
“AURA KASIH”
“KEKUATAN, KECERDASAN dan KESUCIAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat : 3 Maret 2023).
Badung (Cahayamasnews.com). Mewujudkan kekuatan, kecerdasan dan kesucian memerlukan perjuangan yang gigih dan berani serta ikhlas, serta dibawah tuntunan “Guru yang berwenang”. Narasi perjuangan inilah yang dilukiskan sebagai simbol perwujudan sebagai putra dewata, menjadi Dewa Pertama yang dipuja sebelum memuja Dewa-dewa lainnya yaitu Sri Ganapathi. Ketaatan-nya mengemban tugas yang diamanatkan Ibu-Nya Dewi Parwathi hingga mempertaruhkan nyawa hingga Dewa Shiva mengembalikan nyawa-Nya kembali dengan kepala Gajah.
Pada sisi yang lain Dewa Shiva, sudah saatnya menjawab anugrah permohonan berkat Gajahsura akibat tapanya yang luar biasa kepada Dewa Shiva. Akibat kesungguhan tapanya itu Dewa Shiva berkenan, sesuai permohonanannya agar selalu dekat dan bisa mengabdi di kaki Dewa Shiva.
Saat seperti inilah yang ditunggu Gajahsura untuk mempersembahkan kepalanya untuk mengganti kepala Winayaka, sebagai anugrah pralina kosombongan yang mempengaruhi Winayaka, hingga tidak bisa mengenal Dewa Shiva yang Mahakuasa itu. Akibat anugrah dari kemahakuasaan Dewa Shiva, Winayaka hidup kembali berkepala gajah, lalu diberi nama Ganesha.
Ego mengemban tugas adalah kekuatan, apabila dikuasai kesombongan semua akan berubah menjadi keburukan yang membutakan hati nurani. Kasih sayang tersembunyi Dewa Shiva, mengakibatkan kemarahan Dewi Parwathi. Lalu menuntut kepada Dewa Shiva agar dihidupkan kembali, apabila tidak dunia ini akan dihancurkan-Nya. Demikianlah kemarahan seorang ibu bila kasih sayangnya terganggu dan keinginannya tidak dipenuhi….
Setelah kejadian itu Winayaka dengan wajah dan nama baru-Nya, sangat senang dan bahagia, lalu mohon ampun dan berterimakasih kepada Dewa Shiva atas segala kesombongan dan anugrah pembebasan-Nya. Seiring dengan kekuatan, kecerdasan dan ketulusan itu, Ganesha dinobatkan sebagai Dewa utama yang dipuja.
Pada sisi yang lain Dewa Kartikeya tidak terima dan cemburu atas kenyataan itu, lalu mohon kepada Dewa Shiva dan Dewi Parwathi untuk mengadakan sayembara adu kekuatan dan kecerdasan. Dewi Parwathi menyetujui dan merestui serta menilai sayembara itu dengan format siapa yang bisa lebih cepat mengelilingi dinia tiga kali putaran dialah yang berhak sebagai dewa yang dipuja pertama.
Lalu sayembara dimulai, Dewa Kartikeya memanggil kendaraan-Nya yaitu burung merak yang bernama Sudharman, lalu terbang mengelilingi dunia. Kemudian Dewa Ganesha mulai juga berjalan kaki, tubuhnya gempal pendek, perut buncit tentu tidak bisa secepat Dewa Kartikeya, hingga sangat mengkhawatirkan para dewa yang sedang menyaksikan sayembara itu.
Saat terengah-engah seperti itu, Dia ingat saat bertanya kepada Ibu-Nya, siapa sebenarnya “ayah dan ibu-Nya”. Saat itu Dewi Parwathi menjawab bahwa Ayah dan Ibu-Nya adalah Alam Semesta ini dan Penguasanya.
Ingat terhadap cerita kebenaran ini, kemudian Dewa Ganesha bergegas mengelilingi Dewa Shiva dan Dewi Parwathi yang sedang berdampingan menyaksikan sayembara. Selama tiga kali, lalu bersujud dikaki Ayah dan Ibu-Nya sebagai akhir sayembara. Lalu disusul oleh Dewa Kartikeya. Keduanya lalu menunggu keputusan pemenang, dalam suasana yang menegangkan itu akhirnya Dewi Parwathi memutuskan kemenangan diperoleh Ganesha. Dengan argumen bahwa sifat-sifat Dewata adalah disamping memiliki kekuatan yang cukup, harus memiliki kecerdasan yang tinggi dan kesucian jiwa yang selalu bervibrasi. Ganesha melakukan itu sebagai refleksi kekuatan dan kecerdasannya serta bersujud tunduk di Kaki Padma Yang Maha Kuasa (kesucian).
Segala sesuatu perjuangan untuk peningkatan status kedewasaan jasmani dan rohani yang ingin dicapai, tidak bisa luput dari perjuangan dan ujian “nyata” dan “tersembunyi”, yang mesti dijawab oleh kecerdasan perilaku yang bermuara dari kesucian, sadar memuja serta memuliakan-Nya. Ketika sudah demikian kebenaran dan kesucian bersatu padu menjadi anugrah meresapi jiwa dan raga. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments