September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEWENANGAN Dan KECERDASAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Senin: 8 Januari 2024).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Saat ini dunia berpikir, dialog dan etika struktural dikacaukan oleh “emosi kecerdasan hingga merasa paling cerdas”. Akibat cerdas komentar tetapi tidak tunduk pada hak dan kewajiban, etika dan sopan santun serta kejujuran. Agar tidak mati kutu dengan kritik tajam berapi-api, lalu ditembak fakta kejujuran lalu bungkam seribu bahasa. Bagaikan komentator pertandingan sepak bola, selalu merasa lebih pintar dari pemain dan sangat mudah menyalahkan, tetapi itu tetaplah komentar, keunggulan permainanlah yang menetapkan kemenangan maupun kekalahan. Permainan, kritik, dan komentar sesungguhnya saling memerlukan, dalam batas upaya penyempurnaan, melalui sajian normatif, etikan, dan sopan santun. Mencirikan peradaban keluhuran yang berpengetahuan.

Pemimpin sudah semestinya dikritisi dengan data-data obyektif, bersifat membangun dengan semangat persatuan, tetapi bukan dihina dan dicaci maki sesuka hati saja. Kekaburan makna dan sikap kritis dengan penghinaan ini sedang merundung atmosfir peradaban langit Nusantara saat ini, seolah lebih mampu memimpin dan menyelesaikan semua masalah. Realitasnya sejauh perjalanan sejarah bangsa ini, setiap pemimpin tetap saja menyisakan masalah-masalah yang memerlukan penyempurnaan berikutnya. Itu artinya manusia terbatas, oleh karenanya ada saja yang luput dari jangkauan ingatan dan kerjanya.

Oleh karena demikian kecintaan jiwa-jiwa seluruh rakyat kepada Ibu Pertiwi Nusantara masih memerlukan penyadaran demi penyadaran, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara, sadar memberi dan mengisi kekurangan, adalah kewajiba. Agar pada saatnya bisa mencapai kejayaan dan kemakmuran. Secara teoritik barangkali sudah tahu sperti itu, mengapa sulit sekali melakukan kebenaran ini, berarti ada ketidak seimbangan berpikir dan prilaku yang mesti sadar bersama-sama memperbaiki dari sudut pandang keimanan dan kebajikan

Realitasnya persoalan program pembangunan berlanjut inilah lebih menempatkan dan dikuasai ego-ego sektoral serta personal menjadi beban besar dari sudat pandang moralitas. Penghormatan jasa-jasa pemimpin sebelumnya, dikaburkan bahkan dikubur berganti nama menghabiskan biaya yang tidak sedikit, demi konstruksi-konstruksi jasa-jasa politis demi konstruksi “sebuah nama”.

Semua itu hanya bertendensi menonjolkan diri sendiri berdimensi ragam motif  dan merasa tinggi berdiri di atas masalah itu sendiri. Itu artinya kecerdasan berkedok edukasi dan demokrasi melampaui kewenangan dan etika kesantunan. Kemunafikan seperti ini amat sulit  dikendalikan dan selalu muncul sebagai pengukuhan jasa sendiri.

Tentu sangat berbeda bila bersentuhan dengan moralitas kebijaksanaan dan kesucian moralitas pemimpin yang sudah semestinya diteladani. Ketika pemimpin yang berwatak asura, disinilah letak persoalan besar bagi bangsa, memerlukan perjuangan dan doa perlindungan yang kuat dari Yang Maha Kuasa. Karena melalui doa-doa kesucian adalah kejujuran, ketenangan, keteguhan, kebijaksanaan yang tidak bisa digoyahkan, tetapi menerangi semua aspek kehidupan walaupun tidak diketahui dan dirasakan oleh jiwa-jiwa semua orang.

Mempelajari kewajiban adalah mempelajari hak dan kewenangan, karena puncak kewajiban adalah anugrah kewenangan itu sendiri dari Yang Kuasa. Persoalan ini adalah proses kehidupan dan pendakian spiritual bila disadari. Bila los kontrol kesadaran akan melihat masalah sebagai kasat mata lalu terbius isu-isu murahan yang terkadang muncul dari kecerdasan emosi tidak suka alias “kebencian” yang menjadi standar berpikir berkedok kritis. Seolah-olah jujur, tetapi menggendong bermacam-macam kepentingan. Seolah-olah belajar tetapi hanya mencuri pengetahuan. Dimensi inilah amat samar bergelora menyusupi jiwa siapapun yang lemah. Oleh karena itu kewajiban dan kewenangan perlu disadari, pelaksanaannya perlu saling mengingatkan dalam batas-batas etika dan sopan santun, sesuai ajaran  etika kesantunan yang dituangkan dalam ajaran tattwamasi yaitu: membahagiakan orang lain adalah membahagiakan diri sendiri, demikian sebaliknya.

Walaupun mewujudkan realitas kebenaran ini mendapat tantang yang sangat besar, terutama dari jiwa-jiwa angkuh yang mementingkan diri sendiri. Walaupun bisa terpuaskan tetapi bisa gelisah tanpa rasa bahagia. Mengakibatkan kebingungan mencari kesana kemari, kehabisan energi yang dinikmani hanyalah kesenangan sesaat, lalu gelisah lagi. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!