September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SENYUM HARAPAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Selasa:  19 Desember 2023).

Akhir-akhir ini kita menyaksikan sajian aneka senyum manis nan indah, berdandan serta berbusana apik, agar mudah diingat. Berbagai gaya dan karakter di sepanjang jalan, perpadu dan bersaing dengan indahnya pertamanan kota dan keindahan alam lingkungan sekitarnya. Menjadi keindahan berinstalasi baru, walaupun tak luput dari suasana semrawut.

Menawarkan “tawarannya” entahlah kejituan gagasan yang disiapkan untuk menarik jarum panjang bertali, untuk menembus gambarnya. Karena dari jumlah tusukan itu menjanjikan singasana berlian, walaupun panas terbakar api rebutan dan persaingan. Walaupun demikian tetap menjadi gaya tarik, karena jiwa-jiwa kesatria patut berjuang mempersembahkan keunggulan masing-masing, demi terciptanya pemimpin-pemimpin harapan bangsa. Mengayomi rakyat, melindungi yang lemah, mencerdaskan bangsa, mengantisipasi derasnya kehancuran alam lingkungan dengan segala isinya, sesuai ruang, waktu dan kapasitasnya masing-masing. Dan seterusnya, persoalan antar bangsa, mengantisipasi penjajahan model baru melalui kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan perubahan yang serba cepat menguasai dunia.

Ketika melihat persoalan besar bangsa ini, baik urusan ke dalam negeri maupun keluar negeri, berhubungan antar bangsa di dunia, tentu senyum ceria dalam bersaing mesti berfokus ke arah itu. Karena di ruang itulah “singasana yang sesungguhnya”. Karena singasana saat ini adalah “singasana bergerak”, bagaikan Arjuna berada di dalam kereta perang yang dikusiri oleh Sri Krishna. Setiap detik harus waspada mengantisipasi serangan lawan. Artinya lawan bukan dalam arti fisik tetapi lawan dalam arti kecerdasan bermain dalam persaingan. Sudah saatnya apa yang diajarkan Tuhan melalui kitab suci mesti dilaksanakan dengan baik dan benar, hingga kehadiran-Nya benar-benar dirasakan memberi petunjuk mencapai kemenangan atau kejayaan negeri dan bangsa.

Bukan memainkan dukungan rakyat, mengkhianati, lalu berbelot dari kejujuran sikap berbangsa, mengkonstruksi gagasan-gagasan untuk kepentingan pribadi, menduduki singasana berlian saja. Bukan sekadar berdalih mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat, lalu hanya berebut kekuasaan untuk keunggulan diri dan kelompoknya saja.

Senyum sambutan suara rakyat, adalah awal terbentuknya sikap dan semangat serta dukungan pembangunan. Walaupun tidak semua rakyat menyadari sepenuhnya arti sebuah dukungan. Oleh karena itu, memerlukan edukasi kesantunan berpolitik dari seluruh rakyat dari hulu ke hilir. Akibatnya banyak yang terjebak pada lembaran-lembaran angka, dan bungkusan-bungkasan siap saji tertentu, yang berlaku hanya sesaat saja. Ranah-ranah dan realitas ini tetap menjadi perhitungan dan kendali arah serta edukasi yang benar. Walaupun penanganan masalah ini tidak mudah, karena wilayah kesuraman moral ini tetap menjadi permainan, hingga seolah-olah menjadi tradisi.

Memaknai realitas kondisi dan meredam kemiskinan rohani inilah masalah yang selalu bergulir, memerlukan penangan serius. Tentu saat itulah ujian senyuman itu terjadi. Apakah tetap ceria penuh kasih ataukah akan tenggelam dalam kesuraman rohani. Itulah perjuangan dalam perlawanan menerangi kesuraman menjadi terang benarang. Bila realitas itu semakin terang, sajian awal senyum manis akan menjadi senyum kasih sayang yang mensejahterakan dan mendamaikan masyarakat. Karena Pemimpin Bangsa adalah Bapak dan Ibu dari anak-anak bangsa, bukan hanya mementingkan anaknya sendiri, sehingga senyuman pemimpin bangsa adalah senyuman anak-anak bangsa.

Demikian pula susuai kisah purana, saat Aswatama irihati dengan sikap dan prilaku ayahnya Guru Drona, yang dipandang lebih memperhatikan Arjuna dari pada dirinya. Saat itulah Guru Drona menjawab bahwa sifat irihati itu tidak baik, karena akan dapat menutupi dan mengaburkan kebenaran. Sikap Guru Drona memberikan perhatian lebih kepada Arjuna, karena Arjuna sangat cerdas mengembangkan perhatiannya terhadap materi pendidikan yang diberikan. Lalu Guru Drona juga menjelaskan bahwa perhatian dan kasih sayangnya kepada muridnya selalu sama. Saat itu juga sesuai perjanjian Aswatama bahwa di Pasrama dia lebih senang sebagai murid. Oleh karena itu, Guru Drona menempatkan kewajibannya sebagai Guru para Kesatria Astinapura sebagai “pertapaannya”. Artinya “penyempurnaan diri melalui kewajiban yang sesungguhnya”. Tetapi di rumah sebagai ayah adalah sepenuhnya untuk Aswatama. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!