
“AURA KASIH”
“DEWI KEIKEYI DAN DEWA BHARATA”. “Diantara Ambisi Kekuasaan dan Kesetiaan”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo, 14 Pebruari 2024).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Keteguhan iman Dewi Keikeyi sebagai permaisuri Raja Dhasaratha yang sangat harmonis diantara ke empat permaisuri raja dan juga putra-putranya. Perjalanan hidup tidak hanya berhenti pada nikmat kesenangan dan keharmonisan, tetapi benih-benih indriya, napsu, ego dan keinginan yang tak terkendali, bisa datang menggoda setiap saat. Saat itu pula gelombang badai napsu penuh ambisi datang menerjang ketulusan dan keimanan Dewi Keikeyi, akibat disulut terus menerus oleh propokasi si tua bungkuk Manthara, untuk menuntut janji kepada Raja Dhasaratha. Saat itu kelembutan seorang dewi berubah menjadi keras, egois dan menyeramkan.
Betapa pentingnya kewaspadaan memahami takdir ketika bekerjasama dengan kejahatan, siapapun bisa rusak dan terjerumus ke dalam kegelapannya. Janji kesetiaan raja yang telah terpendam lupa di dasar ingatan, meledak membakar hati raja dan suasana duka kerajaan Ayodya. Perjanjian terjadi ketika Dewi Keikeyi pernah menolong dan menyelamatkan Raja Dhasaratha saat tertembus panah-panah Raja Sambara, ketika berperang melawannya, yang kesaktiannya tidak bisa ditundukkan juga oleh Dewa Indra.
Saat itulah Raja Dhasaratha berjanji akan mengabulkan dua permintaannya. Tetapi saat itu Dewi Keikeyi tidak memintanya, tetapi akan memintanya kelak pada saat yang tepat. Perjanjian ini dimanfaatkan oleh Mantara untuk menyulut ambisi Dewi Keikeyi. Lalu perginya Bharatha ke kerajaan pamannya dipandang sebagai upaya Raja Dhasaratha untuk menyingkirkan Bharatha dari Kerajaan Ayodya. Kedua situasi ini dimanfaatkan sebagai senjata ampuh menyulut Dewi Keikeyi, agar bisa mengubah keadaan di Kerajaan Ayodya, yang merupakan kebanggaan Dinasthi Rhagu yang dikenal dunia tentang kemasyurannya.
Sulutan bara api kekuasaan itu, mengubah tempramen Dewi Keikeyi, mengaburkan struktur hukum dan etika kerajaan serta kedamaian keluarga yang semestinya diwarisi oleh Sri Rama. Dewi Keikeyi memainkan perannya, sesuai perjanjian, mengabaikan struktur kepatutan sesuai aturan kerajaan. Detik-detik akhir saat Sri Rama ingin dinobatkan menjadi Raja Ayodya, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Dewi Keikeyi untuk mengubah keadaan. Saat itulah si tua bungkuk Manthara menang. Seketikan itu pula Si Manthara terlihat cantik berbinar di mata Dewi Keikeyi.
Dinamika ini membuat Raja Dhasaratha berada dalam terjangan dua gelombang badai besar, diantara kejujuran atas perjanjian pribadinya dan hukum ketata negeraan (Kerajaan) yang menjadi pertaruhannya. Kedua masalah ini amat sulit diputuskan, akhirnya Raja menghadapi tekanan psikologis yang amat berat, memikirkan dua (2) permintaan Dewi Keikeyi yaitu: menjadikan Bharatha sebagai raja dan membuang Sri Rama ke dalam hutan selama empat belas (14) tahun. Akibat masalah ini membuat Raja Dhasaratha jatuh sakit dan linglung duduk di Singasana Kerajaan.
Lalu Raja menyuruh Perdana Menteri Sumanta untuk memanggil Sri Rama, untuk menghadap raja. Sri Rama segera menghadap raja dan menemukan situasi yang tidak kondusif diantara Dewi Kekayi yang penuh ambisi dan Raja Dhasaratha yang sedang linglung. Raja tidak bisa berbicara sepatah katapun kepada Sri Rama, lalu Dewi Keikeyi menyampaikan penyebab sakit dan linglung ayahnya, hanya keputusan Sri Rama lah obatnya.
