September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Penyatuan Kecerdasan Intelektual dengan Kebijaksanaan”

Dipetik dari Bhagavad-Gita, IX, 1 (Tuhan Melibihi Ciptaan-Nya).

Oleh: I Ketut Murdana (Kemis: 31 Desember 2023)

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Betapa jauh dan tak terhubung kebesaran kasih-Nya, pada jiwa-jiwa orang yang penuh kegelapan, tidak bisa “melihat dan merasakan kebenaran dan kesucian Ilahi”, menghina sifat kemaha kuasaan dan keberadaan-Nya yang mempribadi, berwujud “Sad” berbadan manusia berjiwa Ilahi, bergerak mewujudkan dan menata dharma kembali di bumi.

Realitas kini menunjukkan bahwa semaraknya pembulian, penghinaan, pelecehan kepada orang-orang Suci, agama-agama dunia, Guru Wisesa pemimpin bangsa, untuk “kepentingan tertentu” diantarkan oleh kecanggihan teknologi hingga cepat menyebar keseluh jagat raya. Kesantunan moral etika telah tertinggal jauh di dasar bumi. Walaupun mereka itu konon berintelektual tinggi, tetapi membiarkan pikirannya dikuasai ambisi-ambisi egoistik keasuraan.

Entahlah ambisi itu datang dari dalam diri atau tunggangan ambisi asura lain. Bagaikan Mahapatih Marica, yang diminta oleh Rahwana untuk mengubah diri menjadi seekor kijang emas menggoda Dewi Sitha. Walaupun Marica sudah tahu apa yang akan dilakukannya adalah sia-sia belaka, karena dia telah menyadari bahwa Dewa Narayana telah hadir berwujud Sri Rama menegakkan dharma kembali ke bumi. Kecerdasan Marica adalah memilih kematiannya, lebih baik dibunuh Sri Rama seorang Awatara, dari pada dibunuh Rahwana yang penuh keangkaramurkaan, akhirnya melaksanakan perintah Raja Rahwana.

Membebaskan diri dari dinamika lika-liku atmosfir kegelapan inilah, ruang dan semangat perjuangan dharma, hingga Arjuna dicerahkan saat keraguannya memuncak untuk melaksanakan kewajiban memerangi sifat-sifat adharma. Pencerahan suci kebijaksanaan yang membebaskan Arjuna dari keragu-raguan menjadikan lahirnya “kesadaran” hakekat Sang Diri Sejati, terhadap kewajiban pelayanan dharma kesatria kepada Dharma-Nya.

Saat-saat seperti itu akumulasi pengetahuan ilmiah intelektual nan filosofis dan pengetahuan rohani spiritual yang mencerahkan menjadi satu kesatuan utuh. Peranan intelektualitas berpikir dan bernalar (Cintya) terkondisi menjadi keimanan kuat nan tulus ikhlas meresapi jiwa hingga merasakan kebenaran-Nya, yang amat membahagiakakan (Acintya).

Saat itu keraguan sirna berubah menjadi energi, berguna untuk kebesaran dharma dan selalu melayani dharma. Berbeda bahkan berlawanan dengan asura, mereka sangat kuat bertapa, untuk memperoleh berkat kekuatan dari Para Dewa, lalu berjuang untuk menguasai dunia yang bertentangan dengan hukum Ilahi semesta.

Merenungi realitas dan dinamika ini amat penting, agar refleksi kecerdasan intelektual dan kebijaksanaan rohani spiritual bersatu teguh dalam diri setiap insan, hingga bisa memberi dan membangun negara dan bangsa demi kesejahteraan rakyat. Ketika arahnya sudah demikian, kedamaian pasti tercipta dan pemimpin pasti juga dihormati oleh rakyat. Kapankah itu akan terjadi…?, jawabannya; ketika kesadaran swadharma menuju dharma, dan para dharma tumbuh dan berkembang pada sebagian besar orang-orang di muka bumi ini. Oleh karena itu berbuat kebajikan, sedikit demi sedikit jauh lebih mulia dari pada hanya menuntut.

*** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!