
“AURA KASIH”
“PERSEMBAHAN YANG CERDAS”
Oleh : I Ketut Murdana (Minggu : 12 Pebruari 2023).
Badung (Cahayamasnews.com). Betapa pentingnya menyimak narasi tattwa Mahabharata, setelah Bhagawan Bisma berbaring dan bertumpu dengan panah-panah Arjuna yang menembus seluruh tubuhnya di medan Kurusetra. Rasa haus dan kepalanya menjulur ke bawah lesu tak berdaya. Menyaksikan kejadian itu Duryodhana membawakan bantal empuk dan air minum dengan penuh semangat mempersembahkan kepada kakeknya. Tetapi persembahan itu ditolak oleh Bhagawan Bisma, karena persembahan nikmat dunia itu, tidak sesuai untuk menghormati seorang Pahlawan.
Menyikapi persoalan itu Arjuna seorang kesatria yang cerdas lalu menarik panah dari busurnya, diarahkan tepat menjadi penyandar kepala kakeknya, hingga bisa bernapas lega. Lalu bidikan berikutnya, panah dilepaskan lagi ke tanah, lalu memuncratkan air langsung tersuguh ke mulut kakeknya. Merasakan persembahan itu, betapa bahagianya Bisma atas kecerdasan persembahan Arjuna itu. Menyaksikan semua itu Duryodhana kesal lalu pergi.
Melalui narasi cerita ini dapat disimak nilai kecerdasan seorang kesatria, merefleksikan kecerdasan spiritual sebagai etika penghormatan. Kecerdasan etika itu dapat menghapus dahaga jasmani dan dahaga rohani, menjadi kebahagiaan yang luar biasa, bagi yang mempersembahkan dan bagi yang menerima persembahan itu. Dalam kontek simbolik ini dimaknai sebagai persembahan kepada leluhur pejuang bangsa dan negara.
Selanjutnya Arjuna mohon ampun dengan isak tangis keharuan sebagai wujud rasa kasih dan bhakti kepada kakeknya. Tetapi Bhagawan Bisma justru berbalik mengucapkan rasa bahagia dan kebanggaanya kepada Arjuna, karena telah mampu menjalankan swadharmanya sebagai seorang kesatria sejati. Menggunakan panah-panah saktinya yang telah menembus seluruh tubuhnya.
Semuanya itu adalah gambaran ketajaman kekuatan pengetahuan material dan pengetahuan suci menjadi kesatuan kualitas mewujudkan swadharma atau kesatria bagi seorang anak (suputra), hingga mengantarkan leluhurnya mencapai pembebasan dari ikatan dunia. Sesuai anugrah kematian yang telah ditentukan Bisma sendiri, hingga perang bratayudha berakhir.
Betapa pentingnya di zaman Kaliyuga sekarang ini, memperdalam kualitas pengetahuan material dan spiritual, hingga bisa dipersembahkan menjadi pengabdian yang sejati kepada bangsa dan negara yang kita cintai bersama. Di tengah-tengah goncangan para asura yang berjubah dharma, dengan berbagai strategi tipu daya, isu-isu, intrik-intrik dan penghinaan demi penghinaan. Sesungguhnya semua itu mengusung jalan berbalik yang memerosotkan moral nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Artinya saat mencapai puncak akan roboh sendiri. Bagaikan menggembosi balon, perlaha-lahan akan kempes sendiri.
Menyimak kondisi kini barangkali perlu menyimak narasi Siwa Tattwa, ketika kekuatan Jualasura ditumpahkan untuk menyakiti anak-anak di seluruh jagatraya ini, Dewa Ganesha memohon kepada Mahadewa agar segera membunuh Jualasura. Saat itu Mahadewa menjawab; “belum saatnya dibunuh, karena semua kekuatan jahat harus dibiarkan berkembang mencapai puncaknya, saat itulah takdir alam semesta bekerja dengan sendirinya”. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments