Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“CERDAS SAJA TIDAK CUKUP”

Oleh:  I Ketut Murdana (Minggu :  16 April 2023).

Badung (Cahayamasnews.com). Orang-orang “cerdas” dilahirkan, karena sangat dibutuhkan dalam mengkonstruksi setiap jaman, untuk membangun peradabannya. Menjadi budaya hidup jamannya. Ragam artefak sebagai rekaman peristiwa kehidupan dan tumpukan gunung suratan naskah pengetahuan merupakan prestasi dan keunggulan suatu peradaban yang selalu berkembang. Karena berkembang sudah tentu berubah wujud dengan aneka variannya.

Dibalik catatan itu masih banyak tersembunyi naskah-naskah kebajikan yang larut luluh meresapi jiwa-jiwa sebagian besar umat manusia, menjadi panduan hidup dalam kehidupan. Mereka tidak perlu lagi membaca teks, tetapi teks itu sudah prilaku budayanya. Ada yang menyebutnya adat, tradisi, budaya, keyakinan, dan lain sebagainya.

Sekarang kebenaran ini disebut tradisi bertutur, entahlah, apakah sebutan kata ini bisa mewakili…tentu terbuka peluang untuk menafsirkan kembali..membingkai suatu realitas melalui terminologi tertentu, hingga perlahan bisa atau akan menjadi “kebenaran”. Melalui realitas ini ruang tafsir bisa menjadi pintu…untuk mencapai kebenaran. Dengan demikian “kualitas tafsir” menentukan “kualitas kebenaran”. Persoalan inilah menimbul dinamika sosial yang amat beragam. Akibat semua ini menimbulkan pergolakan ideologis tafsir menafsir dengan kekuatan ego masing.

Ketika realitas kehidupan masuk ke dunia tafsir tanpa “keyakinan” kosmologis yang kuat maka kekuatan superior akan mendominasi, menjadi “kekuatan kuasa yang memperoleh kuasa”. Kekuatan kuasa ini diagungkan, dimuliakan lalu ingin dipermanenkan bagi yang memperoleh kenikmatan dan sejenisnya. Demikian pula pada sisi yang lain “Kekuatan kuasa” itu  dirongrong bahkan ingin dirobohkan bagi yang tidak memperoleh energi nikmat apapun yang mengaliri dan meresapinya.

Menyebabkan reaksi penolakan, yang dimaknai sebagai “perjuangan”. Kedua kutub (dualitas) ini bergerak dinamis, selalu bergulir mewarnai peradaban yang tak terhindarkan oleh siapapun. Ketika kedua kutub selalu ingin memenangkan, tetapi kekalahanpun juga tak terhindarkan. Maka keadilan semesta mengatur dinamika dualitas ini melalui “Kuasa Sang Waktu”. Dalam agama Hindu rangkaian Sang Waktu itu diatur dalam Catur Yuga (Kertha Yuga, Treta Yuga, Dwi Parayuga dan Kaliyuga).

Betapi adilnya Penguasa Alam Semesta terhadap seluruh ciptaan-Nya, hingga jiwa-jiwa bijak “memandang bila kalah dalam persaingan dimaknai sebagai kemenangan yang tertunda”. Itu artinys sadar dualitas berorientasi sadar diri. Pandangan sikap seperti ini menempatkan bahwa kita harus “cerdas” dan “bijak” menghadapi putaran Sang Waktu. Kerajaan Majapahit berjaya pada jamannya, lalu runtuh kemudian berganti jaman dan merdeka menjadi Negara Republik Indonesia.

Pemimpin-pemimpin bangsa ini Soekarno, Soeharto, Gus Dur dan seterusnya tidak terlepas dari rongrongan lawan politiknya hingga turun dari kekuasaannya. Memaknai realitas duniawi ini, bahwa kecerdasan memandang realitas dan menginginkan realitas baru, sebagai “refkeksi kecerdasan” patut tumbuh, yang dianggap lebih baik adalah upaya atau angan-angan atau persepsi-persepsi yang mendorong gerak prilaku karma untuk berjuang sekuat tenaga, pikiraran serta kecerdasannya. Akibat dari perjuangan itu, banyak yang berhasil dan banyak pula yang gagal.

Bagi ideologi tertentu yang telah memperoleh kemenangan berjuang terus untuk mempertahankan, memperkuat stabilitas untuk selalu unggul. Disinilah letak kesulitan, pada umumnya usia kemenangan itu pasti diikuti oleh “kelengahan” yang merongrong kecerdasan atau kecerdasan merongrong dan kekuatan permainan untuk menguntungkan diri diri sendiri. Akibatnya perlahan merongrong tubuh ideologi menjadi keropos lalu ambruk dan tumbang ke bumi.

Realitas kebenaran ini benar-benar menguasai panggung perhelatannya saat ini. Oleh karena itu kecerdasan saja tidak cukup, tanpa disertai kesucian jiwa, untuk mengatur nikmat duniawi (Dharma, Artha, Kama dan Moksa) membawa Sang Jiwa menuju kebijaksanaan tertinggi Sang Maha Bijaksana. “Menjadi kemenangan yang mendamaikan”. Sangat sulit berbicara kebenaran ini di Zaman Kaliyuga ini, tetapi wajib diperjuangkan oleh siapapun. Karena siapapun juga berasal dari sumber yang sama. Bila membiarkan diri pada kecerdasan yang dikuasai sifat asura, maka pada puncak kecerdasan sombong, seolah-olah benar. Karena banyak menyebut  senjata pemungkas, yang kurang paham menggunakan. Bagaikan Aswatama menggunakan senjata Brahmastra yang justru menghancurkan dirinya.

Apabila sudah demikian, energi suci semesta hadir menumbangkan, lewat siapun yang taat dan tulus memperjuangkannya. Realitas kehadiran-Nya lewat energi suci tersembunyi ini, semakin kuat membuktikan kehadiran sifat kuasa-Nya Yang Maha adil menegakkan dharma. Oleh karena itu, kembalilah ke jalan dharma agar selamat dilindungi dharma. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments