
“AURA KASIH”
KESADARAN DIRI MENGHADAPI KEHIDUPAN DUNIAWI
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis, 19 Oktober 2023).
Badung (Cahayamasnews.com). Bila atman atau kesadaran diri, tenggelam dalam kenikmatan indriya-indriya duniawi, maka keyakinan diri dan keyakinan kepada-Nya akan semakin kabur. Kabur adalah awal kuasa kegelapan (tamasika). Swadharma bergerak untuk melayani indriya-indriya napsu dan ego. Akibatnya, pengetahuan dikuasai ego menjadi pembenaran angkuh, berdalih-dalih kebajikan, berbicara cerdas tetapi luput energi suci membahagiakan. Mengakibatkan semakin runtuhnya kepercayaan diri, karena apa yang dilaksanakan dengan apa yang dikatakan tidak nyambung bahkan bertolak belakang.
Cerdas berbicara kebenaran, tetapi mengabaikan laksana kebajikan dan penyerahan diri. Sekarang dominasi arus gelombang ini, sedang menguasai panggung dunia, karena inilah permukaan yang dibanggakan. Karena kejernihan pandangan itu tidak mampu menembus kegelapan jaman. Oleh karena itu ukurannya hanyalah yang yang kasat mata, terditeksi indriya-indriya saja. Amat sulit menyadari kebenaran ini, karena kesadaran diri tenggelam dan menjadikan tidur lelap.
Oleh karena itu terjadilah jiwa-jiwa penakut dengan berbagai alasan. Sesungguhnya itu adalah cerminan “ketakutan jiwa” yang sedang dirundung atau terpenjara dalam kegelapan napsu dan ego. Ketakutan itu merupakan penderitaan, sampai kapan sinar suci pengampunan memperoleh celah ditengah-tengah ikatan napsu duniawi itu, “keluar sebagai kesadaran”, menembus mencapai sinar suci Ilahi.
Ketika celah-celah itu terbuka, maka segala angan dalam bentuk napsu duniawi itu “dirontokkan menjadi penderitaan yang menyedihkan”. Saat itulah Sang Kesadaran Diri sibuk mencari gelombangnya. Gelombang yang dikejar secara rahasia itu tiada lain adalah gelombang yang disebut energi suci yang dikuasakan kepada Guru. Ketika itu sudah terjadi barulah proses awal dimulai. Artinya mulai menanam benih kebajikan yang diantarkan olah pengetahuan suci dan Guru.
Saat-saat seperti inilah kesadaran kosmologis mesti ditempatkan sebaik-baiknya hingga mampu melewati proses peleburan masa lalu dan kini sebagai awal mula memasuki dinia baru yang berpengetahuan suci dalam kasih tuntunan-Nya. Memahami realitas kebenaran itu, menjadikan seseorang paham akan prinsip-prinsip peleburan dan penciptaan baru dalam penyempurnaan. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments