November 3, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEPEDULIAN TERHADAP SESAMA”

Oleh : I Ketut Murdana (Rabu: 26 Oktober 2022).

Badung (Cahayamasnews.com). Kepedulian terhadap sesama saat ini semakin memudar ditengah-tengah kesibukan menimbun mewah material duniawi, yang bisa membuat seseorang semakin menggila. Perangkat-perangkat pendukung individualisme semakin canggih dan selalu berkembang cepat. Arus budaya ini menjadi gaya hidup “bangga konsumtif”. Sebagai pertanda orbit cerahnya kecerdasan intelektual berjiwa asura, penggerak dan penganut zaman Kaliyuga dengan segala kecanggihan, kenikmatan serta keriuhannya.

Akibatnya nafsu indriya-indriya dirangsang terus pertumbuhannya, menjadi subur berkekuatan egoistik.  Bukan dikendalikan untuk mengenal tujuan hidup sejati. Arus gelombang ini semakin kuat menggerus menggulung kesadaran diri, menjadi sumringah nikmat indriya-indriya yang tidak pernah terpuaskan. Realitas ini merebak menerobos berbagai sisi kehidupan. Ruang-ruang sakralpun diubah, akibatnya berubah menjadi pragmatis sarat material nan profesional, berdalih mensejahterakan ekonomi rakyat. Dibalik itu semua, rakyat menelan pahitnya kerusakan yang menghancurkan.

Nilai-nilai “pelayanan tulus” berubah menjadi profesi material duniawi. Idealisme spiritual nan suci bergerak turun, sekedar ritual formalitas. Jiwa-jiwa daksina (kasih sayang) berubah, telah menjadi format hitungan angka-angka. Bila tidak sesuai dengan format itu, suasana religius dan spiritpun berubah. Realitas ini tak terhindarkan di jaman material seperti sekarang ini, sebagai penguat pembenarannya sendiri.

Akankah umat manusia tenggelam larut dalam gelap material duniawi…melupakan kaedah-kaedah etika morslitas kebajikannya, tentu berpulang kepada kesadaran diri dan pilihan jalan hidup masing-masing. Sadar menyikapi realitas ini, mesti kembali kepada nilai-nilai esensial kehidupan sejati, yaitu segala sesuatu bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa.

Lalu belajar perlahan mengabdikan diri lewat pelayanan kepada umat-Nya. Ketika kesadaran ini diyakini dan menjadi dasar prilaku, maka sifat kemahakuasaan Tuhan selalu bersama. Dengan demikian manusia akan mampu mengumpulkan material untuk meningkatkan kualitas swadharmanya, untuk mencapai tujuan hidup sejati.

Bila sudah demikian seseorang akan sangat takut berbuat curang, berbuat jahat dan sejenisnya. Karena Sang Penentu dirasakan selalu ada di dalam dirinya sendiri dan selalu berada di luar dirinya. Ketika sudah demikian keyakinan hidup tenang, selamat, sejahtera dan damai bagaikan berpagar besi (Pager Wesi) yang kokoh tak tergoyahkan.

Demikian pula sebaliknya ketika keyakinan tentang keberadaan-Nya di dalam dan di luar dirinya tidak ada, maka akan berakibat berbuat seenak napsu dan keinginan hingga tidak mengenal kebajikan. Akibatnya pagar besi (Pager Wesi) tidak dapat melindungi, karena dirongrong niat buruk dari dalam diri sendiri

Kehidupan berpagar kebajikan, kuatnya bagaikan berpagar besi, seperti itulah kehidupan yang tertuntun di jalan kebenaran. Bila sudah demikian kepedulian sosial akan semakin baik, terarah, berguna untuk masyarakat dan bangsa.  Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!