
“AURA KASIH”
“DUNIA INDRIYA-INDRIYA”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis: 18 Januari 2024).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika cita-cita hidup dipenuhi oleh hasrat material, lalu menguasai seluruh indriya, dan mengungkung kesadaran spiritual yang mengantarkan jalan penyempurnaan. Akibatnya kekhawatiran demi kekhawatiran atas dinamika situasi maju mundurnya gerak konstruksi dan formulasi indriya-indriya seringkali dirasionalkan, lalu menjadi pembenaran-pembenaran perilaku, yang berakibat menjauhkan etika dan kesopan santunan sebagai nilai-nilai esensial kehidupan di dunia ini. Realitas gelombang berpikir dan berperilaku yang menyesatkan inilah mengungkung unsur-unsur jiwa lainnya. Yang sesungguh menjadi pilar-pilar penguat dan penyempurna perilaku spiritual mencapai “tujuan hidup sejati”
Dalam posisi seperti itulah indriya dikendalikan sifat-sifat asura gelap yang selalu menggelapkan dan menggagalkan perjuangan meluhurkan keimanan umat manusia. Sesungguhnya itu juga bisa berkembang pesat di dalam diri sendiri bila menjadi pembiaran karena tidak dapat mengenalinya. Kecerobohan yang menyesatkan semacam inilah saat ini, semakin banyak penganutnya.
Dengan berbagai ciri khas mengidentitas membentuk pilar-pilar penguat zaman Kaliyuga. Itu artinya, indriya-indriya yang membutakan selera semakin kuat membungkus kesadaran diri yang sejati yaitu sifat suci Tuhan yang bersemayam dalam diri. Dinamika inilah bergerak sebagai pirus yang menggerogoti mental dan keimanan spirit yang bergerak halus semakin sulit dikendalikan. Ruang terbuka yang juga disebut hak asasi kebebasan, menjadi wahana keyakinan berpikir dekonstruktif yang sekarang sedang melanda dunia.
Penderitaan itu disadari setelah energi penopangnya telah rontok hancur berantakan. Itu artinya, kekuatan artifisial yang belum dikonstruksi hidup bergerak bersama alur kebenaran alam semesta (Dharma, Artha, Kama, dan Moksa). Kecerdasan cara berpikir yang menempatkan logika rasional sebagai penguat kendali segalanya. Ketika sudah demikian sulit dibedakan antara kesenangan dan kebahagiaan walaupun keduanya menyatu dan juga berbeda.
Bhagawadgita mengajarkan pikiran mesti dikendalikan oleh jiwa yang suci, agar mampu mencapai “kemenangan” mencapai tujuan hidup sejati. Walaupun ajarannya ada tetapi belum banyak yang membutuhkan dan menghayati ajaran kebenaran itu, sehingga kebiasaan-kebiasaan dijalankan dengan panatisme yang kuat berlebihan dianggap sebagai kebenaran. Walaupun pada sisi yang lain, realitas telah dikuasai dan diikat oleh produk-produk kecanggihan teknologi yang memperluas informasi dan cakrawala berpikir.
Realitas ini membuat siap berubah memasuki karakternya atau tertinggal mendongak, bagaikan menonton pesawat terbang di langit. Kemunafikan mesti diredakan dan perlahan dihapus agar sadar realitas serta siap memaknai untuk penyempurnaan mencapai tujuan hidup sejati. Itu artinya, indriya-indriya dibuka dengan baik dan seluas-luasnya agar mampu memaknai selera duniawi, tetapi terkendali oleh kekuatan energi suci yang menyempurnakannya.
Menyadari kebenaran ini Idriya akan menjadi besar, lalu berguna menjadi kekuatan penopang kebahagiaan dan kedamaian, diri sendiri dan semesta raya. Perjuangan panjang yang tidak mudah ini, menjadi medan pergulatan manusia di dunia ini, yang diajarkan kitab suci. Sadar berjuang demi penyempurnaan diri adalah alur kebenaran semestanya. Kapan akan tercapai bukan jawaban sang pejuang, karena menempatkan kewajibannya pada perjuangan. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments