October 2, 2022
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Tiga Wujud Kesadaran Mesti Dibangkitkan Dalam Diri”.

Oleh  : I Ketut Murdana. Senin: 12 September 2022

Badung (Cahayamasnews.com).Tiga wujud kesadaran patut dibangkitkan dari dalam diri, dimulai dari kesadaran  indrawi, emosional lalu menjadi prilaku. Kita mengenal sesuatu dimulai dari melihat, mendengar, merasakan, lalu dapat dan bisa menghayati secara jasmani. Kemudian perlahan meresapi memasuki hingga menjadi kesadaran rohani. Reaksi dan gelora resapan nilai-nilai itu kemudian bangkit menjadi prilaku (karma) jasmani dan rohani (material dan spiritual).

Berkenaan dengan realitas hakiki itu, kesadaran adalah sifat ilahi yang hadir meresap dalam diri setiap orang, bisa redup, terang bahkan terang benerang. Kesadaran terang benerang (cerah) merupakan akumulasi ketiga kesadaran tersebut di atas, yang digerakkan oleh Karma Kanda (kesigapan niat bekerja untuk menguasai material, bukan dikuasai) dan Karma Jnana merupakan kecerdasan spiritual dalam proses edukasi dan pelayanan kepada kebutuhan kecerahan rohani dalam diri sendiri, mencapai kesejatian diri, lalu pada saatnya bisa bervibrasi kepada umat manusia mencapai kedamaian.

Penyatuan kedua kekuatan inilah wujud “pencerahan” sesungguhnya yang mesti diperjuangkan dan dikejar oleh umat manusia, terutama yang hidup di jaman Kaliyuga ini yang penuh kegelapan ini. Demikian pula apa yang diajarkan para leluhur dari jaman ke jaman, agar menemukan kebenaran sejati.

Sesuai sabda suci-Nya bahwa saat dharma terinjak-injak di bumi dan di dalam diri manusia, Tuhan turun menertibkan dharma itu kembali. Makna sesungguhnya bagi para karmin tiada lain adalah bangkitnya  dasar-dasar kesadaran dalam diri manusia, lalu mampu mengubah prilaku yang kurang atau tidak baik menjadi lebih baik, benar lalu siap mengabdikannya untuk mencapai kemuliaan hidup, melalui swadharma masing-masing dalam ruang waktu tertentu dimanapun berada.

Ketika  demikian ayat-ayat suci tidak ada lagi pada hapalan otak,  yang seringkali lupa tetapi lebur menjadi tindakan berguna dan “menyempurnakan”. Bukan mengkondisikan  ayat-ayat suci untuk tujuan sempit, yang justru mengkerdilkan bahkan menyesatkan kebanaran pemahaman universalnya. Akibatnya belajar agama bukan semakin humanis dan toleran, justru menjadi semakin egois dan fanatik buta. Akibatnya tidak henti-hentinya menghina keyakinan orang lain.

Dalam kontek inilah pentingnya bangkit kesadaran rohani yang mampu menimbang bahkan menolak arus penyesatan, hingga kemurnian hati nurani dan esensi kesadaran hidup dan tercipta dalam suatu kosmik yang sama berusaha terus mewujudkan rasa persaudaraan mencai harmoni dan dalam kedamaian.

Ketika sudah demikian “damai” terjadi dengan sendirinya. Memaknai kesadaran mencapai damai melalui regulasi kejiwaan panjang dalam badan yang selalu bergerak, memerlukan perhelatan panjang dengan tuntunan Sat Guru dan Sad Guru yang berwenang, sebagai hukum semesta pengetahuan.  Semoga menjadi renungan dan refleksi karma. Rahayu

Facebook Comments