pembangunan yang telah dilakukan oleh para pemimpin dengan berbagai kelebihan dan juga kelemahannya. Menjadikan bangsa Indonesia semakin diperhitungkan oleh negara-negara luar. Dibalik itu semua menghadapi resiko yang tidak ringan. Dahulu dominan penjajahan fisik yang mengkonstruksi dengan narasi-narasi pembodohan, yang kini masih banyak hidup dan berkembang di masyarakat, yang patut dihindari dengan semangat persatuan dan kesatuan.
Sekarang kita sudah memasuki era digital yang melihat dunia tanpa batas, spectrum visual semakin luas, kaya, dan dibaliknya bisa membuat semakin stress, bila tidak siap lari bersama-sama. Persoalan inilah menjadi problem central yang bergulir dan bergerak amat cepat. Oleh karena itu pengisian kemerdekaan tentu harus selalu mempertimbangkannya pada karakteristik kecepatan era pengetahuan dan teknologi dan pada sisi yang lain sisi spiritual humanisme penyeimbangnya. Apabila keduanya tidak seimbang menjadilah orang-orang pintar dan kuat yang los moral. Akibat pembangunan bangsa pasti terganggu, lihat realitasnya kini di Indonesia. Semoga dengan semangat bersatu realitas ini terlewati dengan baik sesuai hukum dan norma yang berlaku di negeri tercinta ini.
Sadar bersama terhadap nilai-nilai spiritual penyeimbangnya adalah “jalan pembebasan” yang merdeka. Realitas ini di jaman ini sedang berada pada sisi kebangkitan menembus gelapnya situasi. Dikoyak-koyak oleh aneka gelombang dengan berbagai intefretasi, ada yang lurus ada yang berbelok bahkan ada yang tenggelam. Realitas inilah sesungguhnya perjuangan sekaligus pengujian kesungguhan dalam merdeka untuk “bersatu”. “Bersatu” dalam suasana toleransi antar sesama sebagai penghuni Ibu Pertiwi Nusantara yang sama, dan juga kosmik atau jagat agung alam semesta ini. Merdeka untuk bersatu dengan “kebenaran Ilahi” hingga mampu mengisi kemerdekaan ini dengan baik dan benar.
Para pemimpin dan rakyat terus menerus menjaga dan mempertahan kemerdekaan serta memperjuangkan kesejahtetraan rakyat. Bukan menjadi pemimpin asura yang menyengsarakan rakyat dengan kesewenang-wenangannya. Kesadaran membebaskan sifat-sifat asura bersama-sama adalah sifat bajik mengisi dan membangun kemerdekaan. Lalu pada saatnya bisa “bersatu” mencapai kebebasan abadi.
*** Semoga menjadi renungan dan refleksi.









Facebook Comments