Lalu Sri Rama sedikitpun tidak ragu, melaksanakan printah sesuai permintaan Dewi Keikeyi, untuk menghormati penjanjian raja dan bhakti yang tulus kepada ayahnya. Setelah merundingkan keputusan itu kepada ibunya Dewi Kosalya, Sitha dan Laksamana, lalu mereka pergi ke dalam hutan berbusana seperti pertapa.
Selanjutnya penobatan Bharatha sebagai Raja (Yuwaraja) terlaksana walaupun Bharatha saat itu tidak ada dikerajaan. Beberapa hari kemudian sakit Raja Dhasaratha semakin parah lalu wafat. Saat itulah Bharatha datang dan menyaksikan keadaan itu dengan penuh tanda tanya yang membingungkan. Setelah memperoleh informasi selengkapnya Bharatha marah dan sedih sejadi-jadinya, kepada Dewi Keikeyi dan Manthara yang menyebabkan duka mendalam di Kerajaan Ayodya. Tetapi Bharatha menolak semua keinginan Ibunya yang bertentangan dengan prinsip dharma dan cinta kasih serta kesetiaannya kepada Sri Rama. Lalu meminta pertimbangan kepada Raja Janaka ayah mertuanya. Saat itu Raja Janaka memberi nasehat untuk melakukan sesuatu yang terbaik untuk menghormati Sri Rama, sebagai wujud bhakti dan cinta kasihmu.
Karena cinta kasih itu amat luas tak berujung pangkal, kewajibanmu dalam situasi seperti ini adalah persembahan yang membuat Sri Rama senang dan bahagia. Mendengar nasehat itu, lalu Bharata datang ke hutan menemui Sri Rama. Walaupun sesaat kehadirannya menyusul ke hutan dianggap menyerang Sri Rama oleh Laksamana. Tanggapan ini diluruskan oleh Sri Rama, bahwa Bharatha memiliki cinta kasih kesetiaan yang luar biasa kepada dirinya. Kehadiran Bharatha menemui Sri Rama justru meminta maaf atas kesalahan Ibunya Dan Manthara. Lalu mohon kepada Sri Rama agar pulang ke Ayodya menjadi raja. Tetapi Sri Rama tidak mau mengingkari hutang janji ayahnya. Lalu meminta Bharatha untuk memerintah Ayodya atas namanya.
Mendengar wejangan Sri Rama itu Bharatha terkejut, dan menolaknya karena merasa tidak mampu memimpin kerajaan besar yang sudah termasyur itu. Sri Rama tetap menguatkan sikap Bharatha, agar selalu meminta petunjuk Guru Suci Wasistha dan Perdana Menteri Sumanta serta seluruh petinggi kerajaan untuk menjalankan roda pemerintahan dengan baik Akhirnya Bharatha menyanggupi dengan permohonan bahwa selama empat belas tahun akan melaksanakan roda pemerintahan kerajaan atas nama Sri Rama.
Saat itu pula Bharatha memohon Terompah Sri Rama untuk distanakan di Singasana Kerajaan sebagai simbul kekuasaan atas nama Sri Rama. Saat itu pula Bharatha bersumpah bila sehari saja Sri Rama lewat perjanjiannya Dia akan membakar dirinya. Kesepakatan ini sangat diperhatikan oleh Sri Rama, lalu dijawab dengan senyum bahagia dan berpelukan antara “Yang” memuliakan dengan “Yang” dimuliakan menjadi kebahagiaan yang tiada tara. Itu artinya “Bharatha telah menang”
Memaknai narasi kisah suci ini, tentu dapat membangkitkan nilai-nilai spirit kebenaran dan cinta kasih serta kesetiaan, yang sedang meluntur bahkan erosi drastis dalam zaman Kaliyuga ini. Oleh karena itu betapa pentingnya menyimak dan menyegarkan bersama-sama pendamba-pendamba kebajikan, agar mutiara-mutiara kebenaran bersinar menerangi kehidupan ini. *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments