April 19, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MEMENANGKAN KEBENARAN”

Oleh :  I Ketut Murdana (Selasa, 3 Januari 2023)

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Hari Raya Galungan dan Kuningan dimaknai sebagai hari “kemenangan dharma melawan adharma”, kalimat ini teruntai indah nan edukatif, historis mengenang suatu peristiwa. Slogan kemenangan dharma, ini selalu dirayakan setiap enam bulan (210) hari, oleh umat Hindu di seluruh Indonesia. Untuk membangkitkan kesadaran patriotik jiwa-jiwa kesatria peduli dharma lalu menjadi pengusungnya. Pada sisi peringatan telah memiliki kekuatan mendarah daging bahkan sejalan dengan kehidupan umat Hindu di Indonesia, terutama kemeriahan estetik nan spiritual tercipta di Bali dan bervibrasi di seluruh Indonesia

Sikap spiritual nan suci dibudayakan dan diimplementasikan menjadi pondasi kreatif kehidupan material duniawi yang selalu menarik dunia pariwisata. Akibatnya perekonomian bergaerah.

Kegaerahan spirit budaya estetik nan tulus ikhlas itu, sudah sepatutnya secara terus menerus dikuatkan oleh laku “kebajikan”, melalui swadharma, menyadari keberadaan Sang Diri Sejati dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, antar sesama dan juga hubungan harmoni pada alam semesta beserta seluruh ciptaan-Nya.

Penguatan realitas ini, mesti terus menerus diupayakan oleh Panca Guru: Guru Suci, Guru Wisesa, Guru Pengajian, Guru Rupaka, dan Guru Swadyaya yaitu gerak tuntunan kesadaran suci yang mengalir dari dalam diri (atman atas aliran suci dari Brahman).

Kelemahan pada aspek ini perlu menjadi perhatian dan kesadaran bersama, hingga apa yang telah digariskan dalam tiga kerangka ajaran agama Hindu yaitu: Tattwa, Susila dan Acara agar menjadi seimbang, lalu mampu memberi daya guna bagi peningkatan harkat dan keluhuran setiap insan, terutama dari kesadaran intelektual dan kesucian jiwa dalam menghadapi persaingan global.

Realitas kini kesadaran intelektual tanpa kesucian bergeser arah menuju penurunan harkat, menjadi budaya tipu-tipu berpromosi hebat. Sebagian besar ikut budaya tipu-tipu, melalui swadharma atau profesinya. Buah-buahan matang seketika, amisnya ikan hilang akibat pengawet, hingga lalat tidak hirau. Sayur layu jadi segar dan seterusnya.

Bisakah kenakalan yang membuat derita masyarakat ini diganti dengan ritual budaya….?. Tentu tidak perlu dijawab dengan kata-kata. Maksudnya bukan jual beli “kebenaran”, tetapi mengingatkan agar terbangun kesadaran mengubah prilaku yang membahayakan kesehatan agar perpanjangan dosa tidak terjadi, hingga bisa memberi andil terhadap upaya merayakan kemenangan dharma.

Era 4.0 telah menjadi realitas peradaban yang tidak bisa dihindari, oleh karena itu peradaban budaya manual mendapat tantangan yang amat significant dari budaya atau peradaban berteknologi canggih.

Pergeseran posisi ini sedang mengedukasi, apakah kita tidak mau ikut atau diam di tempat dan tertinggal atau masuk ke dalamnya mengikuti persaingannya…? Realitas peradaban inilah yang sedang dihadapi.

Aneka pertanyaan muncul yang patut menjadi renungan, bagaimana pertahanan budaya spiritual menghadapi budaya material berkekuatan intelektual, berteknologi canggih, kekuatan strategi politik dan dana (energi besar)?.

Dibalik itu seberapa besar kekuatan sikap mental pengusung budaya tradisional nan manual, menempati posisi budaya dalam kehidupan vertikal sebagai persembahan dan sebagai ruang daya cipta kreatif mengisi keseharian hidup duniawi (horizontal)

Disinilah persoalan besar diantara swadharma mencapai dharma dan upaya-upaya memenangankannya. Pada posisi keunggulan manakah kita berada saat ini, itulah yang patut disadari lalu menjadi start atau penguatan proses, bagi yang telah berada pada posisi tertentu, untuk mencapai keberhasilan. *** Semoga menjadi renungan mengawali tahun baru 2023. Rahayu

Facebook Comments

error: Content is protected !!